Rabu, 20 Maret 2019


Bernilai Ekonomi Tinggi, Kebun Pala Papua Bakal Dikelola Berkelanjutan

11 Des 2018, 13:28 WIBEditor : Gesha

Papua memiliki potensi perkebunan pala di timur Indonesia, pengembangan perkebunan pala agar berkelanjutan diperlukan agar masyarakat pekebun pala bisa merasakan keuntungan | Sumber Foto:KASUARI TNI AD

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Indonesia memiliki komoditas perkebunan berupa pala yang sudah terkenal seantero dunia, salah satu sentranya adalah Provinsi Papua. Ke depannya, kebun pala di timur Indonesia ini akan dikelola berkelanjutan.

Komoditas Pala Papua sejak beberapa abad silam telah menjadi produk perkebunan andalan bernilai ekonomi tinggi masyarakat setempat.  Indonesia sendiri merupakan produsen pala terbesar di dunia, dengan produksi lebih dari 33.000 ton (2015) dan memasok 75 persen dari kebutuhan pasar pala dunia seperti, Vietnam, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan Italia.

Guna mengembalikan kejayaan rempah tanah air, Direktur Jenderal Perkebunan, Gubernur Provinsi Papua Barat,Bupati Kabupaten Fakfak dan Ketua Badan Pengurus Yayasan Penelitian Inovasi Bumi (INOBU) menandatangi nota kesepkatan kerjasama  (MoU) untuk mewujudkan pengelolaan pala Papua secara berkelanjutan, di Bandung, Senin (10/12).

Dirjen Perkebunan Kementan Bambang mengatakan, MoU yang dilakukan bertepatan dengan Hari Perkebunan ke 61 merupakan langkah maju untuk mensinergikan seluruh potensi pala yang ada mulai hulu sampai hilir.  "MoU ini sebagai instrumen dalam rangka mencapai upaya perbaikan kualitas serta peningkatan produktivitas komoditas unggulan di tanah air. Kerjasama ini juga bertujuan mengembalikan kejayaan pala di Papua," jelas Bambang, di Gedung Sate, Bandung (10/12).

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Provinsi Papua Barat, Dominggus Mandacan mengatakan, pala di Papu menyumbang sebesar 14,2 persen dari produksi pala nasional. Produksi terbesarnya berasal dari Kabupaten Fakfak, yakni sebanyak 1.750 ton/tahun. Pala tersebut ditanam oleh 3.587 petani di lahan seluas 17.440 ha.

"Di Kabupaten Fakfak, pala menjadi komoditas utama dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan,"  ujar Dominggus.

Meski sebagai komoditas utama, budidaya pala yang dilakukan petani masih kurang optimal. Tanaman pala dikelola secara  tradisional dan turun temurun di hutan ulayat warisan nenek moyang.

Sampai saat ini budidaya pala belum dikembangkan secara modern agar produktivitasnya meningkat. Petani hanya membiarkan pala tumbuh secara liar. Artinya, belum ada pengaturan jarak tanam, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta sanitasi lingkungan.

"Kesepakatan bersama ini nantinya untuk  meningkatkan kualitas dan produktivitas pala Papua dengan melakukan koordinasi dan mensinergikan sarana dan prasarana yang dimiliki para pihak," kata Dominggus.

Setelah dilakukan kesepakatan kerjasama, ke depan dilakukan pendataan kebun dan petani pala, pengembangan kelembagaan, pengembangan kapasitas sumber daya petani pala. Juga akan dilakukan fasilitasi untuk memperoleh Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), pembangunan monitoring online dan database perkebunan pala, serta sejumlah penelitian terkait peningkatan produktivitas, mutu, dan nilai tambah, akses pasar, serta konservasi.

Dalam nota kerjasama tersebut, Ditjen Perkebunan Kementan bertanggung jawab sebagai fasilitator di tingkat nasional dalam peningkatan produksi dan produktivitas usaha budidaya pala yang berkelanjutan, pengembangan standar dan mutu pala, dan penguatan kelembagaan pekebun.

Tugas utama pemerintah provinsi antara lain menyusun rencana kerja pala dan menyediakan data dan informasi pala guna pengembangan sistem data dan Informasi perkebunan pala di Provinsi Papua Barat yang terintegrasi di tingkat nasional. Pemerintah Kabupaten bertanggung jawab dalam pengambilan data berikut pembaharuan informasi ke dalam sistem sata dan Informasi perkebunan pala yang terintegrasi di tingkat provinsi dan nasional. Sebagai koordinator implementasi  kerjasama para pihak, INOBU mempunyai tanggung jawab mendukung semua kegiatan penelitian, menjadi fasilitator kerjasama dengan para pelaku pasar, serta peningkatan kapasitas pekebun.

Sedangkan penyusunan program dan anggaran pelaksanaan kegiatan dilakukan bersama-sama dan dituangkan dalam bentuk rencana kerja yang terukur setiap tahun. Pembiayaannya dibebankan pada anggaran para pihak sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Kesepakatan bersama ini akan berlaku untuk jangka waktu tiga tahun. Dlam pelaksanaannya akan dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala.

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018