Selasa, 22 Januari 2019


Kebun Sawit Kian Berkelanjutan, Tiga Juta Hektar Kantongi ISPO

12 Des 2018, 09:15 WIBEditor : Gesha

Direktur Jenderal Perkebunan menyerahkan sertifikat ISPO | Sumber Foto:INDARTO

Komoditas sawit hingga saat ini juga sudah mampu melakukan budidaya berkelanjutan yang dibuktikan semakin banyak perusahaan sawit mendapat sertifikat ISPO.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Sub sektor komoditas perkebunan kelapa sawit tak hanya mampu mendulang devisa negara. Komoditas sawit hingga saat ini juga sudah mampu melakukan budidaya berkelanjutan yang dibuktikan semakin banyak perusahaan sawit mendapat sertifikat ISPO.

Bertepatan dengan Hari Perkebunan ke-61, Komisi ISPO  memberi sertifikasi ISPO kepada 44 perusahaan sawit. Dari jumlah tersebut sebanyak 43 berupa perusahaan sawit dan 1 KUD Plasma.

"Kinerja sertifikasi ISPO sampai saat ini meningkat sebesar 22,13 persen. Artinya, sudah sebanyak 3,09 juta ha dari  total lahan sawit sebanyak 14,03 juta ha telah mengantongi sertifikat ISPO," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang, saat memberi sambutan pada puncak acara Hari Perkebunan ke-61 di Gedung Sate, Bandung, Senin (10/12).

Bambang juga mengatakan, akan terus mendorong pekebun sawit untuk melakukan ISPO. Bahkan, sejak sertifikat ISPO diimplementasikan ada tahun 2011,  sebanyam 695 pelaku usaha  telah berpartisipasi mendaftar ISPO. Jumlah tersebut  terdiri dari 683 perusahaan, 8 KUD/KSU Kebun Plasma,1 BUMDes, dan 3 Koperasi/(Asosiasi Kebun Swadaya).

Data Komisi Sertifikasi ISPO menyebutkan, sampai dengan 10 Desember 2018, jumlah pelaku usaha yang mendapatkan sertifikat ISPO sebanyak 457 ( 450 Perusahaan, 4 KUD Plasma, dan 3 Koperasi Swadaya), dengan luas areal 3,09 juta ha. Sedangkan total produksi  TBS sebanyak  48.894.849 ton/th dan CPO 11.031.934 ton/th. Produktivitas 19,63 ton/ha/th dan rendemen rata-rata 22,56 persen.

Ketua Komisi Sekretariat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), Azis Hidayat menyebutkan, capaian sertifikasi ISPO sampai saat meningkat signifikan. Pada periode 2011-2015 hanya 127 perusahaan yang mendapat sertifikat ISPO dengan lahan seluas 999.555 ha dan produksi CPO 4.726.631 ton/th.

Pada era tahun 2016-2018 sudah sebanyak 457 ( terdiri 450 Perusahaan, 4 KUD Plasma dan 3 Koperasi Swadaya) yang mendapat sertifikasi ISPO. Artinya, jumlah perusahan yang mendapat sertifikasi ISPO bertambah 330  ( 260 persen) , dan luas areal bertambah 3.099.222 ha.

Menurut Azis, Komisi ISPO  terus berupaya melakukan percepatan sertifikasi ISPO dengan berbagai upaya. Diantaranya, meningkatkan pemahaman dan kepedulian perusahaan perkebunan untuk sertifikasi ISPO, pemberdayaan pekebun menuju ISPO, meningkatkan koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait. Komisi ISPO juga menggandeng Pemda , BPDP KS dan  GAPKI untuk melakukan capacity building dan membuka Forum Klinik ISPO.   Komisi ISPO juga melakukan koordinasi dengan lembaga sertifikasi secara intensif dan Kerjasama dengan lembaga internasional, maupun LSM  untuk pemberdayaan pekebun, pengkajian, dan promosi.

Terkait realisasi sertifikasi ISPO bagi pekebun yang masih rendah, lanjut Azis,  disebabkan beberapa masalah utama. Diantaranya, aspek legalitas/kepemilikan lahan, pengurusan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), keengganan membentuk koperasi pekebun, dan masalah pendanaan ( pra kondisi dan biaya audit).

Guna mengatasi kendala tersebut Kementan melalui Direktorat Jenderal Perkebunan/ Komisi ISPO  berupaya meyakinkan semua pihak ( Kementerian dan Lembaga terkait) agar lebih meningkatkan komitmen untuk bersama-sama mendukung kebijakan percepatan Sertifikasi ISPO dan melaksanakan Instruksi Presiden No. 8 tahun 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit. 

"Komisi ISPO juga mengusulkan agar biaya pra kondisi dan audit ISPO dapat difasilitasi dari dana Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Alokasi dana BPDPKS itu diharapkan dapat membantu untuk menyelesaikan persoalan kelapa sawit," kata Azis Hidayat.

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018