Senin, 22 Juli 2019


Cilet Coklat, Babak Baru Kakao Aceh

22 Jan 2019, 14:55 WIBEditor : Yulianto

Inilah Produk Cilet Coklat | Sumber Foto:Fathan

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh---Dibandingkan Sulawesi Selatan atau Sulawesi Tenggara, Provinsi Aceh memang tidak begitu terkenal dalam produksi kakao. Memang di provinsi tersebut, komoditas kakao baru dikembangkan secara massal sejak sepuluh tahun terakhir.

Harga biji kakao kering yang cukup menggiurkan,membuat banyak petani ‘tergoda’ beralih ke komoditi ini. Bahkan di beberapa daerah lahan tanaman karet sudah banyak yang mengalami alih fungsi menjadi tanaman kakao.

Menurut data statistik tahun 2016, luas lahan pertanaman kakao di Aceh saat ini mencapai 102.034 hea dengan produksi sebesar 34.887 ton. Sebagian besar produksi kakao dari Aceh ini di ekspor maupaun dipasarkan dalam negeri dalam bentuk biji kering dan hanya sebagian kecil yang dipasarkan dalam bentuk olahan.

Meski harga jual di tingkat petani saat ini cukup tinggi yaitu Rp 31.000/kg. Namun jika produk kakao dijual dalam bentuk produk olahan, tentu akan memberikan nilai tambah yang cukup signifikan, sehingga mampu mendongkrak harga biji kakao di tingkat petani.

Gandeng UMKM

Kondisi inilah yang kemudian mengusik Forum Kakao Aceh (FKA) untuk melakukan terobosan agar petani kakao yang tersebar di berbagai kabupaten/kota seperti Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan  lain-lainya akan memperoleh nilai tambah dari produk yang mereka hasikan.

Salah satu terobosan yang kemudian dilakukan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah produk kakao. Belum lama ini FKA meluncurkan produk coklat olahan dengan merek dagang ‘Cilet Coklat’.   Produk tersebut menjadi babak baru bagi perkembangan kakao di Bumi Rencong tersebut.

Untuk memproduksi coklat siap saji ini, FKA sengaja menggandeng kalangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di kota Banda Aceh.  Peluncuran produk coklat olahan ini selain sebagai upaya memberdayakan UMKM juga merupakan upaya meningkatkan nilai tambah produk kakao bagi petani.

Sebab, jika usaha ini sudah memasuki skala besar, akan banyak produk kakao dari petani yang dapat ditampung unit usaha ini dengan harga yang lebih tinggi. Disamping itu, peluncuran produk ini juga merupakan upaya memasyarakatkan produk lokal untuk mengajak masyarakat lebih mencintai produk-produk yang dihasilkan di daerah sendiri.

Saat ini produk coklat dengan berbagai varian seperti rasa Kopi Gayo, rasa Oreo, rasa Kismis dan beberapa varian lainnya mulai dipasarkan di sekitar kota Banda Aceh, meski produksi dan jaringan pemasarannya masih terbatas.

Pola kemitraan seperti ini tentu saja akan lebih memperkuat kelembagaan UMKM sebagai salah satu pilar ekonomi yang langsung terkait dengan hajat hidup masyarakat. Selain tujuan jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan petani kakao di Aceh.

 

Reporter : Fathan MT
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018