Senin, 22 Juli 2019


Gengsi Kopi dan Jalan Sejahtera Petani Kopi?

18 Mar 2019, 07:02 WIB

Barista Kopi Khas Jambi | Sumber Foto:Ahmad Soim

Oleh Ahmad Soim – Pemimpin Redaksi Tabloid Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM - Seorang Fungsional Diplomat Kementerian Luar Negeri baru pulang dari Brussel, lalu ikut menyeruput kopi pada Hari Kopi Nasional, 11 Maret  yang diadakan Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) di Jakarta. Masyarakat Eropa adalah peminum kopi nomor satu dunia. Sayang kata diplomat itu, Ari Wardhana, tidak ada kopi bermerk Indonesia di Brussel. Yang ada adalah kopi dari Kolombia, Amerika Latin dan Afrika.  


Masyarakat Eropa dengan jumlah penduduk 550 juta jiwa setiap tahunnya mengkonsumsi kopi sebanyak 42,6 juta pound/lb. (satu lb = 60 kg). Nomor dua adalah Amerika Serikat. Dengan jumlah penduduk sekitar 327 juta jiwa, AS mengkonsumsi kopi sebanyak 25,8 juta lb. Nomor tiga, Brasil, dengan konsumsi kopi 21,2 juta lb. Kemudian, disusul Jepang, Rusia dan Indonesia. Indonesia setiap tahun mengkonsumsi kopi sebanyak 4,6 juta lb.


Konsumsi kopi Indonesia terus meningkat. Bila pada tahun 2017, angka konsumsi kopi nasional sebanyak 270 ribu ton, pada tahun 2019 diperkirkan akan mencapai 340 ribu ton, dan pada tahun 2020 angka konsumsi kopinya akan mencapai 350 ribu ton.


Total produksi kopi Indonesia pada tahun 2017 (BPS) sebanyak 667 ribu ton dari total kebun kopi seluas 1,248 juta ha. Artinya rata-rata produktivitas lahan kopi Indonesia baru mencapai 0,53 ton/ha. Kebanyakan lahan kopi tersebut adalah milik rakyat (95,46 persen), 2,17 persen milik perkebunan negara dan 2,37 persen milik perkebunan swasta.


Dari data konsumsi dan produksi kopi nasional tersebut menunjukan masih sebagian besar produksi kopi Indonesia diekspor ke manca negara. Ekspor Kopi Indonesia menjangkau lima benua yaitu Asia, Afrika, Australia, Amerika, dan Eropa dengan pangsa utama di Eropa. Sayang sekali, kopi yang diekspor Indonesia ini kebanyakan dalam bentuk green bean (biji kopi mentah), belum terolah atau tidak dengan brand (merk). 


Meski produksi kopi Indonesia berlebih dibanding konsumsinya, Indonesia juga mengimpor kopi. Pada tahun  2017,  impor kopi Indonesia  tercatat sebesar 14,22 ribu ton dengan nilai US$ 33,583 juta. Angka impor itu menurun sebesar 43,5 persen dari tahun 2016.

 

 Jalan bagi Petani Kopi

Menurunnya angka impor kopi Indonesia itu berbarengan dengan menjamurnya kafe-kafe yang menjajakan minuman maupun kemasan kopi di Indonesia.  Sulaiman, pedagang biji kopi asal Jakarta, mengatakan green bean kopi specialty di Indonesia ada yang harganya Rp 250 ribu/ kg. Ada juga yang harganya Rp 400 ribu/kg. Namun menurutnya kalau harga biji kopinya sudah Rp 400 ribu, kafe kafe lebih cenderung memilih biji kopi impor.


Tumbuhnya kafe kafe kopi itu juga meningkatkan konsumsi minuman hasil olahan biji kopi nasional. Selain menaikkan nilai jual, munculnya kedai-kedai tersebut juga  mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif dari komoditas kopi, baik untuk pasar domestik maupun ekspor yang dihela oleh anak-anak muda.


Pada sisi lain harumnya aroma kafe kopi itu  diharapkan bisa lebih banyak memberikan nilai tambah buat pembudidaya kopi. Rata-rata kepemilikan lahan petani kopi Indonesia adalah 1,31 ha per KK petani. Sementara, skala ekonomis usaha tani kopi adalah 2,7 ha. Rusman Heriawan yang pernah menjadi Wakil Menteri Pertanian, sebagai peneliti di Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dia mengatakan ada potensi miskin dalam kehidupan petani kopi.


Untuk menambah luas kepemilikan lahan kopi per KK, lahannya tidak tersedia. Rusman Heriawan berpendapat untuk meningkatkan pendapatan petani kopi, maka alternatifnya adalah mengajak petani kopi terjun pada bisnis olahan kopi, seperti buat roast bean dengan merk dagang, atau bahkan mengelola kafe kopi.


Alternatif lain untuk meningkatkan pendapatan petani kopi adalah meningkatkan produktivitas kebun kopinya. Produktivitas kebun kopi nasional berkisar pada 0,5 – 0,77 ton per ha. Sementara potensi varietas kopi nasional ada yang lebih 2 ton biji kopi per ha.


Peluang lainnya adalah beragam jenis indikasi geografis dari kopi-kopi nusantara, ada lebih dari 160 jenis yang sudah mendapatkan sertifikat indikasi geografis. Sebuah potensi besar untuk meningkatkan harga jual biji kopi milik petani. Perlu dipikirkan secara mendalam untuk strategi pemasarannya. 


Menemukan strategi  pemasaran kopi indikasi geografis Indonesia sangat berarti bagi petani Indonesia, karena 95 persen lebih kebun kopi Indonesia adalah milik rakyat. Pemerintah dan stake holder terkait perlu duduk bersama dan mencarikan cara untuk mengemas indikasi geografis kopi Indonesia untuk kesejahteraan petani.

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018