Selasa, 22 Januari 2019


Harga CPO Turun, Saatnya Kembangkan Biodiesel

11 Jan 2019, 07:12 WIBEditor : Gesha

Pelaku Usaha mendorong agar pemerintah serius mengembangkan biodiesel untuk pasar dalam negeri dan ekspor | Sumber Foto:Indarto

Di dalam negeri, Pertamina harus komitmen menyerap dan potensi ekspor akan terbuka sangat lebar

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di tengah turunnya harga CPO di pasar manca negara saat ini, adalah langkah yang tepat apabila pemerintah  mendorong pelaku usaha untuk mengembangkan industri hilir minyak sawit seperti bio energi, salah satunya biodiesel.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono mengemukakan, hilirisasi minyak sawit menjadi bio energi, khususnya bio diesel sebenarnya sudah dikembangkan pada tahun 2008.

Bahkan, pada saat itu Indonesia sudah ekspor bio diesel ke Uni Eropa (UE) pada tahun 2012 sebanyak 1,5 juta ton/tahun.

Namun,  karena ada tudingan dumping dari UE, ekspor bio diesel tersebut akhirnya terhenti di tengah jalan. 

“Jadi, tentang bio energi ataupun bio diesel itu cerita lama. Dan permintaan subsidi dari APBN dan pajak ekspor itu juga cerita lama. Namun, pengembangan bio energi ataupun bio diesel itu jangan sampai mundur. Karena hal ini sudah jadi hajat pemerintah, maka mindsetnya harus diubah dengan road map yang jelas supaya tak terhenti di tengah jalan,” kata Joko Supriyono, dalam diskusi bertema “Peningkatan Peran Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) dalam Pengembangan Sawit: Minyak Sawit sebagai Bio Energi, di Jakarta, Rabu (9/1).

Karena bio energi ini sudah menjadi  hajat negara, pemerintah sudah sewajarnya mendorong pelaku usaha untuk mengembangkan bio diesel (khususnya, B 20).

“Selain membuat road map, mindset pengembangan bio energi itu harus diubah. Pertamina pun harus punya komitmen menyerapnya, dan BPDP KS bisa berperan lebih luas lagi (tidak temporer) dalam memberikan dukungan  kepada pelaku usaha,” jelas Joko Supriyono.

Ia juga sangat yakin, apabila minyak sawit bisa dikembangkan lagi akan memberi keuntungan kepada negara.

Tercatat ekspor minyak sawit pada tahun 2018 sebenyak 32 juta ton dan pada tahun 2025 nanti ekspor minyak sawit  diperkirakan sebanyak 27 juta ton. 

“Apabila bio diesel ini dikembangkan,  potensinya ekspornya masih tinggi.  Karena Indonesia masih bisa mengembangkan pasar ekspor minyak sawit yang sudah ada,” jelas Joko Supriyono.

Produk Hilir Lain

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Industri Hasil Perkebunan non Pangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Lila Harsyah Bakhtiar menyatakan, Indonesia merupakan negara produsen minyak mentah sawit (CPO dan CPKO) terbesar di dunia.

Tercatat,  produksi CPO tahun 2018 sekitar 42 juta ton dan produksi minyak inti sawit mentah (CPKO) sekitar 4,7 juta Ton. 

“Untuk menghindari turunnya  harga CPO internasional, diperlukan supply management dan demand management. Salah satunya dengan mendorong kinerja ekspor produk hilir yang harganya lebih stabil,” papar Lila.

Ia juga menyebutkan, pada pertengahan tahun 2018, total ekspor CPO dan produk turunannya asal Indonesia mencapai 31,5 juta ton dengan nilai ekspor US$ 25,65 miliar.

“Nah,  tantangan yang dihadapi saat ini adalah masih rendahnya tingkat harga CPO dan produk turunan tingkat pertama dan intermediate, karena dinamika pasar global,” ujarnya.

Menurut Lila, ekspor minyak sawit sampai saat ini masih menjadi sektor unggulan Indonesia dan mengisi pangsa pasar ekspor di seluruh dunia, dengan negara tujuan ekspor utama India, China, Pakistan, Bangladesh, Uni eropa dan Timur Tengah. 

Sedangkan produk utama turunan minyak sawit yang telah diproduksi Indonesia antara lain minyak goreng sawit (RBD Palm Olein), lemak padatan pangan/ oleo food (CBS, CBE, CBR), oleokimia (FA, FOH, Glycerine), dan bioenergi (Bio diesel). 

Namun, ekspor produk hilir masih didominasi oleh produk produk turunan minyak sawit intermediate (a.l. minyak goreng/ RBD Palm Olein, RBD Palm Stearine, RBD Palm Oil).

“Beberapa produk hilir canggih (yang komposisi minyak sawitnya tidak terlalu besar) masih diimpor dari negara tujuan ekspor CPO karena keterbatasan lisensi teknologi oleh principal produk (khususnya consumer goods),” jelasnya.

Ia juga mengemukakan, potensi untuk pengembangan industri dan ekspor produk hilir diantaranya,  produk pangan canggih (super olein), produk nutraseutikal dan fitofarmaka, biofuel (biodiesel danbiohidrokarbon/ BBM dari minyak sawit), serta fine chemical (bioemulsifier, biolube, dan bioplastic) diharapkan akan semakin mendominasi pasar ekspor minyak sawit Indonesia. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018