Minggu, 18 Agustus 2019


Budidaya Sawit Berkelanjutan, Dorong Pertumbuhan Konsumsi Global

08 Agu 2019, 16:45 WIBEditor : Gesha

Dengan adanya pengelolaan sawit yang berkelanjutan dan replanting, petani terjaga dari harga yang jatuh | Sumber Foto:ISTIMEWA

Di sejumlah negara juga sudah mulai muncul kesadaran dalam memproduksi minyak sawit berkelanjutan. Diantaranya, inisiasi yang dilakukan India dengan Sustainable Palm Oil Coalition for India (India-SPOC) dan Jepang.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Di tengah anjloknya harga minyak sawit dunia, pemerintah dan pelaku usaha tak sekadar menjaga pasar minyak sawit yang sudah ada dan membuka  peluang pasar baru. Dalam jangka panjang, pemerintah dan pelaku usaha harus melakukan strategi jitu agar menghasilkan minyak sawit berkelanjutan untuk mendorong  pertumbuhan konsumsi pasar global. Terutama ketika harga CPO global jatuh, pelaku usaha masih bisa bertahan dari tingginya hasil panen yang didapat.  

“Karena itu, budidaya sawit berkelanjutan menjadi kunci utama. Selain itu, kami saat ini sedang melakukan proses perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit dengan menerapkan berbagai cara,  salah satunya dengan memperbaiki pola budidaya yang dilakukan petani  lewat program peremajaan sawit rakyat (PSR),” kata Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Musdhalifah Machmud, saat diskusi Sawit Bagi Negeri bertema “Peluang Pasar Sawit Berkelanjutan Indonesia, di Jakarta, Rabu (7/8).

Menurut Musdhalifah,  PSR yang mengaplikasi budidaya sawit berkelanjutan akan mampu meningkatkan produktivitas perkebunan sawit rakyat. Program yang dikembangkan pemerintah ini juga dalam rangka pendataan luasan lahan petani. “ Data perkebunan juga penting. Karena itu, kami sedang melakukan kerjasama dengan lembaga dan kementerian terkait,” ujar Musdhalifah.

Data menyebutkan,  sebanyak 28.276 ha kebun sawit rakyat telah mendapatkan dana PSR dari BPDP-KS, sekitar 39.989 ha proses penyaluran dana PSR di BPDP-KS dan sebanyak 16.960 ha dilakukan verifikasi bertahap melalui aplikasi PSR.   Pemerintah juga komitmen terhadap lingkungan dengan penerapan kebijakan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

“Sejak tahun 2011- 2019  sudah seluas 4.115.434 ha kebun sawit yang mendapat sertifikasi ISPO. Jumlah tersebut, sekitar 29,3?ri total lahan perkebunan kelapa  sawit seluas 14,3 juta ha,” kata Musdhalifah. Sedangkan produksi CPO yang telah tersertifikasi ISPO mencapai 11,57 juta ton CPO atau 31?ri total produksi CPO  nasional 37,8 juta ton/ha.  Karena sawit yang ditanam sudah mendapat sertifikat ISPO, produk sawitnya pun dijamin berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Hal yang sama diungkapkan, Managing Director Sustaiability and Strategic Stakeholder Engagement Golden Agri Resources Ltd, Agus Purnomo. Menurut Agus, sampai saat ini sub sektor perkebunan kelapa sawit juga mendapat tekanan dan dunia internasional. Diantaranya, muculnya kebijakan RED II dari Uni Eropa (UE) serta hambatan dagang lainnya.  Sedangkan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berupa isu deforestasi, hak asasi manusia dan sosial serta limbah. Bahkan, akhir-akhir ini muncul juga dari konsumen terkait isu kesehatan.

Agus juga mengungkapkan,  selain itu di sejumlah negara juga sudah mulai muncul kesadaran dalam memproduksi minyak sawit berkelanjutan. Diantaranya, inisiasi yang dilakukan India dengan Sustainable Palm Oil Coalition for India (India-SPOC) dan Jepang.

“Dengan adanya kesadaran memproduksi minyak sawit berkelanjutan itu, akan membuka peluang dalam pemasaran minyak sawit berkelanjutan. Dengan potensi tersebut,  kami juga komitmen memproduksi komoditas sawit yang berkelanjutan.,” kata Agus.

Menurut Agus, untuk mengaplikasi budidaya sawit yang berkelanjutan, pihaknya juga melakukan pendekatan bantuan teknis dan insentif keuangan, untuk program peremajaan kebun sawit yang dikelola petani swadaya. “Kami mendukung misi pemerintah Indonesia untuk meremajakan 200.000 ha lahan perkebunan rakyat,” ujarnya.

Agus juga mengatakan, dari  target tersebut, kami menetapkan target dukungan sebesar 17.5%  (35,000 ha), melalui program peremajaan petani yang berada di sekitar kebun. Kmai juga komitmen meningkatkan produktivitas petani sebesar 5-6 ton CPO/ha/tahun, serta menciptakan proses produksi dan konsumsi yang berkelanjutan melalui kerjasama multi pihak (SDG 12 and 17),” pungkas Agus.

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018