Selasa, 22 Oktober 2019


B100, ‘Melawan’ Kampanye Negatif Sawit

30 Apr 2019, 15:33 WIBEditor : Yulianto

B 100, bahan bakar masa depan Indonesia | Sumber Foto:Julian

Jika negara-negara di Eropa (Uni Eropa) menyetop impor minyak sawit, maka Indonesia sebagai negara penghasil terbesar minyak sawit bisa memanfaatkan untuk biodisel B100.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Peluncuran bahan bakar nabati (BBN) berbahan baku minyak sawit B100 menjadi sinyal kepada dunia dan shock terapi terhadap kampanye negatif terhadap sawit.

“B100 ini shock terapi ke dunia luar, terutama terhadap black campaign minyak sawit,” kata Kepala Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, Fadjri Jufri usai membuka Tarhib Ramadhan di Komplek Litbang Pertanian, Cimanggu, Bogor, Senin (29/4).

Artinya menurut Fadjri, jika negara-negara di Eropa (Uni Eropa) menyetop impor minyak sawit, maka Indonesia sebagai negara penghasil terbesar minyak sawit bisa memanfaatkan untuk biodisel B100. “Kita ingin membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia mampu buat B100. Ini loncatan besar. Kalau luar tidak mau beli minyak sawit, kita pakaian sendiri,” katanya.

Fadjri menegaskan, pengembangan BBN bukan hal yang baru, karena sudah dilakukan sejak 2009 dengan 21 komoditas. Diantaranya, kemiri sunan, jarak pagar dan sawit yang kini menghasilkan B100. “Saat ini sudah ada 3 paten biofuel yang kita miliki, termasuk alat-alatnya, termasuk biorekatornya,” ujarnya.

Ia menegaskan, bahwa pembuatan B100 ini bukan hoaks. Bahkan hasil uji coba B100, semuanya persyaratan sudah dipenuhi dan layak. Bahkan sudah sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Namun ia mengakui, pihaknya akan melihat lebih lanjut dampak penggunaan B100 terhadap mesin kendaraan. Dari hasil uji coba sementara, kendaraan yang menggunakan B100 sudah terbukti lebih efisien dan murah.  Tiap 1 liter B100 mampu mencapai 13,1 KM, sedangkan solar hanya 9,6 KM. Bukan hanya itu, B100 juga lebih ramah lingkungan.

Memang tidak cepat 1 bulan selesai. Saat ini kita uji mesin kendaraan traktor dan kendaraan operasional Kementerian Pertanian. Kita perlu pengujian 20 ribu KM, kemarin yang sudah diuji baru 6.000 KM,” tuturnya.

Bahkan menurut Fadjri, untuk penggunaan pada alat mesin pertanian, pihaknya sudah membicarakan dengan industri mekanisasi pertanian, termasuk membuat tim bersama dengan industri alsintan. Persoalan utama yang memang harus disesuaikan pada kendaraan adalah karet-karet pada mesin.

Dugaan sementara dibandingkan blending (campuran minyak sawit dan solar), ternyata B 100 lebih bagus. Mesin lebih mudah untuk beradaptasi,” katanya. Ke depan Fadjri berharap pengembangan B 100 ini bisa berjalan bersama-sema dengan Kementerian ESDM.

Fadjri mengatakan, potensi pengembangan biodisel di Indonesia cukup besar, apalagi teknologinya sudah siap. Sedangkan bahan baku yang bisa untuk biodisel ada sekitar 31 komoditas. Kita punya alatnya. Tapi saran Mentan, kita fokus sawit dulu. Lebih gampang,” ujarnya.

Sementara mengenai kegiatan Tarhib Ramadhan, Fadjri mengatakan, kegiatan itu merupakan rutinitas tahunan menyambut Bulan Suci Ramadhan. Untuk tahun ini, pihaknya banyak melibatkan UMKM di Bogor dan 17 BPTP di bawah Badan Litbang Pertanian.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018