Wednesday, 21 October 2026


Panasnya Rapat, Memilih Impor Beras atau Menaikkan Harga Gabah

11 Mar 2021, 16:42 WIBEditor : Ahmad Soim

Petani meminta dryer untuk gabah

 

 

Oleh: Achmad Saubari P

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Kepala boleh panas. Emosi boleh meluap. Hati tetap santai. Apalagi dalam merumuskan kebijakan yang super penting, yakni: impor beras atau menaikkan harga gabah petani?

Pengalaman unik ini terjadi pada tahun 1988. Pada akhir Januari 1988, saya bekerja di Direktorat Jenderal Pertanian. Dirjen Pertanian meminta saya menulis usulan harga gabah dengan Rumus Tani untuk musim panen 1978/1988.

Entah mengapa? Bukan Dirjen ataupun Direktur, melainkan saya yang diminta ikut Menteri Pertanian dalam rapat antar Menteri di ruang kerja Menteri Keuangan di Lapangan Banteng pukul 17.00 sore.  

Menteri Pertanian datang paling akhir. Di situ sudah duduk tuan rumah Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Menteri Koperasi, Menteri Muda Koperasi KaBulog dan Menteri Muda Pangan. Dengan agak takut dan kikuk saya duduk di sebelah Menteri Muda Pangan. Begini dialog dalam Rapat Antar Menteri itu.

Menkeu: Siapa yang mulai?

Mendag: Yaa, Menteri Pertanian yang punya gawe.

Mentan: Saya ini hanya memikirkan nasib petani. Inflasi di atas 10%, kasihan kalau harga gabah tidak disesuaikan. Saya usul harga gabah naik 10% itu saja. Menmudakop Kabulog: Kalau harga dinaikkan 10% saya bisa beli gabah dalam negeri sekitar satu juta ton. Saya harus kerja keras, tetapi fee-nya  dinikmati  para Kadolog daerah penghasil padi. Saya ngemut jari.

Menmuda Pangan:  Harga gabah tahun ini tidak perlu dinaikkan karena harga gabah kita sudah tertinggi di Asia.

Mendag : Harga beras sekarang ini memang sudah cukup tinggi. Saya kasihan kepada petani Kopra. Dulu satu kilogram kopra dapat 2 kg beras, sekarang  terbalik 2 kilogram kopra dapat satu kilogram beras. Kalau dinaikkan lagi kasihan mereka.

Menmudakop Ka Bulog: Mentang mentang isterinya dari Manado penghasil kopra, maka yang dipikirkan daerah isterinya. Tetapi mereka kan punya cengkeh.

Menkeu : Cadangan devisanya bagaimana kalau harus import?

Mendag: Ya itu yang saya  khawatirkan, kalau harga tidak dinaikkan, berarti pengadaan beras  dalam negeri terhambat, dan harus import.  Tetapi cadangan devisa  saat ini  sangat terbatas.

Menkeu : Kalau begitu masalah Devisa nanti kita bicarakan tersendiri. Menmudakop. Ka Bulog: Kalau saya harus pilih, ya sudah harga tidak naik, tetapi saya dikasih Devisa untuk import. Kalau soal import beras saya tinggal telepon dan fee 10% masuk kesini (sambil menunjuk ke kantongnya).

Menkeu: Bagaimana  Mentan.!  

Mentan : Kembali masyarakat Tani di pedesaan, termasuk tukang becak, kuli panggul, para pembantu rumah tangga. Mereka  itu menunggu-nunggu saat panen yang datang setahun sekali sekitar bulan April. Kalau musim panen mereka semua itu kembali ke kampung untuk ikut panen, ikut derep, dapat bawon, dan langsung dijual untuk mengawinkan anaknya, menyunatkan anaknya, membelikan sepatu anaknya sekolah, memperbaiki rumahnya yang bocor, mengganti paculnya, dsb. Kasihan mereka kalau hasil bawonnya setahun sekali itu dijual murah karena pemerintah tidak menaikkan harga. Jadi naik 10 ?alah wajar.

Menmuda Pangan: sambil gebrak meja : Saya tidak setuju harga dinaikkan 10%. Saya sudah bicara dengan RI Satu. Beliau setuju harga gabah tidak dinaikkan tahun ini.  

Menmudakop Ka Bulog: Begitu saja kok marah, nanti cepat tua. Lihat kepalaku ini, plontos halus seperti kepala bayi, karena saya bertambah muda. Oh, ya, kemarin sore, saya ke rumah Pak Wapres. Tiba-tiba mantunya yang cantik itu datang. Saya langsung berdiri dan saya sapa he bagaimana kabarnya lama om tidak ketemu sambil saya rangkul dan saya cium. Pak Wapres merah mukanya karena tahu siapa saya, karena pada waktu mudanya saya kan teman komplotnya Pak Wapres.

Tiba-tiba Mentan berdiri sambil memegang tasnya :  Oh ya saya sudah ditunggu isteri mau jagong (maksudnya kondangan) terus keluar ruangan tanpa tengok kanan kiri. Saya sebagai pengikut langsung ikut tancap gas keluar ........tanpa pamit kepada Pak Menmuda Pangan.  Akhirnya pemerintah memutuskan harga gabah naik 10 % sesuai usul Pak Mentan.

Bulan April 1988 ternyata Menmuda Pangan Menjadi Menteri Pertanian. Saya  dipanggil Dirjen diminta  “promosi” menjadi Direktur di Departemen Transmigrasi. Alasan Pak Dirjen : Khawatir Pak Menteri Pertanian masih marah kepada saya karena Pak Menteri tahu saya yang nulis usulah harga gabah naik sesuai dengan inflasi. Lebih baik pindah ke Departemen Transmigrasi.

Meski suasana rapat berlangsung panas, namun akhirnya pemerintah memilih kebijakan untuk memihak petani. Sebuah perumusan kebijakan yang patut untuk ditiru.

 

===

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018