Minggu, 18 Agustus 2019


43.000 Ha Tanaman Kakao Siap Diremajakan

20 Mei 2019, 08:20 WIBEditor : Gesha

Bibit Kakao siap ditanam untuk replanting di Kolaka Utara | Sumber Foto:INDARTO

Peremajaan kakao tahun ini mendapat dukungan biaya dari APBN sebesar Rp 14 miliar. Sehingga, petani yang terlibat dalam peremajaan kakao tahun ini akan diberi bibit kakao secara gratis dari pemerintah.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Kolaka Utara----- Dari 78.969 ha kebun kakao di Kolaka Utara saat ini sebagian besar sudah tua sehingga produktivitasnya rendah.  Guna meningkatkan produksi kakao tersebut, pemerintah kabupaten (Pemkab) Kolaka Utara pada tahun 2019 berencana meremajakan kakao yang rusak karena penyakit dan sudah tua.

“Lahan kakao yang akan direplanting tahun ini melibatkan 69 kelompok tani. Kebun kakao seluas 43.000 ha yang akan direplanting diperkirakan memerlukan bibit kakao sebanyak 1,55 juta batang,” papar Kabid Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kolaka Utara, Moh. Shadik, kepada tabloidsinartani.com.

Menurut Shadik, peremajaan kakao tahun ini mendapat dukungan biaya dari APBN sebesar Rp 14 miliar. Sehingga, petani yang terlibat dalam peremajaan kakao tahun ini akan diberi bibit kakao secara gratis dari pemerintah.

Peremajaan kakao secara bertahap, tahun 2018 lalu kami telah meremajakan kakao di lahan seluas 6.700 ha. "Kakao yang kami remajakan sebanyak 3.200 ha dari dana APBD, 1.500 ha dari APBN dan 2.000 ha dari dana desa,” ujar Shadik.

Menurut Shadik, karena banyak kakao yang usianya di atas 25 tahun (sudah tua,red) dan terserang penyakit, maka produktivitas kakao di Kolaka Utara relatif redah, yakni hanya 750 kg/ha.

“Memang ada juga petani yang tanam kakao, produktivitasnya sampai 3 ton/ha. Tapi, yang produktivitasnya tinggi jumlahnya hanya sedikit. Karena itu, kami komitmen untuk melakukan peremajaan dan kami minta dukungan pemerintah pusat dalam rangka peningkatan produksi kakao rakyat di Kolaka Utara,” papar Shadik.

Dalam mengimplementasikan peremajaan tersebut, Pemkab Kolaka Utara mengajak petani kakao untuk menanam jagung di sebagai tanaman sela.

Sehingga, selama menunggu kakao mulai berbuah (1,5-1,8 tahun), petani masih punya penghasilan dari tanam jagung.

“Jagung nanti kami harapkan bisa ditanam sebagai tanaman sela. Sehingga tiap 3 bulan sekali petani masih mendapatkan hasil dari panen jagung tersebut,” jelas Shadik.

Shadik mengatakan, petani Kola Utara mayoritas sudah siap mengikuti program peremajaan kakao. Pemerintah pun saat ini sudah menyiapkan bibit siap salur umur 8-9 bulan.

Bibit siap salur ini nantinya akan diberikan langsung ke petani yang mengikuti program peremajaan.

“Kami perkirakan, kakao yang ditanaman tahun ini, kurun 1,5-1,8 tahun ke depan sudah bisa dipetik hasilnya. Bahkan, ada juga jenis bibit kakao unggul pada umur 8 bulan sudah mulai belajar berbuah,” jelas Shadik.

Bibit kakao yang diberikan ke petani, lanjut Shadik, semuanya dari bibit sambung pucuk. Entres benihnya dari kakao lokal jenis MCC 02 dan Sulawesi 2.

Diharapkan, dengan bibit sambung pucuk ini, produktivitas kebun kakao yang sudah diremajakan akan meningkat 2-3,5 ton/ha.

Dorong Petani Berkoperasi

Selain produktivitas rendah, petani kakao Kolaka Utara juga belum bermitra dengan industri. Bahkan, sejumlah petani kakao di Kolaka Utara belum memanfaatkan koperasi unit desa (KUD) sebagai tempat menjual hasil panennya.

“Banyak petani yang terjebak praktik ijon. Sehingga, mereka banyak yang menjual hasil panennya langsung ke tengkulak atau pengijon dengan harga murah,” ujar Shadik.

Menurut Shadik, di Kolaka Utara sudaha ada beberapa KUD. Namun, keberadaan KUD ini belum bisa dimaksimalkan oleh petani. Karena itu, untuk mengatasi banyaknya petani yang terjebak ijon dan tengkulak ini, Pemkab Kolaka Utara mendorong petani untuk berkoperasi.

Diharapkan, dengan bergabung ke koperasi, petani bisa mendapatkan harga jual yang layak. Petani yang sudah berkoperasi nantinya bisa punya posisi tawar apabila kualitas kakao yang dihasilkan bagus.

“Untuk melindungi petani, Pemkab Kola Utara akan membuat aturan tata niaga. Karena selama ini, berapa banyak kakao yang dijual petani ke pasar pun datanya sulit dilacak. Apalagi soal harga kerap kali berada di bawah harga pasar,” paparnya.

Menurut Shadik, harga kakao di musim panen tahun ini (Mei-Juni) hanya sekitar Rp 28 ribu/kg (kering). Padahal, sebelumnya harga kakao bisa mencapai Rp 30 ribu-Rp 32 ribu/kg.

“Karena petani jual langsung ke tengkulak. Sehingga tak punya daya tawar. Apalagi kalau sampai jatuh ke pengijon, harganya tentu jauh lebih murah. Bahkan, ada biji kakao basah yang dijual dengan harga Rp 10 ribu-Rp 11ribu/kg,” jelas Shadik.

Hingga saat ini, biji kakao asal Kolaka Utara banyak dijual pedagang ke Kolaka Utara dijual sampai ke Luwu Timur, Siwa dan Kendari.

“Saat ini kami masih konsentrasi melakukan pembenahan tanam supaya tanaman bisa ditanam dengan baik, diberi pupuk dengan baik. Sehingga tanaman kakao tumbuh dengan sehat. Kalau tumbuh dengan sehat, bijinya akan berkualitas dan harganya pun bagus,” papar Shadik.

Nah, baru tahun depan (2020) Pemkab Kolaka Utara mendorong petani kakao memperhatikan aspek paska panennya.

“Nantinya, petani akan kami dorong bisa mengolah kakao sendiri. Karena itu kami juga minta pemerintah pusat memberi bantuan mesin pengering skala rumah tangga dan alat pasca paen lainnya supaya petani kakao di sini punya daya saing,” pungkas Shadik. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018