Selasa, 26 Maret 2019


Dongkrak Pendapatan Petani Karet dengan Tumpangsari

12 Mar 2019, 16:28 WIBEditor : Gesha

Pendapatan petani bisa meningkat dengan melakukan tumpangsari | Sumber Foto:INDARTO

Berkat tumpansari tersebut, tanaman pokok karet pun lebih tahan kekeringan. Alhasil, produktivitas lahan akan meningkat dan pendapatan petani juga meningkat.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Palembang --- Petani karet di Sumatera Selatan (Sumsel) bisa meningkatkan usaha taninya dengan melakukan tumpang sari di sekitar kebunnya. 

Petani karet bisa tanam padi, jagung, nanas, sayur dan tanaman pangan lainnya berumur pendek di sekitar kebunnya untuk menambah penghasilan.

"Kita tak hanya mendorong hilirisasi industri karet di tingkat petani saja agar petani punya nilai tambah. Tapi, kami mendorong petani untuk melakukan tumpangsari supaya mereka punya penghasilan tambahan," kata Gubernur Sumsel, H. Herman Deru, saat dialog dengan petani karet di Sembawa, Kab.Banyuasin, Palembang. 

Selain menambah penghasilan, tumpangsari dapat berfungsi sebagai konservasi tanah. Penyerapan air melalui perakaran tanaman akan  meningkat, sehingga aliran permukaan berkurang dan erosi tanah dapat diminimalkan.

Berkat tumpansari tersebut,  tanaman pokok karet pun lebih tahan kekeringan. Alhasil, produktivitas lahan akan meningkat dan pendapatan petani juga meningkat. 

Herman juga mendorong petani karet mengintegrasi kebunnya dengan ternak (sapi, kambing, unggas dll). Biasanya petani karet menyadap dari pukul  05.00 -10.00, sehingga masih ada waktu longgar untuk pelihara ternak. "Jadi masih ada waktu yang bisa dimanfaatkan lebih produktif lagi," ujarnya.

Kemitraan

Pemerintah Provinsi Sumsel juga mendorong petani berkelompok dan melakukan kemitraan. Petani dianjurkan membentuk UPPB (Unit  Pengolahan dan Pemasaran Bokar) atau KUD (Koperasi Unit Desa).

Menurut Herman, petani yang harga karetnya rendah biasanya terjadi pada petani yang belum berkelompok. Sehingga, mereka belum melaksakan pasar lelang atau kemitraan dalam pemasaran. 

Nah, untuk petani yang sudah bergabung dengan UPPB, harga karetnya lebih tinggi Rp 2.000-Rp 3.000/kg dibandingkan dengan petani yang menjual sendiri sendiri.

Tercatat, saat ini sudah terbentuk/teregistrasi 177 UPPB  di Sumsel. Sebagian UPPB telah dibantu  sarana prasana pengolah karet oleh pemerintah.

Data Pemprov Sumsel menyebutkan, luas kebun karet di Sumsel sebanyak 1.311.006 ha dengan produksi 1.053.272 ton/tahun. Dari luasan kebun karet tersebut kurang lebih 95% milik rakyat. Sehingga, keberadaan karet di Sumsel sangat mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyakat. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018