Rabu, 24 Juli 2019


Penghargaan Sawit Berkelanjutan untuk Mentan dan mantan Mentan

29 Mar 2019, 09:37 WIBEditor : Yulianto

Mantan Menteri Pertanian dan mantan Dirjen Perkebunan menerima penghargaan | Sumber Foto:clara

Penghargaan ini karena kontribusinya dalam memajukan perkebunan kelapa sawit Indonesia hingga dianggap perkebunan yang berkelanjutan

TABLOISINARTANI.COM, Jakarta— Peerjuangan terhadap pembangunan perkebunan sawit memang tak mudah. Apalagi kampanya negatif terhadap perkebunan sawit juga terus berlangsung.

Untuk menghargai perjuangan terhadap pembangunan perkebunan sawit, saat International Conference and Expo on Indonesia Sustainable Palm Oil (ICE-ISPO), Komisi ISPO memberikan penghargaan atas upaya tersebut. Penghargaan diberikan kepada Andi Amran Sulaiman (Menteri Pertanian saat ini), Suswono (Menteri Pertanian 2009-2014), Anton Apryantono (Menteri Pertanian 2004-2009), Bungaran Saragih (Menteri Pertanian 2000-2004) dan Achmad Manggabarani (Direktur Jenderal Perkebunan era Anton Apriyantono dan Suswono).

Penghargaan ini karena kontribusinya dalam memajukan perkebunan kelapa sawit Indonesia hingga dianggap perkebunan yang berkelanjutan. Andi Amran Sulaiman dianggap berjasa karena mampu melaksanakan program permajaan kelapa sawit yang cukup luas dan peningkatan produksi.

Suswono berjasa karena mensahkan ISPO dan terbitnya UU No.39/2014 mengenai Perkebunan. Anton Apriyantono berjasa atas usulannya untuk membentuk ISPO. Bungaran Saragih berjasa karena mengangkat Rountable Sustainable Palm Oil (RSPO) agar perkebunan sawit di Indonesia mendapatkan sertifikat keberlanjutan. Achmad Manggabarani berjasa atas perannya dalam memajukan sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Indonesia sendiri menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia dan menjadi sumber devisa negara. Banyak negara yang mengimpor minyak sawit dan produk turunannya asal Indonesia, sehingga menjadikan minyak sawit terkenal dan mengalahkan minyak nabati lainnya.

Pesatnya perkembangan minyak sawit kemudian memunculkan kampanye hitam bahwa perkebunan sawit tidak ramah lingkungan. Parahnya lagi, sempat tersebar kampanye bahwa minyak sawit dapat menyebabkan kanker.

Untuk menangkal berbagai isu negatif itu, pada tahun  2011 Pemerintah Indonesia menerbitkan kebijakan mengani Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). ISPO ini bersifat wajib bagi pelaku usaha perkebunan, khususnya swasta dan perusahaan negara. Sedangkan bagi perkebunan rakya sifatnya masih ‘sunah’.

Dengan adanya sertifikat ISPO yang mengatur berbagai ketentuan dalam pembangunan kebun sawit, maka perusahaan atau petani yang memegang sertifikat ini dijamin menerapkan sistem keberlanjutan. Sebab dalam kegiatan usahanya telah  memperhatikan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan ekologi.

Melihat pentingnya ISPO, Ketua pelaksana ICE-ISPO sekaligus Ketua Pengawas Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPERINDO), Gamal Nasir berharap setiap instansi atau lembaga pemerintah bisa satu visi memajukan ISPO untuk kelapa sawit Indonesia. “Jangan ada lagi pihak yang menjelek-jelekan ISPO, sebab ISPO adalah jati diri kelapa sawit Indonesia,” tegas Gamal

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018