Minggu, 18 Agustus 2019


Perkebunan Paling Siap Masuki Era Pertanian 4.0

24 Jul 2019, 11:59 WIBEditor : Gesha

Mantan Menteri Pertanian, Rusman Heriawan mengatakan, subsektor perkebunan adalah yang paling siap menghadapi era 4.0. Sebab pelaku usaha umumnya adalah industri dengan skala usaha cukup besar, terutama untuk industri sawit. | Sumber Foto:ECHA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Dari beberapa subsektor pertanian, subsektor perkebunan paling siap masuki era pertanian 4.0. Sedangkan subsektor  tanaman pangan dan peternakan relatif belum siap memasuki era tersebut.

Mantan Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan mengatakan, subsektor perkebunan adalah yang paling siap menghadapi era 4.0. Sebab pelaku usaha umumnya adalah industri dengan skala usaha cukup besar, terutama untuk industri sawit. Sementara untuk tanaman pangan terlihat masih sulit menghadapi era 4.0. Sebab, umumnya kondisi petani tanaman pangan terbilang masih lemah, baik dari SDM dan skala usahanya.

"Kalau dari semangatnya boleh saja 4.0, meski kondisinya masih minus 0. Jadi untuk bisa 4.0 , kita harus melihat kondisi di lapangan," kata Rusman dalam Forum Diskusi Pembangunan Pertanian Peta Jalan Menuju Pertanian 4.0 di Museum Tanah dan Pertanian Bogor, Rabu (24/7).

Kondisi yang hampir sama dengan tanaman pangan juga terjadi pada subsektor peternakan. Pelaku usaha peternakan dalam negeri juga umumnya peternak kecil. Sedangkan di subsektor hortikultura, Rusman menilai, pelaku usaha yang bergerak di hortikultura sangat banyak, ada yang skala besar dengan teknologi maju, tapi ada juga yang skala kecil dengan teknologi budidaya tradisional. "Kalau di subsektor hortikultura saya melihat ada yang siap, ada juga yang tidak, karena range cukup luas," katanya.

Sementara itu, mantan Dirjen Perkebunan, Badrun mengatakan, dalam menghadapi era 4.0 pembangunan perkebunan harus mulai berubah, apalagi menyikapi ancaman energi global.  "Jangan lagi usaha perkebunan bersifat monokultur. Ke depan paling sesuai adalah dengan polikultur berbasis tanaman perkebunan," katanya.

Misalnya usaha perkebunan dengan sistem tumpang sari. Untuk tanaman karet, penanaman atau jarak tanam harus diperlonggar, sehingga produktivitas meningkatkan dan daya saing menjadi lebih baik.  Pendapatan petani juga meningkat, karena ada penghasilan tambahan dari tanaman sela.

Sementara untuk usaha kelapa sawit, harus mendorong pemanfataan produk sampingan sawit. Sebagai produsen sawit terbesar di dunia, saat ini komponen sawit  yang bisa dimanfaatkan ada 3 bagian yakni TBS, batang dan pelepah. "Sekarang yang baru dimanfaatkan TBS saja.TBS pun baru CPO. Jadi masih bentuk CPO atau produk mentah. Itupun baru minyak sebesar 24 persen dari TBS," katanya.

Padahal teknologi pemanfaatan hasil samping seperti batang sawit dan daun pelapah sudah ada, terutama untuk pakan ternak. Pemanfaatan limbah kelapa sawit itu harus dilakukan terencana oleh pemerintah. Bahkan Universitas Syahkuala, Aceh, kini sudah ditemukan bahwa dari limbah batang sawit dari peremajaan bisa menghasilkan gula. Ada potensi gula yang mengalir selama 2 bulan setelah penebangan peremjaan sawit sebanyak 6 ton untuk tiap 1 ha lahan sawit. Artinya dari peremajaan sawit  akan mendatangkan pendapatan petani sebanyak Rp 60 juta.

Badrun mengatakan, untuk  menyikapi tanggap  bencana protein hewani, kini bisa dikembangkan integrasi ternak kambing dengan kopi. Dari hasil kajian tanaman pelindung kopi yaitu jenis legium cocok untuk pakan kambing.

Reporter : Julianto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018