Minggu, 20 Oktober 2019


Diminati Eropa, Poktan Berkah Tani Mantap Hilirisasi Lada Putih

07 Sep 2019, 18:48 WIBEditor : Gesha

Melihat peluang lada putih yang semakin menggiurkan di pasar Eropa, Poktan Berkah Tani mantap ikut hilirisasi produk | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Lada putih asal Bangka Belitung (Babel) yang dikenal dengan brand muntok white papper, tak hanya diminati pasar lokal. Sejumlah negara seperti Hongkong, China dan Eropa pun mulai tertarik untuk membeli lada putih yang banyak dibudidaya petani Babel.

Ketua Poktan Berkah Tani, Alfeddy Hernandy mengaku, sudah ada beberapa perusahaan eksportir yang menawarkan diri untuk membeli lada putih yang dibudidaya petani Babel. “Selama ini lada putih yang kami produk hanya dijual ke pasar lokal. Namun, belakangan ini sudah ada beberapa permintaan dari sejumlah  perusahaan eksportir di Riau dan sejumlah perusahaan di Jakarta untuk diekspor ke sejumlah negara,” papar Alfeddy, di Jakarta.

Menurut Alfeddy,  sejumlah perusahaan eksportir tersebut umumnya minta produk lada putih muntok dalam bentuk bubuk. “Untuk memenuhi permintaan pasar ekspor ini, kami saat ini sedang konsentrasi untuk meningkatkan produksi lada putih dengan mendorong  industri hilirnya,” kata Alfeddy.

Alfeddy mengatakan, potensi ekspor lada putih Babel sangat terbuka lebar. Namun, pihaknya sampai saat ini masih menyiapkan industri hilirnya . “Jadi, kami perkirakan akhir tahun ini kami baru bisa ekspor lada bubuk,” papar Alfeddy.

Menurut Alfeddy, memang sudah ada salah satu  perusahaan eksportir di Riau yang minta pasokan lada bubuk untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor ke China dan Hongkong sebanyak 17 ton/bulan. Bahkan, ada juga salah satu perusahaan di Jakarta minta bahan baku lada bubuk untuk diekspor ke Hongkong.

“Permintaan untuk pasokan pasar ekspor itu sudah ada. Namun, kami belum bisa memenuhinya dalam waktu dekat ini. Sebab, kurun 2 tahun terakhir kami masih fokus untuk perbaikan di hulunya. Nah, tahun ini kami baru mulai di hilirnya sambil terus mendorong produktivitasnya di hulu,” paparnya.

Dia juga mengatakan, untuk ekspor yang diperkirakan bisa dilakukan akhir tahun ini akan diarahkan ke pasar Eropa.  Sebab, pasar lada  bubuk ke Eropa jauh lebih baik dibanding di Hongkong dan China. 

“Kalau harga lada bubuk di China dan Hongkong sekitar Rp 90 ribu/kg, sedangkan lada bubuk di Eropa bisa dipatok dengan harga Rp 100 ribu-Rp 200 ribu/kg, bahkan kalau kualitasnya premium harganya bisa Rp 300 ribu/kg,” kata Alfeddy.

Selain harga pasar lada bubuk di Eropa lebih baik, lanjut Alfeddy, sudah ada teman dari Swiss Contact yang bersedia membantu menembus pasar  ekspor Eropa. “Teman dari Swiss Contact tersebut juga sudah melihat langsung  proses hilirisasi yang kami lakukan,” ujarnya.

Menurut Alfeddy,  ekspor perdana nanti diperkirakan sekitar 20 ton/bulan. Nah, untuk memenuhi target tersebut, Poktan Berkah Tani saat ini juga giat menjalin kerjasama dengan kelompok petani lada lainnya di Bangka Belitung. 

“Sambil mendorong di hulunya untuk perbaikan produktivitas, kami juga menggandeng poktan lainnya,” ujarnya.

Dirinya juga optimistis bisa ekspor lada bubuk akhir tahun ini. Mengingat, pengembangan hilirisasi yang dilakukan Poktan Berkah Tani sudah berjalan dengan baik. “Kami sudah punya mesin pembubuk/penepungnya bantuan pemerintah. Dengan mesin inilah kami harapkan proses produksi lada bubuk bisa maksimal,” paparnya.

Setelah diproses dalam mesin pembubuk/penepung,  menurut Alfeedy, olahan lada tersebut kemudian dimasukkan dalam kemasan. Lada bubuk yang dikemas tersebut saat ini ada yang dijual dalam kemasan saset Rp 1.000/2 gram. Kemudian yang  dikemas dalam botol 60 gram Rp 30 ribu dan dalam bentuk curah ½ kg Rp 50 ribu.

“Selama ini lada yang sudah dikemas tersebut dijual ke sejumlah pasar dan pameran. Sedangkan lada bubuk curah dijual ke sejumlah rumah makan padang. Sebagian lainnya kami jual secara online,”  kata Alfeddy.

Menurut Alfeddy, omzet penjualan lada bubuk tersebut sekitar Rp 25 juta/bulan. “ Memang masih skala rumah tangga. Namun, dengan hilirisasi ini bisa meningkatkan nilai tambah petani,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, dari harga lada di tingkat petani yang saat ini Rp 45 ribu/kg, kalau sudah diolah menjadi lada bubuk harganya meningkat menjadi Rp 150 ribu/kg. Nah, untuk menjamin kelangsungkan budidaya lada putih Babel di kelompoknya,  manajemen  Poktan Berkah Tani bisa membeli lada dari petani  anggota kelompok dengan harga lebih tinggi sekitar Rp 80 ribu/kg. 

“Kami sudah memulai usaha mengolah biji lada menjadi lada bubuk akhir Desember 2018 lalu. Saat itu, kami mengeluarkan modal awal Rp 5 juta.  Modal awal ini dari kantong pribadi sendiri untuk membeli peralatan hilirisasi seperti mesin pembubuk,” papar Alfeddy.

Guna meningkatkan produksi lada untuk ekspor ke depan, lanjut Alfeddy, pihaknya saat ini bersama Bank Indonesia juga gencar mengembangkan budidaya lada putih Muntok di Babel. Kerjasama dengan BI ini bukan hanya perbaikan benih unggul saja. 

“Kami juga mendapat dukungan berkaitan dengan cara pemupukan yang baik sehingga lada yang ditanam di Bangka Barat dan Bangka Tengah produktivitasnya bisa naik menjadi 4 kg/batang,”  pungkasnya. 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018