Selasa, 26 Maret 2019


Kelola Sawit untuk Sumber Energi B20

18 Peb 2019, 00:34 WIBEditor : Gesha

Kebijakan B20 sebagai sumber energi Indonesia | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Langkah menuju sumber energi B20 dari sawit, ternyata disoroti juga oleh kedua Calon Presiden 2019. Bahkan sama-sama berkomitmen untuk menjadikan Indonesia terbebas dari ketergantungan atas BBM Impor.

"Kita sudah ke arah B 20 untuk sawit. Saya sangat yakin kita bisa swasembada energi dari sawit untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit kita," tutur Calon Presiden nomor urur 2, Prabowo Subianto saat Debat Pilpres 2019 tahap 2, Minggu (17/2).

Prabowo juga menyoroti berbagai langkah yang telah dilakukan Presiden Jokowi selama 5 tahun terakhir yang secara bertahap menuju B20. 

"Kita bisa manfaatkan untuk sawit sebagai bahan bakar. Untuk menekan BBM dimana kita menjadi net importir terbesar di dunia," tukasnya.

Tak hanya sawit, Prabowo juga menuturkan banyaknya tanamam lainnya yang bisa dipanen menjadi sumber energi. Seperti aren, cassava dan gula untuk dijadikan bioethanol agar Indonesia menggunakan sumber energi dari luar.

Tata kelola sawit juga harus diubah menurut Prabowo. Pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) yang sebelumnya 80 persen untuk plasma dan 20 persen untuk inti, diubah proporsinya untuk plasma sehingga petani sawit rakyat mendapatkan harga yang diharapkan.

"Kita harus berani seperti Malaysia untuk meningkatkan plasma lebih banyak sehingga rakyat lebih memiliki hak-hak atas kerja keras mereka," tegasnya.

Kebijakan B20

Hingga sekarang produksi sawit Indonesia sudah mencapai 46 juta ton per tahun dan melibatkan 16 juta petani di daerah.

"Kita telah memulai B20 dan sudah berproduksi 98 persen. Kita sekarang menuju ke B100. Sehingga nanti 3 persen dari total produksi kelapa sawit akan diarahkan masuk kepada biofuel," jelas Calon Presiden nomor urut 2, Joko widodo.

Bahkan, plan untuk B20 sudah rigid dan jelas. Sehingga ke depannya, Indonesia tidak ketergantungan minyak (BBM) impor sebagai sumber energi.

Untuk diketahui, Pertamina sudah merilis solar B20 yang memiliki keunggulan CetaNe number diatas 50 yang artinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan CetaNe number Solar murni (48).

Semakin tinggi angka cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan. 

Peluncuran solar yang 20 persennya berasal dari kelapa sawit ini juga disebut komitmen menjalankan Kebijakan Pemerintah sesuai Permen ESDM No 41 Tahun 2018.

Dalam peraturan tersebut Pertamina memang didorong untuk menerapkan penggunaan campuran Solar dengan minyak nabati FAME sebesar 20 persen.

Melalui pemanfaatan Minyak Sawit ini, selain disebut akan menyejahterakan petani sawit dengan menjaga stabilisasi harga CPO juga mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca sebesar 29 persen.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018