Kamis, 18 Juli 2019


Bermitra dengan Perusahaan, Petani Teh Terima KUR Rp 100 Juta

01 Jan 2019, 19:41 WIBEditor : Gesha

Direktur PPHP Ditjen Perkebunan Kementan, Dedi Junaedi (kiri) bersama Ketua Poktan Teh Rakyat Neglasari, Wawan Hermawan di kebun teh sambil menunjukkan sertifikat dan piagam penghargaan dari pemerintah | Sumber Foto:Indarto

Kredit Usaha Rakyat (KUR) dapat dirasakan langsung oleh petani bahkan bisa memperbaiki kualitas teh yang dihasilkannya

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Pemerintah kini terus mendorong kelompok tani untuk bisa bermitra dengan perusahaan untuk memperoleh beragam kemudahan. Untuk komoditas teh misalnya, adanya kerjasama tersebut kelompok tani bisa memperoleh pinjaman kredit sampai Rp 100 juta.

Kelompok tani yang beruntung mendapatkan Kredit Usaha.Rakyat (KUR) dari BRI Agro tersebut adalah Kelompok Tani (Poktan) Teh Rakyat Neglasari.

Pinjaman dengan bunga lunak tersebut  akan dimanfaatkan untuk  membeli sarana produksi seperti pupuk dan perawatan kebun teh seluas 20 ha di Desa Pangalengan, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung.

KUR dengan bunga 7 persen/tahun, dan berjangka waktu 4 tahun ini diberikan kepada Poktan Teh Rakyat Neglasari pada puncak acara Hari Perkebunan ke-61  tanggal 10 Desember tahun 2018.

Kucuran KUR dari BRI Agro tersebut sangat dirasakan manfaatnya bagi petani teh untuk mengembangkan usahanya. 

"Poktan Teh Rakyat Neglasari sudah bermitra dengan perusahaan pengolah teh (PT.Cakra) sejak tahun 2010 lalu. Sehingga, Poktan teh yang berlokasi di Desa Pangalengan ini lebih mudah mendapatkan KUR dari bank untuk pengembangan usaha," kata Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHP) Ditjen Perkebunan, Dedi Junaedi, di Pangalengan, Bandung (31/12).

Dedi Junaedi mengharapkan petani teh, kopi, kakao dan petani yang berkecimpungan dalam komoditas perkebunan lainnya agar bermitra dengan perusahaan atau pabrikan.

Kemitraan dengan perusahaan sangat penting untuk menjaga kelangsungan usaha perkebunan rakyat. 

"Sebagai mitra petani teh, perusahaan tersebut bisa menjadi off taker. Artinya, petani secara rutin bisa menjual daun teh basah ke mitranya dengan harga wajar. Sementara itu, off taker akan menjadi penjamin ketika kelompok tani tersebut memerlukan pinjaman bank seperti KUR," papar Dedi Junaedi.

Ketua Poktan Teh Rakyat Neglasari, Wawan Hermawan mengatakan, KUR dari BRI Agro sebesar Rp 100 juta mulai diangsur pada10 Januari 2019. 

"Pinjaman dari BRI Agro ini sebagian besar untuk membeli saprodi, khususnya pupuk dan sebagian lainnya akan kami gunakan untuk merawat kebun teh," ujar Wawan Hermawan.

Kepastian Hilir

Wawan juga mengatakan, setelah bermitra dengan PT.Cakra,  semua daun teh yang dipetik langsung dibeli dan diolah perusahaan tersebut.

Pucuk daun teh basah yang telah dipetik puluhan buruh teh ini setiap 15 hari sekali langsung di kirim ke PT.Cakra.

"Rata-rata 1,5 ton/15 hari daun teh basah dibeli PT.Cakra dengan harga Rp 3.000/kg," ujarnya.

Ia juga mengatakan, kebun teh yang dikelola Poktan Teh Rakyat Neglasari tiap bulan bisa memasok daun teh basah ke mitranya sebanyak 3 ton.

"Sehingga, 20 petani teh yang tergabung dalam kelompok tani ini bisa mendapatkan hasil dari kebunnya rata-rata sebesar Rp 90 juta/bulan," papar Wawan.

Menurut Wawan, sebagian besar kebun teh yang dikelola Poktan Teh Rakyat Neglasari merupakan warisan leluhur mereka.

"Karena itu, kalau kebun teh ini dikelola dengan baik dan benar akan memberi hasil bagi petani," ujarnya.

Kebun teh rakyat yang terhampar di Pangalengan tersebut mencapai puncak produksinya pada Maret-April. Pada bulan tersebut produksi daun teh basah bisa mencapai 6 ton/bulan.

"Daun teh yang kami produksi ini biasanya akan diolah menjadi teh hitam. Meskipun dalam skala rumah tangga, kami juga memproduksi sendiri teh putih dengan jumlah yang tak terlalu banyak," kata Wawan

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018