Rabu, 24 Juli 2019


Selama Sewindu, 4,1 Juta Ha Lahan Sawit telah Tersertifikat ISPO

29 Mar 2019, 09:11 WIBEditor : Yulianto

Perusahaan penerima sertifikat ISPO | Sumber Foto:Clara

Dari luas areal yang sudah mendapatkan sertifikat ISPO, tanaman sawit yang menghasilkan seluas 2.765.569 ha dengan produksi tandan buah segar (TBS) 52.209.749 ton/tahun dan CPO 11.567.779 ton/tahun

TABNLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Komisi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) selama delapan tahun telah mengeluarkan sebanyak 502 sertifikat ISPO. Sertifikat itu diberikan kepada 493 perusahaan, 5 koperasi swadaya dan 4 KUD plasma dengan luas total areal 4.115.434 hektar (ha).

“Sewindu sudah usia Komisi ISPO.  Setidaknya 502 sudah sertikasi ISPO yang dikeluarkan, dan setiap tahunnya terus bertambah ini menjadi pembuktian bahwa ISPO sebagai penyelamat lingkungan,” kata Ketua Sekretariat Komisi ISPO, R. Aziz Hidayat dalam acara 3rd International Conference and Expo on Indonesia Sustainable Palm Oil (ICE-ISPO) di Jakarta, (27/3).

Dari luas areal yang sudah mendapatkan sertifikat ISPO sebesar 4.115.434 ha, hingga kini tanaman sawit yang menghasilkan seluas 2.765.569 ha dengan produksi tandan buah segar (TBS) 52.209.749 ton/tahun dan CPO 11.567.779 ton/tahun. Sedangkan   produktivitas tanaman yang telah mendapat sertifikat ISPO itu sebanyak 18,81 ton/ha dengan rendemen rata-rata 22,23 persen.

Dari 502 sertifikasi tersebut terdiri dari 459 perusahaan swasta dengan luas areal 3.905.138 ha atau 50,66 persen dari luas total 7,707 juta ha kebun sawit milik swasta. Sedangkan lahan sawit milik  PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang tersertifikat ISPO ada 34 kebun dengan luas areal 204.590 ha atau 28,80 persen dari luas total 710 ribu ha miliki perusahaan negara tersebut. Adapun koperasi pekebun plasma-swadaya yang mendapatkan sertifikat ISPO ada sebanyak 9 kebun dengan luas areal 5.796 ha atau 0,11 persen dari luas total 5,613 juta ha kebun rakyat.

Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Irmijati Rachmi Nurbahar mengatakan, sertifikat ISPO ini  menjadi pembuktian bahwa sebenarnya pola perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah menerapkan prinsip dan kriteria sustainability (keberlanjutan). Artinya kelapa sawit bukan hanya strategis dan prospektif, tapi bagian solusi mengatasi kemiskinan.

“Ini juga pembuktian Indonesia membangun kelapa sawit kelapa sawit berdasarkan prinsip berkelanjutan. Sertifikat ISPO-lah sebagai buktinya” tegas Irmi. ISPO juga menjadi salah satu amanah dalam Undang-Undang No.39 tahun 2014 tentang Perkebunan.

“Yang menerima sertifikat ISPO ini adalah perusahaan/petani yang menerapkan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dengan melihat ekonomi, sosial, budaya dan ekologi,” kata

Menteri Pertanian periode 2000-2005, Bungaran Saragih membenarkan bahwa Indonesia sudah sadar pentingnya berkelanjutan. Indikatornya sertifikat ISPO yang setiap tahunnya selalu meningkat. Sebelum adanya ISPO, untuk membuktikan bahwa perkebunan kelapa sawit tersebut berkelanjutan dengan memegang sertifikat Rountable Sustainable Palm Oil (RSPO). Kemudian lahirlah ISPO yang lebih nasional dan merujuk UU didalam negeri.

Alhasil kini perusahaan ataupun perkebunan rakyat telah mampu melakukan sertifikasi ISPO. Ini sebagai pembuktian bahwa perkebunan sawit yang dikelola telah menerapkan berkelanjutan. “Kita sudah bisa memperoduksi CPO yang bersertifikat keberlanjutan melebihi keinginan dari kebutuhan Eropa yang menginginkan CPO yang berkelanjutan. Jadi intinya bukan masalah keberlanjutan, tetapi masalah persaingan karena mereka menghasilkan minyak nabati lainnya,” papar Bungaran.

Meski begitu, Bungaran mengingatkan yang terpenting  bagi Indonesia adalah sudah bisa memberikan apa yang dinginkan masyarakat Eropa. “Kita tidak pernah mempermasalahkan RSPO ataupun ISPO karena keduanya mengutamakan prinsip sustanabilty. Saya berharap sertifikat ISPO bisa lebih maju dari RSPO, sebab yang dibawa ke International adalah ISPO,” pungkas Bungaran

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018