Friday, 18 June 2021


Dari Importasi Daging Brazil dan India ke Perubahan Konsumsi Daging Domba - Sebuah Solusi Alternatif

05 May 2021, 17:59 WIBEditor : Gesha

Daging sapi impor di supermarket | Sumber Foto:Istimewa

 

Oleh : Harun Al Rasyid S.IP

Penulis adalah Wakil Ketua Komite Kadin Pusat bid Industri Peternakan dan Kemitraan Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI) JABAR 2016-2021Ketua Koperasi Peternak Indonesia Cita Berdikari (KP-ICB)

Kurang dari seminggu lagi kita akan menghadapi hari suci umat islam iedul fitri, persoalan yang dihadapi dari tahun ke tahun ketika menghadapi hari raya besar iniadalah persoalan ketidakstabilan harga sembilan bahan pokok (sembako) yang.salah satunya adalah daging sapi.

Biasanya harga daging sapi akan selalu merangkak dari mulai hari pertama puasa dan mencapai puncaknya ketika H-3 menjelang Idul Fitri.

Permasalahan klasik ini terus dihadapi dari tahun ke tahun dan seakan kita dan Pemerintah tidak memiliki satu solusi apapun untuk mensiasati persoalan ini. Biasanya, diluar kebiasaan yang terjadi saat ini (karena adanya Covid-19, red), hal ini menjadi isu besar yang terkadang selalu dibahas di media televisi ataupun cetak. Tapi kini karena adanya covid 19, seakan senyap tanpa suara.

Senyap tanpa suara ini, sehening pemerintah yang mulai melakukan importasi daging sapi dari Brazil (diluar daging India yang sudah berjalan dan daging Australia) dengan dalih menjaga stabilisasi harga dan kebutuhan daging sapi menjelang lebaran.

Seperti yang diberitakan oleh beragam media, yang menjadi garda terdepan importasi ini adalah 3 BUMN besar, yakni RNI, BULOG dan Berdikari. Jumlah importasi yang dilakukan ketiga BUMN ini cukup beragam. Informasi yang dirilis Kementerian Perdagangan, untuk import daging sapi Brazil dan India jumlahnya hampir  mencapai 120 ribu ton. Jumlah yang sangat besar.

Apabila diasumsikan berat daging satu sapi dan kerbau adalah 300 kg, maka itu hampir setara dengan 400 ribu ekor sapi atau kerbau. Terbayang betul oleh kita jumlah fantastis dan nilai dagang yang sangat besar.

Lalu bagaimana kondisi harga daging hari ini menjelang lebaran? Apakah tujuan pemerintah untuk stabilisasi harga, tercapai? Ternyata jauh panggang dari api, harga hari ini di Pasar Kramat Jati dan Pasar Minggu saja sudah menyentuh angka Rp 125 ribu,/kg. Bahkan berdasar data infopangan.jakarta.go.id, harga rata-rata di Jakarta sudah menyentuh angka Rp 131.500/kg.

Dapat disimpulkan, tujuan untuk stabilisasi harga pangan daging ternyata hanya topeng semata dalam pemulusan importasi daging sapi dari Brazil hari ini.

Indonesia sudah sangat crowded dengan beragam daging import di pasar, baik pasar basah maupun hypermarket mulai dari Australia, India dan Brasil. Parahnya dua negara terakhir masih belum bebas juga dari penyakit foot and mouth disease (FMD) yang sangat membahayakan manusia, tapi beragam argumentasi dikeluarkan untuk kelulusan dua negara ini masuk ke Indonesia dengan beragam diskursus yang sudah bosan dilakukan tanpa solusi yang nyata di dalamnya.

Ada yang membela Australia dengan beragam argumentasinya, ada yang mencoba merasionalisasikan India dan Brasil, tapi toh esensinya sama, solusinya instan tanpa menyentuh inti persoalan yakni kesejahteraan peternak dan keamanan konsumen. 

Lalu sebetulnya apa yang menjadi persoalan?Apa yang harus Pemerintah lakukan?

(Klik nomor 2 untuk melanjutkan)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018