Rabu, 24 Juli 2019


Kebun Teh Pangalengan Mempertahankan Warisan Leluhur

23 Jan 2019, 09:46 WIBEditor : Yul

Petani teh sedang memetik daunnya

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung Selatan -- Bagi sejumlah masyarakat di Pangalengan, Jawa Barat, membudidaya teh merupakan pekerjaan keseharian mereka. Kebun teh warisan leluhur yang dikelola petani bumi Priangan tersebut sampai saat ini masih tetap dipertahankan, meski berbagai himpitan. Teh tetap menjadi salah satu sandaran hidup bagi masyarakat.

Plt. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Hendi Jatmika mengatakan, dari luas kebun teh di Provinsi Jabar saat ini sekitar 90 ribu ha dan 54%-nya dikelola petani kecil. Jumlah petani teh sekitar 73.910 kepala keluarga (KK).

“Petani teh di Jabar umumnya punya lahan warisan leluhurnya antara 1-2 ha. Mereka secara turun-temurun membudidayakan dan memelihara kebunnya dan memetik daunnya tiap 15 hari sekali kemudian dijual ke perusahaan,” kata Hendi di Bandung, belum lama ini. Petani teh saat ini masih bisa menjual daun teh (segar/basah) Rp 2.500-Rp 3.000/kg ke pabrik.

Karena itu kebun teh sampai kini masih menjadi sandaran hidup petani. Meski dikelola secara tradisional, produksi kebun teh rakyat di Jabar saat ini mencapai 40.607 ton/tahun, dengan rata-rata produksi 1.479 kg/ha.

“Meskipun luas lahan kebun teh di Jabar terus berkurang akibat agroklimat yang tak cocok dan desakan kepentingan lain, Pemprov Jabar tetap mempertahankan kebun teh yang dikelola petani kecil, BUMN dan sejumlah perusahaan swasta. Sebab, komoditas teh di Jabar masih potensial dikembangkan,” paparnya.

Kemitraan dengan perusahaan

Untuk mempertahankan keberadaan pekebun teh di Jabar, Pemprov Jabar mengimbau petani teh untuk berkelompok melakukan diversifikasi usaha. Selanjutnya bermitra dengan perusahaan. “Dengan berkelompok dan bermitra mereka akan mudah mendapatkan akses pasar dan permodalan,” ujar Hendi.

 

Data Dinas Perkebunan Jawa Barat, perkebunan teh rakyat di Jabar tersebar di 12 kabupaten/kota. Luas perkebunan teh rakyat tercatat sebanyak 45.253 ha. Dari luas lahan tersebut, tanaman yang sudah menghasilkan seluas 27.453 ha. Sedangkan tanaman yang rusak/tidak menghasilan seluas 14.309 ha.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHP) Ditjen Perkebunan, Dedi Junaedi juga berharap petani membentuk lembaga tani atau kelompok tani. Lembaga itu nantinya yang melakukan kemitraan dengan perusahaan atau pabrikan.

“Kemitraan dengan perusahaan sangat penting untuk menjaga kelangsungan usaha perkebunan rakyat. Sebagai mitra petani teh, perusahaan tersebut bisa menjadi off taker. Artinya, petani secara rutin bisa menjual daun teh basah ke mitranya dengan harga wajar,” jelas Dedi.

Ia juga mengatakan, off taker akan menjadi penjamin ketika kelompok tani tersebut memerlukan pinjaman bank seperti KUR. Sehingga, petani teh yang sudah bermitra tak kesulitan untuk mencari tambahan modal usaha.

Sementara itu Ketua Poktan Teh Rakyat Neglasri, Wawan Hermawan mengatakan, petani saat ini sudah bermitra dengan perusahaan. Poktan Teh Rakyat Neglasari yang berlokasi di Desa Pangalengan, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung bisa memasok daun teh ke mitra sebanyak 3 ton/bulan. Poktan Teh Rakyat Neglasari yang menaungi 20 orang petani ini bisa mendapatkan hasil dari kebunnya rata-rata sebesar Rp 90 juta/bulan.

Wawan mengatakan, setelah bermitra dengan perusahaan pengolah teh, semua daun teh yang dipetik langsung dibeli dan diolah perusahaan tersebut. Pucuk daun teh basah yang telah dipetik puluhan buruh teh ini setiap 15 hari sekali langsung di kirim ke mitra. “Rata-rata 1,5 ton/15 hari daun teh basah dibeli PT.Cakra dengan harga Rp 3.000/kg, ujarnya.

Menurut Wawan, setelah bermitra, Poktan Teh Rakyat Neglasari juga mudah untuk mendapatkan kredit. Misalnya, tambahan modal untuk merawat kebun dan membeli saprodi. Kini Poktan sudah bisa mengajukan kredit usaha rakyat (KUR) ke BRI Agro dan mendapat kredit Rp 100 juta. KUR dengan bunga 7 persen/tahun, dan berjangka waktu 4 tahun ini, lanjut Wawan, sudah mulai dimanfaatkan untuk membeli pupuk dan merawat kebunnya. Dengan tambahan modal dari KUR Wawan berharap kebun teh seluas 20 ha bisa terawat lebih baik lagi.

Reporter : idt
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018