Senin, 26 Agustus 2019


Hari Perkebunan ke-61, Sinergi dan Akselerasi untuk Kejayaan Perkebunan

10 Des 2018, 11:42 WIBEditor : Yul

Perkebunan dalam lintasan zaman

TABLOIDSINARTANI.COM -- Tiap 10 Desember menjadi hari bersejarah bagi dunia perkebunan di Indonesia. Tanggal tersebut telah ditetapkan sebagai Hari Perkebunan Nasional. Tahun ini, Peringatan Hari Perkebunan ke-61 akan berlangsung di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat.

Jika kita menengok sejarah perkebunan di Nusantara, maka perjalanannya sangatlah panjang. Pengusahaan perkebunan telah berlangsung sangat lama, sejak era sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan jauh sebelum kolonialisasi menguasai bumi Nusantara.

Namun sejak masa kolonialisasi terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya perkebunan Indonesia. Setidaknya ada tidak penting yang mempengaruhi usaha perkebunan di Bumi Pertiwi yakni, masa berkuasanya perusahaan Belanda VOC, masa Tanam Paksa dan masa diberlakukannya Agrarisch Wet tahun 1870.

Sejarah kelam perjalanan perkebunan masa kolonialis menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Hingga kemudian Bangsa Indonesia memasuki era nasionalisasi perusahaan perkebunan yang kemudian terbentuk PT. Perkebunan (PTP). Berdirinya PTP dilandasi SK Penguasa Militer/Menhankam No. 1063/PM.T/1957 tanggal 9 Desember 1957. Lalu diikuti SK Menteri Pertanian No.229/UM/57 tanggal 10 Desember 1957.

Saat itulah Pemerintah Indonesia mengambil alih sekitar 500 perusahaan perkebunan milik Belanda. Untuk melegitimasi pengambilalihan ini, pemerintah mengeluarkan UU No. 86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi. Tanggal 10 Desember 1957 akhirnya ditetapkan sebagai Hari Perkebunan.

Dari Hulu Hingga Hilir

Pada tahun ini peringatan Hari Perkebunan menjadi momen penting seluruh stakeholder perkebunan untuk bersinergi dan akselerasi untuk kejayaan perkebunan. Bukan hanya fokus pada kegiatan hulu untuk meningkatkan produktivitas, tapi juga di hilir untuk menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing.

Perkebunan saat ini sudah besar. Terbukti komoditas perkebunan mampu menjadi sumber devisa negara,” kata Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHP) Ditjen Perkebunan, Dedi Junaedi, di Jakarta, pekan lalu.

Catatan Ditjen Perkebunan, tahun 2016 nilai ekspor perkebunan sebesar 25,5 miliar dollar AS, tahun 2017 naik menjadi 31,8 miliar dollar AS atau meningkat 26,5%. Salah satu komoditas penyumbang devisa terbesar adalah kelapa sawit.

Meski sudah besar, menurut Dedi, harus tetap ada sinergi dengan seluruh stakeholder perkebunan. Ibarat sapu lidi, jika bersatu akan sulit dipatahkan. “Kita harus bersinergi dengan pihak luar untuk mempercepat kejayaan perkebunan nasional. Di hulu sampai ke hilir, pemerintah harus bersinergi dengan poktan, lembaga keuangan, pemerintah daerah, asosiasi dan stakeholder lainnya,” tuturnya.

Sebagai Ketua Panitia Hari Perkebunan (Harbun) ke-61, Dedi mengakui, perlu dukungan semua stakeholder perkebunan agar produk perkebunan meningkat, bernilai tambah dan berdaya saing. Sebab, pemerintah dalam mengembangkan komoditas perkebunan tak bisa sendiri. Artinya, perlu dukungan kelompok tani (poktan), dunia usaha, industri, dan lembaga keuangan.

Menurut Dedi, pengembangan perkebunan di hulu bisa dilakukan dengan pemilihan bibit unggul, pola tanam yang baik, sampai antisipasi terhadap serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) agar produksi dan produktivitas meningkat. Penanganan di hilir seperti pasca panen juga tak bisa dikesampingkan, karena petani atau pekebun akan mendapat nilai tambah.

Peningkatan added value (nilai tambah) pada komoditas perkebunan, sangat penting bagi petani, karena petani bisa mendapat insentif harga. Karena itu, komoditas perkebunan di hilir terus didorong. Bahkan makin ke hilir nilai tambahnya harus terus didorong. “Semakin ke hilir, rantai pasarnya semakin pendek, sehingga petani atau pekebun semakin tinggi mendapatkan nilai tambah,” ujarnya.

Karena itu pada peringatan Hari Perkebunan (Harbun) ke-61 yang berlangsung pada 8-10 Desember 21018 di Gedung Sate, Bandung, Jabar akan mendapat dukungan sejumlah stakeholder dan Pemprov Jawa Barat. Bahkan, sejumlah asosiasi perkebunan antusias mensukseskan acara tahunan ini.Sejumlah asosiasi seperti Dewan Teh, Atsiri, pelaku usaha, kelompok tani, dan stakeholder perkebunan memberi dukungan suksesnya acara tahunan ini,” kata Dedi.

Reporter : idt
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018