Minggu, 18 Agustus 2019


Peremajaan Sawit Mandiri Ala KUD Sawit Jaya

19 Jul 2019, 08:14 WIBEditor : Gesha

Petani melakukan replanting sawit secara swadaya | Sumber Foto:HUMAS KEBUN

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Kebun sawit yang sudah berusia 25 tahun ke atas sudah seharusnya diremajakan. Selain meremajakan kebunnya bersama mitra, petani juga bisa meremajakan kebun sawitnya yang sudah tua dan tak produktif secara mandiri (swadaya).

KUD Sawit Jaya bersama 23 koperasi lainnya di Kab. Paser, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bisa menjadi inspirasi bagi sejumlah kelompok petani sawit lainnya untuk melakukan peremajaan secara mandiri.

“Kebetulan kami termasuk petani pekebun inti rakyat (PIR)  yang sejak tahun 1983/1984 bersama PTPN XIII mengembangkan kebun sawit di Kabupaten Paser, Kaltim. Karena sebagian besar kebun  sudah tua, kami bersama 23 koperasi petani sawit lainnya ser melakukan replanting secara mandiri di lahan seluas  270 ha pada tahun 2011,” kata Ketua KUD Sawit Jaya, Kab. Paser, Kalimantan Timur (Kaltim), Aliyadi (55), di sela sebuah diskusi, di Jakarta.

Menurut Aliyadi,  sebelum dilakukan peremajaan, produktivitas kebun sawit yang ditanam  di lahan seluas 900 ha (450 PIR,red) di bawah 10 ton/ha. Namun, setelah peremajaan, produktivitas sawit yang ditanaman petani saat ini mencapai 14 ton/ha.

“Bahkan satu kali panen (20 hari sekali,red), petani bisa mendapatkan keuntungan Rp 300 ribu-Rp 400 ribu/petani/ha,” ujar Aliyadi.

Aliyadi juga mengatakan, untuk melakukan peremajaan bukan perkara mudah. Selain dana yang tersedia harus mencukupi, petani  pun harus bisa mendapatkan bibit sawit berkualitas. 

“Kebetulan usaha kami selama ini cukup bagus dan kerjasama dengan PTPN XIII sebagai BUMN yang siap membeli TBS dan sekaligus mengangkut sawit kami berjalan lancar. Sehingga kami bisa menyisihkan uang hasil jualan TBS untuk meremajakan kebun yang sudah tua,” jelas Aliyadi.

Menurut Aliyadi, dari 900 ha lahan kebun sawit yang dikelola  anggota petani KUD Sawit Jaya memang masih ada yang perlu diremajakan lagi. Karena itu, manajemen KUD Sawit Jaya pada tahun 2012 bermitra dengan BRI untuk melakukan peremajaan pada tahap berikutnya.

“Saat itu, kami dijanjikan bisa mendapatkan pendanaan dari Kur Linked. Kami juga sudah kerjasama dengan mitra dari perusahaan benih  untuk meremajakan kebun seluas 180 ha,” paparnya.

Namun, kata Aliyadi, untuk melakukan peremajaan pada tahap kedua tak berjalan lancar. Sebab,  pada akhir Desember 2014 ,  di BRI sudah tak ada lagi program KUR Linked sebagai sumber pendanaan peremajaan. “Karena sumber dananya tak ada, kami tak lanjutkan rencana replanting tersebut,” ujarnya.

Setelah menunggu agak lama, pada tahun 2016 KUD Sawit Jaya mencoba melakukan replanting dengan bantuan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) yang besarnya Rp 25 juta/ha.

“Lahan seluas 180 ha itu kami ajukan untuk dilakukan replanting. Barulah pada Agustus 2018 kami bisa melakukan replanting lagi bersama 23 koperasi lainnya di Kabupaten Paser,” ujarnya.

Aliyadi juga mengakui, karena sebagian lahan sawit baru saja diremajakan, sehingga produksi sawit dari sejumlah petani yang tergabung di KUD Sawit Jaya belum maksimal.

“Karena kami punya lahan seluas 2 ha dan sebagian lahannya dimanfaatkan untuk tanaman lainnya, sampai saat ini masih punya pendapatan sekitar Rp 6 juta/bulan,” papar Aliyadi. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018