Jumat, 21 Juni 2019


B100, Energi Baru Bahan Bakar Indonesia

15 Apr 2019, 17:13 WIBEditor : Yulianto

Mentan, Andi Amran Sulaiman mengisi B100 pada kendaraan operasional Kementan | Sumber Foto:Yulianto

Dengan potensi produksi minyak sawit (crude palm oil/CPO) di Indonesia yang mencapai 46 juta ton, maka pengembangan bahan bakar B100 potensinya luar biasa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Peluncuran bahan bakar nabati (BBN) dari minyak sawit B100 menjadi era baru energi Indonesia. Diharapkan B 100 menjadi bahan bakar masa depan Indonesia.

“B 100 ini merupakan yang pertama di Indonesia dam dunia. Dengan terbatasnya energi fosil, adanya B100 menjadi energi baru dan terbarukan yang berbahan baku CPO,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di sela-sela peluncurkan B 100 di Gedung Kementerian Pertanian, Senin (15/4).

Dengan potensi produksi minyak sawit (crude palm oil/CPO) di Indonesia yang mencapai 46 juta ton, maka pengembangan bahan bakar B100 potensinya luar biasa. Apalagi selama ini Indonesia mengekspor CPO sebanyak 34 juta ton.  “Jika 2-3 tahun lalu, kita masih B10, kemudian B15 dan B 20, kita coba langsung B100,” ujarnya.

Hitungan Amran, jika selama ini kebutuhan BBM solar dari impor sebanyak 16 juta ton/tahun, dan 6 juta ton sudah dipenuhi dari B20, maka ke depan diharapkan dapat penuhi seluruh kebutuhan solar dari B 100. “Artinya kita bisa mengurangi impor solar sebanyak 16 juta ton/tahun yang nilainya mencapai Rp 150 triliun. Jadi kita bisa menghemat devisa negara,” katanya.

Untuk bisa sepenuhnya mengganti solar dengan B100, Amran mengakui, dilakukan secara bertahap. Untuk tahap awal yakni 2 tahun terakhir sudah diujicobakan penggunaan B100 untuk 10 kendaraan operasional Kementerian Pertanian.

Hasilnya kendaraan tersebut mampu mencapai jarak 6.000 KM tanpa gangguan mesin. Pada uji coba tahap selanjutnya akan dilakukan pada 50 kendaraan dinas Kementerian Pertanian dan alat mesin pertanian, baik traktor roda 2 maupun roda 4. "Saya minta kendaraan pejabat eselon 1 hingga 4 menggunakan B100, termasuk mobil jemputan," katanya.

Untuk uji coba kali ini lanjuta Amran, pihaknya akan mengamati perkembangan secara bertahap. Mungkin yang harus diperhatikan adalah karet-karet pada mesin yang perlu diantisipasi. Untuk produsen alsintan, Amran juga memminta segera menyesuaikan karet-karet mesin dengan bahan bakar B100.

Sementara itu Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjri Jufri mengatakan, pengembangan bahan bakar nabati (BBN) sudah dilakukan sejak 2009 dengan 21 komoditas. Diantaranya, kemiri sunan, jarak pagar dan sawit yang kini menghasilkan B100. “Saat ini sudah ada 3 paten biofuel yang kita miliki, termasuk alat-alatnya,” ujarnya

Untuk produk B100 ini menurut Fadjri sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).  Namun pihaknya akan melihat lebih lanjut dampak penggunaan B100 terhadap mesin kendaraan. “Dari hasil uji coba sementara, kendaraan yang menggunakan B100 lebih irit. Per 1 liter B100 mampu mencapai 13,1 KM, sedangkan solar hanya 9,6 KM,” ungkapnya.  

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018