Selasa, 23 April 2019


Peremajaan Karet, Lebih Untung dengan Bibit Okulasi

19 Mar 2019, 11:37 WIBEditor : Yulianto

Hasanuddin, Ketua Asosiasi Penangkar Benih Perkebunan | Sumber Foto:Indarto

Selain memanfaatkan bibit karet dari sejumlah kebun entres, petani yang akan me-replanting juga bisa menggunakan bibit karet hasil okulasi yang telah disiapkan di sejumlah balai penelitian dan penangkar karet

TABLOIDSINARTANI.COM,Banyuasin--Pemerintah tahun ini mendorong peremajaan tanaman karet seluas 50 ribu hektar (ha). Jika tiap 1 ha kebun yang akan di-replanting perlu bibit karet sebanyak 500 batang, maka totalnya diperlukan 25 juta bibit.

Selain memanfaatkan bibit karet dari sejumlah kebun entres, petani yang akan me-replanting juga bisa menggunakan bibit karet hasil okulasi yang telah disiapkan di sejumlah balai penelitian dan penangkar karet. Bahkan, menurut pengakuan Ketua Asosiasi Penangkar Benih Perkebunan Sumatera Selatan, Hasanuddin, penggunaan bibit karet okulasi memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibanding bibit karet lainnya.

Menurutnya, bibit karet hasil okulasi pada panen awal produksi getahnya langsung deras. Artinya, ketika petani melakukan penyadapan, getahnya lansung keluar banyak. “Beda dengan bibit karet lainnya, saat awal panen getanya tak keluar banyak. Bahkan, nunggu beberapa bulan hingga setahun lagi, produksi getahnya banyak,” ujarnya di Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Palembang.

Hasanuddin yang telah melakukan penangkaran bibit karet sejak 25 tahun lalu sudah memanfaatkan bibit karet dari sistem okulasi. Diantara bibit karet okulasi itu adalah varietas PB 250, PB 260 dan IRRI 112.

“Salah satu yang menjadi daya tarik menggunakan bibit okulasi, karena pertumbuhannya relatif cepat. Sehingga, karet yang ditanam kurun 3,5-4 tahun bisa berproduksi,” katanya.

Hasanuddin mengaku, mampu menangkarkan bibit karet sebanyak 1 juta/tahun. Bibit karet okulasi umur 4-6 bulan hasil penangkaran tersebut laku dijual Rp 7.000-Rp 8.000/batang. “Setelah ditanaman, kurun 4 tahun bibit karet tersebut sudah berproduksi maksimal,” ujarnya.

Menurut Hasanuddin, di Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumsel ada lahan khusus untuk penangkaran benih karet seluas 25 ha. Bahkan, kawasan penangkaran benih karet tersebut sudah ditetapkan sebagai sumber benih karet di daerah ini. “Kalau benih karet yang kami gunakan biasanya berasal dari Pusat Penelitian Sembawa dan salah satu perusahaan swasta,” ujarnya.

Bibit karet yang diproduksi sejumlah penangkar di Sumsel, nantinya akan dimanfaatkan untuk membantu pemerintah me-replanting seluas 50 ribu ha/tahun. “Kalau dari Sumsel, luas lahan karet sebanyak 30?ri luas lahan nasional. Sehingga untuk Sumsel sendiri bisa melakukan replanting sekitar 15 ribu ha/tahun,” ujarnya.

Kalkulasi Hasanuddin,  jika ada 15 ribu ha/tahun, Sumsel perlu bibit karet sebanyak 7,5 juta batang/tahun. “ Banyak petani karet di sini yang minta kebunnya diremajakan, dan kami sebenarnya sudah siapkan bibitnya,” ujarnya

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018