Sabtu, 14 Desember 2019


Tingkatkan Produktivitas, 120 Ha Kebun Kakao Pringsewu Diremajakan

06 Agu 2019, 16:10 WIBEditor : Gesha

Kakao di Pringsewu terus diremajakan | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Pringsewu --- Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung pada tahun 2019  komitmen  mengembangkan budidaya kakao dengan cara merehabilitasi dan meremajakan tanaman yang sudah tua dan rusak. Tercatat,  pada tahun 2019  Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu akan melakukan peremajaan kakao di lahan seluas 100 ha (APBN) dan 20 ha (APBD).

“Total lahan kakao yang diremajakan tahun ini sebanyak 120 ha. Yang 20 ha sudah dilakukan Februari-Maret lalu di Kecamatan Pardasuka, Pagelaran Utara dan Sukoharjo melibatkan 5 kelompok tani dengan anggaran sekitar Rp 150 juta. Sedangkan yang 100 ha akan dilakukan pada Oktober-November  mendatang ,” kata Kabid Perkebunan Kab. Pringsewu, Prov.Lampung, Yusri Purwanti, di Pringsewu, Selasa (6/8).

Menurut Yusri,  peremajaan kakao di lahan 100 ha itu akan dilakukan pada saat musim hujan tiba. Sesuai rencana, peremajaan kakao di lahan 100 ha akan dilakukan di Kecamatan Pardasuka seluas 83 ha dan Adiluwih seluas 17 ha. “Peremajaan kakao yang akan dilakukan akhir tahun ini melibatkan 9 kelompok tani,” ujarnya

Yusri juga mengatakan, peremajaan dan rehabilitasi kakao di Pringsewu selama ini memanfaatkan bibit kakao dengan teknik sambung pucuk dan sambung samping. Kedua teknologi ini banyak diminati petani kakao di  Pringsewu, karena kakao yang direhabilitasi atau diremajakan kurun 1,5 tahun sudah mulai belajar berbuah.

“Kalau yang sudah kami tanam dengan bibit usia 10-12 bulan, tahun depan sudah mulai belajar berbuah. Nanti  pada tahun 2021, kami perkirakan produksinya bisa maksimal,” jelasnya

Menurut Yusri, luas kabun kakao di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung sekitar 5.000-6.000 ha. Sedangkan jumlah petani atau pekebunnya  sekitar 7.000 orang.  Lantaran sudah banyak tanaman kakao yang tua dan rusak, maka produktivitas kakao di Pringsewu sangat rendah, sekitar 1,5-2 ton/ha.

Kebun kakao yang dikelola petani tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, seperti di  Kecamatan Pardasuka, Sukoharjo,  Pagelaran Utara, Banyumas, dan Adiluwih. "Di lima kecamatan inilah kami lakukan peremajaan dan rehabilitasi tanaman kakao yang sudah tua dan rusak,” ujarnya.

Yusri mengatakan, pada tahun 2019  pihaknya masih mengumpulkan data sejumlah kebun kakao milik petani yang akan direhabilitasi. “Karena itu, untuk rehabilitasi sampai saat ini masih dalam proses pengumpulan data. Tapi, kalau yang kami remajakan baik dari dana APBD dan APBN sudah fix,” paparnya.

Tanaman kakao yang diremajakan biasanya ditumpang sari dengan pisang dan pepaya. Sehingga, sambil menunggu tanaman kakao berbuah, petani Pringsewu sudah punya hasil tambahan yang setiap minggu bisa dinikmati hasilnya.

“ Pepaya dan pisang yang ditanam bersama kakao Februari lalu saat ini sudah bisa dipetik hasilnya. Bahkan, hampir tiap minggu petani bisa menjual pepaya dan pisang, sambil menunggu kakaonya berbuah,” paparnya 

Yusri juga menyebutkan, pada tahun 2018 lalu, Dinas Pertanian Kab. Pringsewu sudah melakukan peremajaan dengan dana APBD di lahan seluas 10 ha.  Peremajaan kakao yang melibatkan 6 kelompok tani ini telah dilakukan  di Kecamatan Pardasuka, Sukoharjo dan Banyumas.

Bahkan, pada tahun yang sama juga dilakukan  rehabilitas tanaman kakao seluas 10 ha yang melibatkan 6 kelompok tani, di Kecamatan Pardasuka, Sukoharjo dan Banyumas.

“Petani atau pekebun yang kami libatkan dalam kegiatan peremajaan dan rehabilitas tanaman kakao merasa senang. Karena, selama ini mereka kesulitan bibit unggul untuk melakukan peremajaan dan rehablitasi,” paparnya 

Dengan kegiatan peremajaan dan rehabilitasi kakao di Pringsewu, kurun 2-3 tahun ke depan diharapkan  bisa meningkatkan produksi kakao di kabupaten pemekaran ini. “Selama ini produksi kakao di Pringsewu sekitar  2.693 ton/tahun. Nantinya,  setelah ada peremajaan dan rehabilitasi, kami harapkan produksinya  bisa meningkat signifikan,” pungkasnya.

Dijual ke Mitra

Menurut Yusri,  selama ini petani kakao menjual hasil kebunnya ke pedagang pengepul atau ke sejumlah mitra. Mereka menjualnya dengan harga Rp 20 ribu-Rp 30 ribu/kg.

“Ada yang menjualnya dalam bentuk kakao basah dan ada juga yang menjual kakao dalam bentuk setengah kering,” ujarnya.

Yusri mengaku, sampai saat ini petani di Pringsewu belum ada yang menjual kakao yang sudah diproses dengan fermentasi. Mengapa demikian? Menurut Yusri karena harganya tak jauh beda dengan kakao yang dijual dalam bentuk gelondongan.

“ Kalau kalau yang sudah difermentasi butuh tambahan waktu untuk mengolahnya. Hargnya pun hanya sekitar Rp 35 ribu-Rp 40 ribu/kg,” ujarnya.

Menurut Yusri,  petani atau pekebun kakao Pringsewu perlu dukungan pasca panen supaya mendapatkan nilai tambah. Sehingga, sejumlah petani kakao di Pringsewu sampai saat ini masih banyak yang mengolah kakao dengan alat sederhana.

“Karena didesak kebutuhan, mereka juga banyak yang menjual kakao dalam bentuk basah. Padahal, kalau mau menjemur hingga kering, mereka akan mendapatkan nilai tambah. Apalagi, kalau ada bantuan alat pengering, petani kakao di sini akan lebih bersemangat lagi,” pungkasnya 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018