Selasa, 21 Mei 2019


Ciaaattt...Berbagai Jurus Musi Banyuasin Tepis Black Campaign Sawit

02 Apr 2019, 12:50 WIBEditor : Gesha

Sebagai salah satu sentra penghasil sawit, Musi Banyuasin siapkan beberapa jurus untuk untuk menepis black campaign | Sumber Foto:ISTIMEWA

Mulai dari melakukan standar ISPO, fokus pada intensifikasi, pemenuhan standar RSPO, melakukan hilirisasi, menjadikan Indonesia sebagai penghasil alternatif minyak organik, ikut serta menjaga kelestarian, dan tidak memperkerjakan tenaga kerja di bawa

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Musi Banyuasin --- Produksi sawit Indonesia terus meningkat, namun serangan black campaign terus-terusan menyerang. Berbagai daerah sentra sawit tentunya mempersiapkan beragam jurus untuk menepis serangan tersebut.

Salah satunya adalah Kabupaten Musi Banyuasin yang memiliki total luas area perkebunan kelapa sawit 341 ribu hektar, dengan 56 persen dikuasai oleh perusahaan dan 40 persen merupakan perkebunan rakyat.

Kabupaten yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan ini melakukan berbagai langkah untuk menepis black campaign. Mulai dari melakukan standar ISPO, fokus pada intensifikasi, pemenuhan standar RSPO, melakukan hilirisasi, menjadikan Indonesia sebagai penghasil alternatif minyak organik, ikut serta menjaga kelestarian, dan tidak memperkerjakan tenaga kerja di bawah umur.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Musi Banyuasin, Iskandar Syahrianto, untuk saat di Musi Banyuasin yang mendapatkan sertifikat ISPO baru 17 perusahaan (200 ribu hektar) dari total 49 perusahaan. “Sisanya ini lagi dalam tahap proses dan sertifikasi dan pengusulan,” katanya dalam acara 3rd International Conference and Expo on Indonesia Sustainable Palm Oil (ICE-ISPO).

Fokus pada intensifikasi dengan cara menerapkan standar ISPO, melaksanakan peremajaan, dan insentif pemerintah terhadap petani swadaya dalam melakukan peremajaan kelapa sawit (salahsatunya pelepasan kawasan hutan).

“Untuk peremajaan dari tahun 2017-2019 telah melaksanakan peremajaan seluas 8.124 hektar dan rencananya di tahun 2019-2020 akan ada peremajaan seluas 5.360 hektar,” terang Iskandar. 

Sertifikasi RSPO merupakan salahsatu langkah untuk menembus pasar Eropa karena sertifikatnya diakui secara global. Tetapi untuk mendapatkan sertifikat ini, perusahaan atau petani kelapa sawit tidak mengizinkan pengembangan perkebunannya di areal kawasan hutan dan harus menyiapakan lahan High Conservation Value (HCV).

“Di Musi Banyuasin sendiri perkebunan kelapa sawit yang ada di kawasan hutan seluas 90 ribu hektar. Tetapi kita sudah mempunyai lahan HCV dan lahan High Carbon Stock (HCS) seluas 648.417 hektar dari total luas wilayah Musi Banyuasin (1.433.812 hektar),” sebut Iskandar.

Melakukan hilirisasi, yakni dengan pembuatan biofuel yang telah bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan menjadikan Indonesia sebagai penghasil biofuel dari kelapa sawit.

Ketika disinggung menjadi penyebab kebakaran hutan di Indonesia, Iskandar menjelaskan bahwa masyarakat Musi Banyuasin terutama perusahaan dan petani kelapa sawit ikut menjaga kelestarian hutan dan melaksanakan pencegahan terhadap peruskan hutan dan kebakaran hutan melalui kegiatan rutin OPD terkait.

“Kami juga tidak memperkerjakan anak-anak di bawah umur karena ada beberapa perusahaan yang nakal di daerah lain memperkerjakan anak di bawah umur dan kelapa sawit kita (Indonesia) terkena imbasnya,” jelas Iskandar. 

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018