Senin, 22 Juli 2019


Lawan Kampanye Hitam Sawit Tak Sekadar ISPO dan RSPO

10 Mei 2019, 16:41 WIBEditor : Gesha

Pelaku usaha minyak sawit sampai saat ini terus melakukan banyak perbaikan guna menghasilkan minyak sawit berkelanjutan. | Sumber Foto:INDARTO

Pelaku usaha minyak sawit sampai saat ini terus melakukan banyak perbaikan guna menghasilkan minyak sawit berkelanjutan.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---- Isu deforestasi, punahnya biodiversity, konflik lahan, perubahan iklim global, hingga pekerja anak terus digulirkan parlemen Uni Eropa (UE) untuk menghadang laju industri sawit di tanah air yang sudah mengglobal. Guna melawan kampanye hitam yang dilontarkan parlemen UE saat ini tak cukup dengan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Untuk melawan kampanye hitam yang dilontarkan parlemen UE tak cukup hanya diatasi dengan pelabalen melalui Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), ISCC, dan ISPO. Tentunya harus ada studi-studi lagi untuk menjawab tantangan parlemen UE. Dan hal tersebut saat ini sedang dipersiapkan tim Deputi II Menko Bidang Perekonomian, ” kata Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), Herdrajat Natawijaya, dalam diskusi bertajuk “Sustainable Palm Oil: Beli yang Baik” , di Jakarta Rabu (9/5).

Menurut Herdrajat, black campaign yang dilontarkan parlemen UE itu juga menjadi semangat industri sawit di tanah air untuk berbenah diri. Salah satunya adalah dengan menerapkan sustainable palm oil industry (industri sawit berkelanjutan).

“Konsep pembangunan kelapa sawit berkelanjutan merupakan upaya dalam menanggapi isu-isu penting tentang keberlanjutan di industri kelapa sawit agar pemenuhan kebutuhan saat ini tidak berdampak buruk di masa mendatang, ” papar Herdrajat.

Ia juga mengatakan, BPDP-KS terus memperjuangkan keberadaan minyak sawit Indonesia yang telah memiliki prinsip dan kriteria berkelanjutan. Sebab, minyak sawit Indonesia telah memiliki standar berkelanjutan sebagai mandatori seperti ISPO bagi perkebunan kelapa sawit nasional.

Selain itu, sebagian besar minyak sawit Indonesia juga telah memiliki sertifikasi RSPO dan International Standard Carbon Certification (ISCC) yang secara sukarela dilakukan petani dan perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional.

Herdrajat pun tak memungkiri, industri minyak sawit sudah melakukan banyak pembenahan dalam praktek budidaya hingga perdagangannya. Artinya, kebutuhan pasar dunia akan minyak sawit berkelanjutan, juga bisa didapatkan dari Indonesia.

Bahkan, BPDP KS pun ikut mendorong peranan pasar domestik, untuk terus meningkatkan konsumsi minyak sawit melalui program mandatori biodiesel. Mengingat, industri strategis, minyak sawit memiliki peluang besar dalam mendulang devisa negara, melalui ekspor minyak sawit dan turunannya.

Hal yang hampir sama juga diungkapkan, Senior Managing Director Sinar Mas Agri, Agus Purnomo. Menurut Agus Purnomo, pelaku usaha minyak sawit sampai saat ini terus melakukan banyak perbaikan guna menghasilkan minyak sawit berkelanjutan.

Prinsip utama tranparansi dan akuntabilitas juga telah diterapkan kepada mata rantai pemasok Tandan Buah Segar (TBS) yang diproses Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik perusahaan.

"Kendati tak mudah, kami memiliki optimisme besar akan keberhasilan minyak sawit yang ramah lingkungan dan sosial. Perusahaan terus melakukan pembenahan untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan, ”kata Agus Purnomo.

Sustainable Palm Oil Program Manager WWF Indonesia, Joko Sarjito juga mengatakan, peranan masyarakat global akan kebutuhan minyak sawit berkelanjutan, juga sering disuarakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional dan nasional.

LSM WWF Indonesia juga memiliki program kampanye positif minyak sawit, juga sering menyuarakan kepada masyarakat luas supaya mau membeli minyak sawit yang baik.

“WWF Indonesia terus mendorong berbagai upaya perbaikan yang dilakukan untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan, ” ujar Joko Sarjito.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur RSPO Indonesia, Tiur Rumondang mengatakan, minyak sawit berkelanjutan yang berhasil diproduksi dunia sebanyak 13 juta ton/tahun.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 52% lebih berasal dari produksi Indonesia. “Tentunya, ini menjadi prestasi besar untuk Indonesia. Sebagai produsen terbesar CPO dunia, kini predikat terbesar produsen minyak sawit berkelanjutan, juga melekat kepada Indonesia, ” kata Tiur Rumondang.

Menurut Tiur, RSPO sampai saat ini terus melakukan evaluasi dan perbaikan prinsip dan kriteria RSPO (P&C RSPO) setiap 5 tahun sekali. Bahkan, P&C RSPO akhir tahun 2018 lalu, telah banyak mengalami perubahan guna menghasilkan minyak sawit berkelanjutan yang ramah lingkungan dan ramah sosial.

Ia juga mengatakan, pengembangan usaha minyak sawit, tak hanya persoalan bisnis semata. Namun, industri minyak sawit telah menjadi bagian dari pembangunan nasional berkelanjutan. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018