Friday, 18 June 2021


Penghijauan Perlu Konsistensi

23 Apr 2021, 13:07 WIBEditor : Ahmad Soim

Penghijauan tanah yang tandus | Sumber Foto:google dan dok Memed Gunawan

 

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Ungkapan ‘Belajarlah ke negeri Cina’ pastilah ada maksudnya. Bukan tidak mungkin ini merupakan pengakuan bahwa negara Cina mempunyai pengalaman sejarah panjang yang menorehkan berbagai keberhasilan yang mengagumkan dalam bidang budaya dan pengetahuan sehingga perlu dipelajari. 

Pada era moderen, selain berkembangcepatnya ilmu pengetahuan di negeri ini, yang tak kalah pentingnya adalah keberhasilannya dalam penghijauan gurun pasir. Cina mempunyai gurun pasir yang sangat luas. Dengan program dan pelaksanaan yang konsisten, gurun pasir di daratan negeri itu, diklaim sudah mulai dihijaukan dengan tanaman yang diberi zat yang dapat mengikat air dan nutrisi sehingga tanaman dapat tumbuh tanpa pemeliharaan intensif. Gurun di China luasnya telah menyusut selama beberapa dekade terakhir berkat upaya penghijauan yang konsisten (Siti Zulaikhanet).

Selain di Cina, keberhasilan penghijauan di Arab Saudi pantas diacungi jempol. Program penghijauan yang disebut Green Riyadh menjadi salah satu inisiatif penghijauan kota terbesar di dunia yang keberhasilannya terbilang cepat (Antara). Profesor Tanaman Hias, Kebun dan Area Hijau di King Saud University, Fahad Al-Mana, mengatakan bahwa spesies pohon asli yang digunakan untuk proyek ini termasuk Ziziphus Spina-Christi, Acacia Gerrardii dan Prosopis Cineraria, umumnya dikenal sebagai pohon ghaf. 

BACA JUGA:

Menurut Al-Mana, pohon ghaf dapat bertahan hidup dalam kondisi gurun yang keras, dan akan tumbuh tanpa perawatan pertanian intensif. Dalam laman Arab News, Selasa (4/8/2020) Al Mana mengatakan: “Sebagian besar spesies pohon yang digunakan dalam penanaman proyek Green Riyadh berasal dari lingkungan lokal yang berkembang baik dengan layanan dan perawatan pertanian yang rendah.” Semua tumbuhan yang ditanam di sana dapat tumbuh dengan baik hingga membesar, hanya dalam jangka waktu tiga tahun.   

Di Lesotho berbeda. Penanaman pohon yang menggerakkan sejumlah besar tentara, anak sekolah, para politisi dan para ekspatriat pada tahun 2008 itu sangat seremonial. Belum diketahui hasilnya karena belum ada informasi terbaru.

Tapi kalau soal penghijauan lahan gersang, jangan dilupakan Kabupaten Gunung Kidul. Gunung Kidul patut bangga dan perlu jadi contoh. Melihat Gunung Kidul saat ini yang hijau dan teduh, generasi tua tidak akan lupa kondisi sekitar 50 tahun lalu. Gunungkidul era 1960–1970-an terkenal kering, gersang, tandus dan gundul. Luas lahan kritis di luar kawasan hutan saat itu diperkirakan mencapai lebih dari 30.000 hektar. Penghijauan di kawasaan ini merupakan proses panjang penuh tantangan sehingga dibutuhkan komitmen dan kerja keras untuk mewujudkanya.  

Penghijauan memerlukan kerja keras yang konsisten. Penghijauan memberikan kesejukan dan kesempatan lebih besar untuk kegiatan produktif di sektor pertanian. Melihat kasus-kasus keberhasilan penghijauan di atas, sudah sepantasnya upaya pemulihan dan penghijauan lahan yang rusak dilakukan segera dan secara konsisten, agar tidak terlajur menjadi beban berat di masa depan. Walaupun warna hijau punya berbagai cerita. Kalau balon, warna hijau itu suka meletus, sementara juga dipercaya kalau gurun di tanah Arab jadi hijau, itu pertanda kiamat sudah dekat. Wallahualam.

   ===

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

 

Sumber : Dikutip dari berbagai sumber
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018