Minggu, 20 Oktober 2019


Kementan Dampingi Investor Gula secara Profesional

09 Sep 2019, 13:50 WIBEditor : Yulianto

Petani tebu | Sumber Foto:Yulianto

Kementan mendorong peningkatan produksi gula di luar Jawa lebih besar dari produksi di Jawa.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian saat ini terus mendorong produksi gula konsumsi di dalam negeri untuk mencapai swasembada gula. Salah satunya dengan membuka kesempatan pada investor untuk membangun pabrik gula (PG) baru.

Kementan secara profesional mendampingi 10 investor guna mensukseskan swasembada gula dan mengawal 300 investor yang berminat disektor lain," kata Kepala Biro Hukum Kementerian Pertanian, MM Eddy Purnomo di Jakarta, Senin (9/9).

Eddy mengatakan, pemberian bantuan untuk memperlancar pengurusan izin konsesi tebu tidak hanya diberikan kepada PT. Jhonlin Batu Mandiri, melainkan juga kepada 10 investor lainnya, seperti PT. Pratama Nusantara Sakti (PNS). Dalam hal ini, Menteri Pertanian mendukung penuh pembangunan pabrik gula PNS dengan membantu percepatan penerbitan izin sesuai peraturan perundang-undangan.

Saat peletakan batu pertama pembangunan Pabrik Gula PT. Pratama Nusantara Sakti di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), 22 Mei 2017, Eddy mengakui, Mentan memang hadir dan menandatangani prasasti. “Mentan mendukung investor lainnya tanpa pamrih atau imbalan apapun. Mentan selalu ikhlas kerja untuk ummat, bangsa dan negara," tegas Eddy.

Mengenai pemberitaan soal sumbangan mesjid senilai Rp. 100 juta untuk pembangunan masjid di kampung halaman Menteri Pertanian, Eddy menyatakan hal ini tidak ada hubungannya dengan jabatan menteri. Sebab, sejak masjid dibangun Menteri Amran telah memberikan bantuan, sampai masjid selesai dan saat belum menjadi Menteri Pertanian.

"Menteri Amran secara pribadi telah melakukan hal serupa sejak dulu dan di berbagai tempat. Mentan sangat peduli pada ummat khusus bantuan sarana ibadah Masjid, Yatim piatu, dhuafa, bencana alam serta kegiatan sosial lainnya tapi jarang diekpose,” tuturnya.

Eddy mengatakan, program Kementan telah menunjukkan keberhasilan. Terbukti dari hasil riset Bappenas yang menilai pertanian sebagai ujung tombak pertumbuhan ekonomi daerah, dan telah mendapatkan banyak apresiasi dari dunia internasional. Kinerja Kementan juga menghasilkan rekor inflasi terendah sektor pangan sebesar 1,26  di tahun 2017.

Bahkan terjadi peningkatan ekspor yang signifikan serta PDB pertanian tumbuh sebesar 3,7 persen yang melampaui target pemerintah 3,5 persen di tahun 2018. Terhadap pencegahan korupsi, KPK pun mengakui dengan memberikan predikat Anti Gratifikasi Terbaik, selain sejarah penghargaan WTP dalam 3 tahun terakhir dari BPK. Menteri Amran sangat anti KKN dan sangat anti mafia pangan. Beliau  sangat teguh komitmennya untuk itu,” kata Eddy.

Program Swasembada Gula

Seperti diketahui saat ini luas lahan tebu sekitar 420 ribu hektar (ha) dengan produktivitas tanaman 5,3 ton/ha. Lahan itu  seluas 220.000 ha di Jawa dan 200.000 ha di luar Jawa. Untuk mencapai swasembada gula konsumsi diperlukan luas lahan sebesar 500 ribu ha.

Artinya harus ada tambahan sekitar 80 ribu ha, terutama areal yang dikelola pabrik gula (PG) baru. Perluasan areal itu berasal dari Jawa seluas 20 ribu ha dan luar Jawa 60 ribu ha.

Ke depan, Kementan mendorong peningkatan produksi gula di luar Jawa lebih besar dari produksi di Jawa. Potensi pengembangan tebu di luar Jawa cukup besar. Data Ditjen Perkebunan, areal Hak Guna Usaha HGU (HGU) yang dimiliki 10 PG (pabrik gula) baru dan revitalisasi di Luar Jawa mencapai 35 ribu ha. Karena itu diperlukan areal dari kebun plasma seluas 25 ribu ha.

Sebanyak 10 PG di luar Jawa tersebut yakni, PG Sukses Mantap di Dompu, NTB dengan kapasitas produks 6 ribu TCD (ton cane perday), PT. Adhikarya Gemilang (Lampung) 12 ribu TCD, PT. Laju Perdana Indah (OKU, Sumsel) 8 ribu TCD, PT. Pratama Nusantara (OKI, Sumsel) 8 ribu TCD, PT. Pemuka Sakti Manis (Way Kanan, Lampung) 12 ribu TCD dan PT. Muria Sumba Manis (Sumba, NTT) 12 ribu TCD.

Selain itu PG. Sei Semayang (Deli Serdang, Sumut) 6 ribu TCD, PG. Kwala Madu (Langkat, Sumut)  4 ribu TCD, PG. Gorontalo  (Gorontalo) 5 ribu TCD dan PG. Jhonlin Batu Mandiri (Bombana, Sultra) 10 ribu ha.  Dari 10 PG di luar Jawa tersebut ada potensi produksi sebanyak 83 ribu TCD.

Kalkulasi pemerintah, untuk mencapai produksi tersebut diperlukan areal seluas 177.857 ha. Saat ini, lahan tebu milik 10 PG di luar Jawa tersebut seluas 75.053 ha, sedangkan milik petani seluas 14.140 ha. Dengan demikian sudah ada lahan yang eksisting seluas 87.192 ha, sehingga masih ada kekurangan lahan sekitar 90.665 ha.

Guna mencapai tambahan lahan tersebut pemerintah telah membuat program penambahan areal tebu di luar Jawa melalui program plasma tebu hingga tahun 2024. Untuk tahun 2019 seluas 2 ribu ha, tahun 2020 (18.600 ha), tahun 2021 (18.600 ha), tahun 2022 (18.600 ha), tahun 2021 18.465 ha dan tahun 2024 seluas 12.650 ha.

 

 

 

 

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018