Minggu, 18 Agustus 2019


Ini Strategi Pemerintah untuk Swasembada Gula Konsumsi

21 Mei 2019, 08:54 WIBEditor : Gesha

Data Ditjen Perkebunan, areal Hak Guna Usaha HGU (HGU) yang dimiliki 10 PG (pabrik gula) baru dan revitalisasi di Luar Jawa mencapai 35 ribu ha. Karena itu diperlukan areal dari kebun plasma seluas 25 ribu ha. | Sumber Foto:ISTIMEWA

Data Ditjen Perkebunan, areal Hak Guna Usaha HGU (HGU) yang dimiliki 10 PG (pabrik gula) baru dan revitalisasi di Luar Jawa mencapai 35 ribu ha. Karena itu diperlukan areal dari kebun plasma seluas 25 ribu ha.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ----Dengan makin terbatasnya pengembangan lahan tebu di Pulau Jawa, pemerintah kini terus mendorong perluasan areal pertanaman tebu di luar Pulau Jawa. Paling tidak untuk mencapai swasembada gula konsumsi dengan jumlah 3 juta ton harus ada total lahan tebu seluas 500 ribu hektar (ha).

Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian,  Agus Wahyudi di Jakarta, Senin (21/5) mengatakan, saat ini luas lahan tebu sekitar 420 ribu ha dengan produktivitas tanaman 5,3 ton/ha. Lahan itu  seluas 220.000 ha di Jawa dan 200.000 ha di luar Jawa.

Artinya untuk mencapai luas lahan sebesar 500 ribu ha, harus ada tambahan sekitar 80 ribu ha, terutama areal yang dikelola pabrik gula (PG) baru. Perluasan areal itu berasal dari Jawa seluas 20 ribu ha dan luar Jawa 60 ribu ha.

“Kita menargetkan paling lambat dalam lima tahun mendatang areal tebu nasional minimum 500.000 ha dengan produktivitas 6 ton GKP/ha. Ini  sebagai upaya mencapai produksi gula dalam negeri sebanyak 3 juta ton,” tuturnya.

Agus mengharapkan, ke depan peningkatan produksi gula di luar Jawa lebih besar dari produksi di Jawa. Apalagi kondisi lahan di Jawa makin terbatas dan persaingan penggunaan lain yang sangat tinggi.

Menurut Agus, potensi pengembangan tebu di luar Jawa cukup besar. Data Ditjen Perkebunan, areal Hak Guna Usaha HGU (HGU) yang dimiliki 10 PG (pabrik gula) baru dan revitalisasi di Luar Jawa mencapai 35 ribu ha. Karena itu diperlukan areal dari kebun plasma seluas 25 ribu ha.

Sebanyak 10 PG di luar Jawa tersebut yakni, PG Sukses Mantap di Dompu, NTB dengan kapasitas produks 6 ribu TCD (ton cane perday), PT. Adhikarya Gemilang (Lampung) 12 ribu TCD, PT. Laju Perdana Indah (OKU, Sumsel) 8 ribu TCD, PT. Pratama Nusantara (OKI, Sumsel) 8 ribu TCD, PT. Pemuka Sakti Manis (Way Kanan, Lampung) 12 ribu TCD dan PT. Muria Sumba Manis (Sumba, NTT) 12 ribu TCD.

Selain itu PG. Sei Semayang (Deli Serdang, Sumut) 6 ribu TCD, PG. Kwala Madu (Langkat, Sumut)  4 ribu TCD, PG. Gorontalo  (Gorontalo) 5 ribu TCD dan PG. Jhonlin Batu Mandiri (Bombana, Sultra) 10 ribu ha. Dari 10 PG di luar Jawa tersebut ada potensi produksi sebanyak 83 ribu TCD.

Kalkulasi pemerintah, untuk mencapai produksi tersebut diperlukan areal seluas 177.857 ha. Saat ini menurut Agus, lahan tebu milik 10 PG di luar Jawa tersebut seluas 75.053 ha, sedangkan milik petani seluas 14.140 ha. Dengan demikian sudah ada lahan yang eksisting seluas 87.192 ha, sehingga masih ada kekurangan lahan sekitar 90.665 ha.

Program Plasma

Guna mencapai tambahan lahan tersebut pemerintah telah membuat program penambahan areal tebu di luar Jawa melalui program plasma tebu hingga tahun 2024. Untuk tahun 2019 seluas 2 ribu ha, tahun 2020 (18.600 ha), tahun 2021 (18.600 ha), tahun 2022 (18.600 ha), tahun 2021 18.465 ha dan tahun 2024 seluas 12.650 ha.

 “Mengingat HGU yang tersedia untuk PG baru dan revitaliasai terbatas, maka untuk memenuhi kapasitas PG harus ada pasokan dari pekebun tebu plasma,” katanya.

Untuk program itu, pemerintah akan mengembangkan sistem kemitraan PG-Pekebun dan pengembangan keterampilan teknis bagi pekebun, serta pengembangan kelembagaan perbenihan. Dengan program tersebut Agus berharap,  swasembada gula nasional bisa tercapai pada tahun 2024 nanti. Saat ini  kebutuhan gula nasional sebanyak 2,7 juta ton, sedangkan produksi gula hanya sekitar 2,2 juta ton.

Ditjen Perkebunan juga mendorong petani tebu untuk meningkatkan produktivitas melalui tata kelola air. Sebab, sesuai rencana lahan tebu yang akan dikembangkan ke depan sudah bergeser pada budidaya tebu lahan kering. "Untuk itu, pengembangan tata kelola air pun menjadi skala prioritas . Sebab, kalau tata kelola air tak dikelola dengan baik, produktiviuta tebu dikawatirkan tak naik signifikan,” papar Agus.

Upaya lainnya yang kini sedang dilakukan Ditjenbun Kementan untuk mendorong peningkatan produksi tebu adalah, dengan mengembangkan pola tanam dan jadwal tanam. Artinya, pabrik tebu bisa beroperasi sesuai jadwal tanam. 

“Namun, pola tanam dan jadwal tanam itu sudah lama ditinggalkan, sehingga hampir semua PG saat ini rendemen giling awalnya rendah. Sebab, mereka tak menjadwalkan areal mana yang akan dipanen lebih dahulu. Karena itu, pola tanam dan jadwal tanam ini akan kami jadikan strategi untuk meningkatkan produksi,” papar Agus.

Agus juga mengimbau agar PG tetap menjaga kemitraan dengan petani. Artinya, ketika panen, petani bisa serahkan tebunya ke PG dan langsung mendapatkan bayaran. Jadi meski beli putus, bukan berarti antara PG dan petani tak ada ikatan. Justru, PG harus tetap menjaga kemitraan dengan petani melalui pengembangan ketrampilan kepada mereka. 

Reporter : Juli
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018