Sunday, 24 January 2021


Biar Awet jadi Primadona Ekspor, Inilah Lima Strategi Perkebunan

15 Aug 2019, 16:21 WIBEditor : Gesha

Lima strategi dipersiapkan Kementan agar perkebunan tetap menjadi primadona ekspor dari Indonesia | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Perkebunan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam peningkatan ekspor pertanian. Data menunjukkan komoditas perkebunan berkontribusi sebesar 97,4 persen sisi volume terhadap total volume ekspor komoditas pertanian tahun 2018. Bahkan dari sisi nilai pun berkontribusi sebanyak 96,9 persen nilai total ekspor di tahun yang sama. Lantas, bagaimana caranya agar tetap jadi primadona di tahun-tahun mendatang?

“Kontribusi komoditas perkebunan sebagai penyumbang penerimaan negara dari sektor non migas dan pembentukan neraca perdagangan komoditas pertanian sangat besar, perlu ada strategi yang tepat agar komoditas perkebunan tetap menjadi primadona di pasar Internasional” ujar Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono.

Sebagai upaya akselerasi peningkatan daya saing komoditas perkebunan di pasar Internasional, Kementerian Pertanian telah menerapkan Lima strategi jitu mendorong komoditas perkebunan yang berorientasi ekspor.

Strategi pertama yang sangat penting untuk dilakukan, ungkap Kasdi adalah Peningkatan produksi pada sentra-sentra pengembangan Kawasan perkebunan berbasis korporasi melalui perluasan areal baru dan intensifikasi dengan penerapan good agriculture practice (GAP). “Hal ini senada dengan kebijakan Program BUN500, yang telah kita luncurkan di Palangkaraya beberapa waktu lalu, BUN500 akan sangat berperan dalam penyediaan benih perkebunan yang berkualitas,” terang Kasdi.

Strategi kedua peningkatan mutu pasca panen melalui penerapan GHP, GMP dan GDP, tentunya dengan dukungan sarana prasarana pascapanen yang sesuai dengan karakteristik komoditas ekspor.

Ketiga, lanjut Kasdi adalah Peningkatan kegiatan partisipasi pada sidang-sidang Internasional dan promosi komoditas perkebunan di acara Internasional. “Promosi juga melalui peningkatan jumlah dan kompetensi SDM serta aktif berkontribusi dalam menghadiri event-event promosi di level internasional, lewat cara ini pemasaran komoditas perkebunan di pasar dunia akan lebih optimal,” beber Kasdi.

Strategi keempat dan kelima yang tak kalah penting adalah Peningkatan diseminasi melalui perluasan dan fasilitasi akses data dan informasi pasar ekspor serta peningkatan capacity building dan sosialisasi regulasi ekspor impor pada pelaku usaha dan pemerintah daerah, serta tentunya peningkatan layanan perkarantinaan.

“Melalui strategi tersebut, kami harapkan akses pasar internasional dan posisi tawar komoditas perkebunan dapat lebih berkembang dan meluas, daya saing komoditas perkebunan yang meningkat pada akhirnya akan mempengaruhi peningkatan penerimaan negara dari sisi ekspor,” terang Kasdi.

Reporter : Kontributor
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018