Selasa, 21 Mei 2019


Kementan Dorong Petani Hasilkan Produk Kopi Bernilai Tinggi

31 Des 2018, 18:07 WIBEditor : Gesha

Direktur PPHP Ditjen Perkebunan Kementan, Dedi Junaedi (kanan) sedang menunjukkan salah satu piagam penghargaan untuk koperasi produsen kopi. | Sumber Foto:Indarto

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Petani kopi Panggalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar) kini sudah mendapat untung menjual kopi cherry dengan harga Rp 10 ribu/kg. Namun, Kementerian Pertanian (Kementan) tetap mendorong agar petani bisa menghasilkan kopi green bean dan beragam olahan kopi lainnya

Petani Kopi disana sudah mampu mendapat penghasilan Rp 8,3 juta/bulan jika petani mempunyai lahan 1 ha, dengan produktivitas 10 ton/ ha.

Namun, penghasilan petani kopi akan lebih tinggi lagi apabila bisa mengembangkan produk kopinya menjadi kopi green bean.

"Nilai jual kopi green bean bisa 3-4 kali dibanding dengan menjual kopi cherry. Bahkan, kalau petani bisa mengembangkan kopinya menjadi kopi bubuk siap seduh (end produk), nilai ekonominya akan lebih tinggi lagi," papar Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHP) Ditjen Perkebunan, Dedi Junaedi, saat melihat langsung aktivitas petani kopi yang tergabung dalam Koperasi Produsen Kopi Margamulya, di Pangalengan, Bandung (31/12).

Menurut Dedi Junaedi, bantuan alat pasca panen seperti solar drier, para-para, alat huller dan pulper sangat penting agar petani punya nilai tambah dan nantinya bisa berdaya saing.

Selain bantuan alat pasca panen, petani kopi secara berkelompok bisa mengembangkan kebunnya untuk wisata agro (agro foresty).

"Karena itu petani kopi juga perlu dukungan permodalan dari lembaga keuangan dan perbankan untuk mengembangkan usahanya," ujar Dedi Junaedi.

Ia juga mengatakan, petani kopi juga perlu memperkuat kelembagaan petaninya. Sebagai contoh, setelah membentuk kelompok tani, para petani  yang tergabung di dalamnya bisa membentuk koperasi.

Nah, koperasi ini nantinya bisa memberi  manfaat petani kopi saat merawat tanaman hingga panen. Bahkan, dengan koperasi,  petani kopi bisa lebih mudah mendapatkan pinjaman perbankan untuk pengembangan usahanya.

Dedi Junaedi juga menyebutkan, agar petani kopi yang ada di lereng-lereng gunung bisa mendapatkan nilai tambah dan budidaya berkelanjutan, perlu  dukungan kementerian/lembaga terkait.

Artinya, semua kementerian/lembaga terkait  seperti  Kementerian Pariwisata bisa membantu dan mendorong petani untuk mengembangkan agro foresty dan mempromosikan kopi spesialty yang diproduk petani.

"Produk kopi, seperti Java Preanger sudah punya brand. Dan kopi yang diproduk petani kita punya keunggulan tersendiri dibanding negara lain. Karena itu, kami tak hanya melakukan perbaikan di hulu, tapi kami bersama lembaga/kementerian terkait mendorong petani agar mendapatkan nilai tambah dengan hilirisasi produk kopi supaya mereka bisa menjual end produk," pungkas Dedi. 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018