Senin, 22 April 2019


Guru Besar Korsel dan Kamboja Terpesona Perkebunan Teh Menoreh

25 Des 2018, 19:06 WIBEditor : Gesha

Hamparan kebun teh di Bukit Menoreh | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

Sampai saat ini perkebunan Menoreh sudah dikunjungi turis mancanegara dari berbagai negara. Mereka datang hanya sekedar untuk menikmati hamparan agrowisata dan mencicipi kualitas teh Menoreh secara langsung.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Kulon Progo --- Pengelolaan usaha kebun teh Menoreh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ternyata membuat takjub Guru Besar dari Korea Selatan dan Kamboja yang datang berkunjung kesana.

"Mereka juga mengapresiasi managemen keluar masuknya teh. Misalnya kalau dulu kan hanya disetorkan ke perusahaan sehingga petani tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Sekarang, petani dengan membawa hasil panennya dapat membeli beras," kata Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Bambang.

Bambang juga mengatakan pengelolaan kebun secara baik akan membawa dampak yang segnifikan pada perekonomian melalui peluang kerja bagi anak-anak muda setempat.

"Peningkatan yang sangat signifikan ini dapat membuka peluang kerja bagi anak muda yang belum memiliki pekerjaan. Misalnya seperti 62 karang taruna yang dapat langsung bekerja dengan baik dan tanpa harus keluar dari kampung halaman. Masyarakat yang tidak memiliki kebun teh juga dapat bekerja di tempat edukasi atau dapat menjualkan produk teh," katanya.

Dalam kunjungan tersebut juga digelar Bimbingan Teknis (Bimtek) kepada puluhan Kelompok Tani Teh Menoreh Kulon Progo dari Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung Bandung.

Kegiatan yang digelar selama 3 hari ini bekerja sama dengan Ditjen Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) DIY, dan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.

Ketua Kelompok Usaha Bersama Teh Menoreh, Sukohadi mengatakan, kegiatan ini difokuskan pada materi penanaman hingga bimbingan pasca panen. Kedua materi ini diberikan secara berkala pada 18 poktan yang terdiri dari 327 Kartu Keluarga.

"Jadi, penanaman teh dan panen harus ada konservasi tanah baik karena bisa menghindari terjadinya longsor yang dapat membahayakan warga setempat. Kemiringan sekitar 45 derajat paling tepat ditanami teh dibandingkan untuk pohon yang tinggi seperti sengon," katanya.

Menurut Suko, sapaan akrab Sukohadi, bimtek ini juga sekaligus memberi pengetahuan cocok tanam serta tata cara merawat kebun yang baik agar tetap menghasilkan kualitas unggul.

"Karena di Menoreh ini ada 11 varian teh. Misalnya original, green tea, white tea, gold tea, yellow tea, jasmine, teh merah dan kualitas teh premium. Semua varian harus unggul karena bisa meningkatkan ekonomi melalui sektor wisata," katanya.

Lebih lanjut Suko menuturkan sampai saat ini perkebunan Menoreh sudah dikunjungi turis mancanegara dari berbagai negara. Mereka datang hanya sekedar untuk menikmati hamparan agrowisata dan mencicipi kualitas teh Menoreh secara langsung.

"Mereka semua dapat melihat proses pengeringan, pembakaran hingga penyajian teh menoreh. Mereka juga terlihat senang dan antusias dalam setiap edukasi yang dijelaskan," katanya.

Target 2019

Dirjen Perkebunan Bambang menuturkan komoditas teh menjadi salah satu unggulan ekspor yang akan terus ditingkatkan produksinya pada tahun 2019, berdampingan dengan kopi dan kakao.

"Kita terutama masih berfokus pada ketersediaan benih komoditas strategis untuk ekspor. Tapi ini tidak termasuk sawit, karena sawit meliliki dananya sendiri dari perhimpunan dana dari sawit untuk sawit," katanya.

Bambang menyebutkan, untuk meninkatkan produksi tersebut, anggaran yang akan dialokasikan mencapai Rp 1 triliun. Dari nilai tersebut, 54 persen diantaranya dialokasikan untuk benih.

"Kalau untuk komoditi lainnya, kita dorong untuk pengembangan dan pembelian benih. Anggaran tahun ini 54 persen kita gunakan untuk benih dan 87 persen anggaran Direktorat Jenderal Perkebunan dialokasikan di dinas-dinas di daerah," pungkasnya.

Reporter : Budi H
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018