Jumat, 16 Januari 2026


Pelatihan Petani

12 Peb 2019, 11:04 WIBEditor : Yul

Jenis lada yang dikembangkan petani di Babel berupa muntok white papper atau lada putih muntok

Data Dinas Pertanian Pemprov Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menyebutkan, pengembangan lada putih muntok di Babel difokuskan di lahan seluas 52 ribu ha. Lada putih muntok tersebut sudah dikembangkan di enam kabupaten. Dinas Pertanian Provinsi Babel tak hanya memberikan motivasi dan dukungan ke petani lada saja. Bahkan, Dinas Pertanian pun terus melakukan pelatihan untuk menunjang pengembangan lada di Babel,” tuturnya.

Tercatat, Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Babel sudah melakukan pelatihan cara menanam dan mengolah lada yang baik. Rata-rata ada 60-70 petani yang dilatih di balai tiap minggu. Pelatihan tersebut dilakukan untuk meningkatkan SDM petani. Dengan pelatihan cara budidaya lada dan cara mengolah lada yang baik diharapkan pengembangan lada di Babel bisa berjalan dengan baik.

Alfeddy mengatakan, selain dari provinsi ada juga pelatihan yang dilakukan Dinas Pertanian Kepulauan Babel. Dalam pelatihan tersebut juga diperkenalkan sejumlah bibit lada putih muntok yang bagus. “Ada juga peremajaan sejumlah kebun lada yang sudah tua dengan bibit lada unggul,” ujarnya.

Menurut Alfeddy, petani juga diajari untuk diversifikasi produk lada seperti membuat kopi lada, parfum lada, permen, dan membuat sepatu dari limbah cangkang lada. Diversifikasi lada inilah yang nantinya akan terus dikembangkan ke petani supaya bisa mendapatkan harga layak ketika harga lada jatuh.

Lantaran lada yang dibudidaya petani Babel sudah punya brand (merek dagang) muntok white pepper, Alfeddy optimis usaha budidaya lada yang dikembangkan sejak tahun 2012 di lahan seluas 1,5 ha ini akan menuai hasil. Sebab, budidaya yang dilakukan petani milenial ini tak sekadar tradisi.

“Budidaya lada adalah bisnis yang prospektif. Lada tak hanya dibutuhkan untuk bumbu masak saja. Lada bisa diolah menjadi aneka kebutuhan masyarakat dunia, seperti untuk parfum dan jenis olahan lainnya yang bernilai tambah,” papar Alfeddy.

Budidaya lada yang sudah dikembangkan kurun tujuh tahun lalu sampai saat ini bisa berjalan dengan baik. Sebab, budidaya lada sesuai kaidah budidaya yang baik dan benar. Sehingga, lada yang dibudidaya pun bisa tumbuh dengan subur.

Ia juga mengungkapkan, produktivitas lada yang dibudidaya rata-rata 300 kg-400 kg/ha. Budidaya lada yang dikembangkan mengaplikasi sistem budidaya lada “junjung mati”. Artinya, lada yang ditanam tidak menggunakan pohon gamal atau randu untuk naungan. “Dengan sistem ini tanaman lada lebih optimal berproduksi dan jumlah lada yang ditanam rata-rata sebanyak 3.000 pohon/ha,” ujarnya.

Berkat jerih payahnya tersebut, Alfeddy sudah mampu mengantongi omzet penjualan lada sebanyak Rp 96 juta/ha/tahun. “Karena harga lada saat ini sedang jatuh, kami lebih banyak menyimpannya di gudang. Sebagian lada yang telah kami panen rencana akan dihaluskan dan dikemas, selanjutnya dijual ke sejumlah pasar,” kata Alfeddy.

Reporter : Idt
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018