Rabu, 12 Desember 2018


Ekspor Teh Capai Rp 1,5 Triliun, Daya Saing Harus Meningkat

17 Nov 2018, 09:56 WIBEditor : GESHA

Ekspor semakin meningkat, daya saing produk teh seharusnya meningkat | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

Saat ini baru 1 produk teh Indonesia yang punya daya saing terbaik yaitu Teh Java Preanger

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Komoditas Teh turut berkontribusi terhadap perekonomian nasional melalui ekspor. Sayangnya, daya saing teh masih berjalan di tempat.

Data dari Ditjen Perkebunan menyebutkan ekspor teh meningkat 1 persen dari tahun 2016 sebesar Rp. 1,51 triliun menjadi Rp. 1,53 triliun pada tahun 2017, 

Bahkan sampai dengan September 2018, kontribusi ekspor teh sudah mencapai Rp. 1,23 triliun. 

“Rusia, Malaysia dan Pakistan adalah 3 negara tujuan ekspor teh Indonesia dengan kontribusi mencapai 41 persen," tutur Dirjen Perkebunan, Bambang.

Bambang membeberkan, secara rata-rata pertumbuhan areal dan produksi nasional 2014-2017 menurun.

Tetapi di tahun 2018 mulai menunjukkan peningkatan terutama produksi dari 139,36 ribu ton menjadi 140,23 ribu ton sampai dengan September 2018.

Tentunya, diharapkan untuk memajukan teh nasional dibutuhkan sinergitas dan peran semua pihak, terutama petani dan industri untuk meningkatkan daya saing teh nasional.

"Karena menurut amanat UU, petani teh wajib hukum nya bermitra dengan industrinya," ringkas Bambang.

Tercatat, hingga saat ini baru 1 produk teh Indonesia yang punya daya saing terbaik yaitu Teh Java Preanger yang sudah mendapat sertifikasi Indikasi Geografis pada tahun 2015 lalu.

"Mari kita tingkat kan mutu teh Indonesia, saya harap peran Dewan Teh Indonesia untuk mendorong munculnya teh Indonesia yang ber-IG dan memiliki kualitas sesuai dengan permintaan pasar," himbau Bambang

Selama 5 tahun ini, bentuk perhatian dan komitmen Menteri Pertanian dalam pengembangan komoditas perkebunan sangat tinggi terutama untuk mengangkat produksi teh nasional.

”Selama 2014-2019 untuk pengembangan teh, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan mengalokasikan pengembangan teh seluas 11.310 hektar yang terdiri dari intensifikasi 6.870 hektar dan rehabilitasi 4.440 hektar," jelas Bambang

Lokasi pengembangan tersebut dipilih sesuai lokasi yang ditetapkan Menteri Pertanian menjadi kawasan pengembangan teh nasional salah satunya provinsi Jawa Barat dengan kontribusi produksi teh nasional mencapai 71 persen. 

Adapun kebijakan Ditjen Perkebunan kedepan adalah bagaimana mempertahankan areal teh nasional sekaligus meningkatkan produktivitas dan mutu.

Termasuk kaitannya dengan keamanan pangan, “Karena untuk produk teh yang diekspor harus disesuaikan dengan standarisasi permintaan negara tujuan ekspor," pungkas Bambang.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018