Friday, 18 June 2021


Jangan Sampai Jadi Keledai?  

19 May 2021, 07:56 WIBEditor : Ahmad Soim

Keledai | Sumber Foto:pixabay.com

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Tidak jelas alasannya mengapa keledai dianggap bodoh, sehingga ada ungkapan “Jangan sampai dua kali terperosok ke lubang yang sama, seperti keledai”. Padahal untuk melakukan pekerjaan angkut barang berat dan memerlukan durasi tinggi keledai adalah yang paling cocok. Keledai adalah binatang pekerja yang lebih tangguh dari kuda yang tampangnya lebih ganteng.

Kita tidak akan cerita tentang keledai, tetapi akan membahas cara pintar agar tidak terperosok ke lubang yang sama. Karena kasusnya lumayan banyak dan dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Misalnya?

Petani itu pintar, dia akan segera meniru petani lainnya mengusahakan tanaman yang memberi keuntungan besar. Ekstrimnya, orang lain tanam cabai untung, lalu ramai-ramai tanam cabai. Tapi akibatnya produksi meledak sehingga harga jatuh. Musim berikutnya semua beralih ke tanaman ubi karena ada yang tanam ubi untung besar. Kejadiannya berulang, harga ubi jatuh sedangkan harga cabai melonjak naik.  Kejadian ini kerap terjadi. Berulang terus bersamaan dengan fluktuasi harga. Inilah contoh dari “Fallacy of Composition”. Ternyata yang baik untuk perorangan, kalau diikuti oleh semua orang yang terjadi adalah sebaliknya. Nonton konser sambil berdiri tentu bisa melihat lebih jelas dari pada yang duduk, tapi kalau semuanya berdiri, semuanya tidak bisa melihat dengan jelas.

Pada tahun 1970-an tanaman cengkeh marak ditanam di mana-mana sampai ke halaman, tergiur oleh harga bunga cengkeh yang tinggi. Ketika harganya terjun bebas, banyak petani menebang tanaman cengkehnya, padahal beberapa tahun kemudian harganya meningkat lagi. Tinggallah dia menyesali nasibnya, mengapa tanaman cengkehnya dulu ditebang?

Begitu pula prosesnya yang terjadi pada tanaman kelapa sawit dan tanaman perkebunan lainnya. Ketika harga CPO turun hampir semua petani putus asa dan akan lari dari kebun kelapa sawit. Saat harga CPO meningkat, baru mereka kembali mengurus tanamannya. Alangkah meruginya kalau tanaman yang memerlukan pemeliharaan bertahun-tahun itu ditelantarkan. Ketika harga teh menukik, petani menebang pohon teh-nya diganti dengan tanaman lain. 

Yang fenomenal adalah tanaman hias Anthurium, yang sebelumnya tidak dilirik tiba-tiba meroket harganya di luar nalar. Semua orang heboh menanam, yang kreatif nekat mencuri, dan sebagian merasa sudah dekat jadi orang kaya karena halamannya sudah penuh dengan Anthurium. Tapi kemudian harga jatuh sampai taraf tidak berharga. Buyar. Demikian juga yang terjadi pada Aglonema dan sekarang dikuatirkan bisa terjadi pada porang.

BACA JUGA:

Fluktuasi harga komoditas pertanian akan terus terjadi. Tidak akan berhenti. Tergantung kepada kondisi alam yang menentukan besarnya pasokan, dan dinamika permintaan.  Respon terhadap fluktuasi harga ini penting pakai strategi dan akal sehat. Harus memperhatikan banyak hal karena perubahan harga bisa saja sementara. 

Penggantian tanaman sah-sah saja tetapi harus melalui pertimbangan panjang. Seseorang  membuat keputusan berdasarkan informasi yang tersedia di tangan, prediksi pada masa datang dan pengalaman masa lalu. Keputusan yang hanya didasarkan pada pengamatan jangka pendek sangat beresiko. Terutama jika menyangkut keputusan investasi jangka panjang seperti usaha tanaman perkebunan, yang baru menghasilkan paling tidak beberapa tahun sesudah ditanam. Pengambilan keputusan yang tergesa-gesa itu cenderung tidak memperhitungkan seluruh informasi yang tersedia sehingga kurang pertimbangan matang.

Pesan sang keledai ini cukup jelas. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan apalagi untuk beralih pada kegiatan lain, terutama jika menyangkut investasi jangka panjang dengan waktu menunggu yang lama sebelum menghasilkan.

Dalam ilmu ekonomi dikenal yang namanya Rational Expectation yang intinya ekpektasi dan outcome itu saling berpengaruh. Selalu ada arus feedback atau pengaruh dari outcome masa lalu terhadap ekspektasi saat ini. Dengan situasi yang terus berulang, polanya dari masa lalu ke masa depan cenderung stabil, dan orang menetapkan perkiraan masa depan mengacu pada pola yang stabil.

Fluktuasi harga dalam jangka panjang cenderung mengikuti pola yang sama sehingga prediksi kejadian di masa depan mengacu pada pola yang stabil.

Dalam Islam dikenal satu pegangan. Jangan lakukan sesuatu secara tergesa-gesa, kecuali tiga hal. Segerakan shalat kalau waktunya sudah tiba, segerakan bayar utang kalau sudah ada untuk membayarnya, dan segera kawinkan anak perempuanmu kalau sudah cukup umur dan sudah ada jodohnya.

Wallahualam.

  === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018