Senin, 18 November 2019


BUN 500, 500 Juta Bibit Unggul Perkebunan untuk Petani  

14 Mei 2019, 17:16 WIBEditor : Gesha

Selama ini bibit karet yang dihasilkan penangkat karet di Sumsel sudah dimanfaatkan untuk membantu pemerintah me-replanting kebun karet yang sudah tua. | Sumber Foto:Istimewa

Selama ini bibit karet yang dihasilkan penangkat karet di Sumsel sudah dimanfaatkan untuk membantu pemerintah me-replanting kebun karet yang sudah tua.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Palembang --- Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan menyiapkan 500 juta bibit unggul untuk pengembangan perkebunan dalam kurun enam tahun mendatang (2019-2024).  Bibit unggul yang dikemas dalam program Bun 500 ini nantinya untuk program peremajaan tanaman yang sudah tua, rehabilitasi tanaman dan perluasan tanaman di sentra-sentra perkebunan.

Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono mengatakan, pihaknya akan menyiapkan bibit unggul sekitar 83-85 juta batang/tahun. Bibit tersebut diharapkan bisa meningkatkan produksi dan produktivitas perkebunan.

Seperti kopi yang saat ini produktivitasnya hanya 0,72 ton/tahun/ha, dengan bibit unggul tersebut produktivitas kopi yang ditanam petani (pekebun,red) bisa meningkat menjadi 3,5 ton/tahun/ha. “Kita siapkan bibit unggul tersebut supaya produktivitas perkebunan yang dikelola petani (pekebun) bisa meningkat dan mereka bisa lebih sejahtera,” kata Kasdi. 

Kasdi menegaskan, pengembangan bibit unggul yang dilakukan Ditjenbun Kementan berdasarkan skala prioritas. Artinya, tak semua komoditas perkebunan (460 komoditas) dikembangkan. Namun, untuk  saat ini pemerintah fokus pada 8 komoditas unggulan yakni, lada, pala, cengkeh, karet, tebu, kopi, kelapa, dan kakao.

Menurutnya,  dari target 500 juta bibit pada tahun ini sudah didistribusikan sekitar 30 juta bibit ke sejumlah pekebun secara gratis.  Diantara bibit unggul yang sudah didistribusikan ke petani (pekebun) itu seperti kopi, kakao, kelapa, pala dan lada. 

“Distribusi bibit unggul tersebut kita sesuaikan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif masing masing lokasi. Kalau nilainya tinggi kita kembangkan,dan kita bantu. Untuk memudahkan penyebarannya,  kita telah membuat peta sesuai dengan keunggulan itu kemudian kita bagikan,” papar Kasdi.

Ketua Asosiasi Penangkar Benih Perkebunan Sumatera Selatan, Hasanuddin mengatakan program Bun 500 ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah ke sektor perkebunan. “Karena itu, kami para penangkar karet dari Sumsel siap menyambut program tersebut. Bahkan, kami sudah siapkan bibit karet sebanyak 5 juta-7 juta batang/tahun,” katanya ketika dihubungi tabloidsinartani.com.

Hasanuddin mengatakan, 24 penangkar karet Sumsel akan menyiapkan bibit karet unggul dan bermutu yang nantinya bisa dibagikan kepada petani karet. Bibit tersebut merupakan hasil okulasi. Bibit karet hasil okulasi tersebut siap dijual pada umur 4 bulan, 6 bulan dan 12 bulan dengan harga Rp 7.300-Rp 8.500/batang.

Selama ini menurut Hasanuddin, dirinya menjual bibit karet okulasi ini ke sejumlah perusahaan hutan tanaman industri (HTI) dan sejumlah proyek pemerintah. Penangkar karet Sumsel selain memanfaatkan bibit karet dari sejumlah kebun entres, juga bisa menggunakan bibit karet hasil okulasi yang telah disiapkan di sejumlah balai penelitian dan penangkar karet.

“Bibit karet hasil okulasi  memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibanding bibit karet lainnya. Bibit karet hasil okulasi pada panen awal produksi getahnya langsung deras. Artinya, ketika petani melakukan penyadapan, getahnya lansung keluar banyak,” jelas Hasanuddin.

Petani karet Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Palembang ini juga mengakui, sudah 25 tahun lalu menangkarkan bibit karet hasil okulasi  Diantara bibit karet okulasi itu adalah varietas PB 250, PB 260 dan IRRI 112. “Bibit karet hasil okulasi ini pertumbuhannya juga cepat. Sehingga, bibit karet yang ditanam petani kurun 3,5-4 tahun bisa berproduksi,”  ujarnya.

Menurut Hasanuddin, di Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumsel ada lahan khusus untuk penangkaran benih karet seluas 25 ha. Nah, di kawasan penangkaran benih karet tersebut sudah ditetapkan sebagai sumber benih karet Sumsel.

Ia juga mengatakan, selama ini bibit karet yang dihasilkan penangkat karet di Sumsel sudah dimanfaatkan untuk membantu pemerintah me-replanting kebun karet yang sudah  tua. “Kalau dari Sumsel, luas lahan karet sebanyak 30 ribu ha dari  luas lahan kebun karet nasional.  Karena itu, kami optimis  untuk Sumsel sendiri bisa melakukan replanting sekitar 15 ribu ha/tahun,” jelas Hasanuddin.

Hasanuddin juga mengatakan,  dari 15 ribu ha/tahun kebun karet yang direplanting itu, paling tidak perlu bibit sebanyak 7,5 juta batang/tahun. “Selain untuk replanting karet di Sumsel, kami juga siap membantu pemerintah meremajakan kebun karet di sejumlah sentra karet di tanah air,” pungkas  Hasanuddin.

Menurutnya, negara lain banyak belajar dari Indonesia , dan akhirnya mereka menjadi negara yang sub sektor perkebunan tumbuh dengan hebat.  "Mereka bisa berjaya karena cara menangani perkebunan dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan produksi tinggi dengan bibit unggul (bermutu),” papar Hasanuddin.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018