Friday, 18 June 2021


Mau Buah Makanan Astronout? 

21 May 2021, 19:38 WIBEditor : Ahmad Soim

Buah.Diolah lebih prospektif pasarnya | Sumber Foto:Memed Gunawan

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Namanya memang aneh, Fruit Leather? Ini di Bangkok. Bentuknya seperti kulit, kadang digulung kadang melebar seperti koyo, tapi rasa buah. Inilah buah kering yang dibuat pipih, bisa terdiri dari satu jenis atau lebih buah, dapat dimakan di mana saja sebagai cemilan tanpa kuatir belepotan dan repot buang sampahnya. Lalu keripik buah, lalu buah kering, lalu buah dalam kaleng. Tapi yang paling baru adalah buah yang diproses dengan teknologi tinggi, bekal buat cuci mulut para astronout. Berbentuk persegi seukuran buku saku, buah tanpa air yang umumnya dijual di museum dan tempat promosi teknologi itu bersanding dengan es krim yang juga jadi bekal para penjelajah angkasa. Semua itu tidak ada yang mengalahkan rasa buah segar.

Di mana pun produk pertanian segar selalu lebih enak dan lebih dihargai oleh konsumen.  Yang segar tetap nomor satu di mata konsumen. Dan ini masalahnya, sampai kapan produk itu akan tetap segar? Hanya sedikit memperpanjang umur segarnya, biayanya sangat mahal. Mahal dalam prosesnya selain juga bulky dalam distribusinya. Jadi jangan salah, menyajikan buah segar bukan berarti  tanpa prosesing. Perlu prosesing dengan teknologi yang mahal, selain tidak mudah didistribusikan dan juga daya simpannya sangat terbatas. 

Kelemahan industri hortikultura kita memang merentang mulai dari hulu seperti bibit/benih dan sarana produksi, produksi sampai dengan pengolahan.  Keunggulan iklim tropis adalah kondisi yang memungkinkan bisa tanam sepanjang tahun, tetapi panas dan lembab membuat buah cepat busuk sehingga penyimpanan menjadi mahal. 

Sampai saat ini standar kualitas buah dan sayur, kandungan pestisida, hama/penyakit, tampilan, rasa, yang menjadi standar kualitas di pasar internasional belum sepenuhnya terpenuhi dengan baik dan masih menjadi kendala utama pemasaran ekspor kita.  Kondisi ini sudah lama dirasakan dan walaupun upaya perbaikan sudah memberikan hasil berarti, tetapi negara saingan sudah maju lagi beberapa langkah. Upaya peningkatan kualitas buah dan sayuran masih tetap harus dipacu.

BACA JUGA:

Tiga komoditas terpenting dalam perdagangan ekspor buah-buahan adalah nanas, manggis dan pisang. Walaupun potensinya besar dan tiga jenis buah tersebut laris di pasar global, tapi belum termanfaatkan dengan baik. Total volume eskpor buah-buahan Indonesia masih berfluktuasi. Pada periode 2017-2019 ada penurunan volume ekspor. BPS mencatat volumenya pada 2017 sebanyak 1.034.120 ton. Lalu menurun 31% menjadi 791.673 ton pada 2018. Pada 2019, turun lagi 5% menjadi 753.341 ton. Secara nilai juga masih belum stabil. Pada 2017 tercatat sebanyak US$ 362,1 juta. Setahun setelahnya turun 22% menjadi US$ 297,7 juta. Namun, pada 2019 kembali naik 5% menjadi US$ 323,5 juta.

Penurunan kualitas buah akibat ulah oknum yang tidak bertanggungjawab sangat berdampak buruk pada reputasi buah Indonesia.  Penggunaan pengawet, zat pewarna, bahan kimia untuk memaksa buah berwarna matang  memberi keraguan konsumen di dalam negeri sekali pun untuk mengonsumsi buah. Ini harus menjadi upaya penanggulangan yang serius.

Prosesing

Kendala utama dalam prosesing memang selalu mengarah pada teknologi,  kualitas dan pasokan bahan baku yang tidak kontinue. Tetapi akar permasalahannya adalah tidak sinkronnya kegiatan keseluruhan sistem agribisnis sehingga masing-masing subsistem berjalan sendiri tidak terintegrasi. Pada jaman kolonial, umumnya agribisnis dalam pengelolaan pemerintah kolonial terintegrasi vertikal, di mana sektor hulu, produksi tanaman dan pengolahan ditangani oleh perusahaan. Tetapi sekarang produksi pertanian sebagai bahan baku merupakan usahatani skala kecil yang tersebar, memasok usaha pengolahan yang umumnya merangkap perdagangan. Integrasi horisontal memerlukan manajemen yang jauh lebih kompleks. Kesepakatan harga, kuantitas dan kualitas dan kontrak antara petani dan industri pengolahan tidak berjalan dengan baik. Hampir semua pengolahan mengalami kekurangan bahan baku karena kesepakatan kontrak berantakan akibat ulah kedua pihak.  

Padahal peluang semakin terbuka. Buah kering semakin populer seiring dengan pola hidup masyarakat (khususnya di negara maju) yang menginginkan hidup serba praktis dan lebih banyak mencurahkan waktunya pada kegiatan profesional dan sosial.  Mereka mementingkan nutrisi dan pola makanan sehat dan konsumsi buah kering merupakan pilihan sehingga pasar produk prosesing ini semakin besar.  

Buah yang telah mengalami proses pengeringan, mengandung hingga 3,5 kali serat, vitamin dan mineral. Oleh karena itu, satu porsi buah kering dapat membantu melengkapi kebutuhan asupan harian yang disarankan dari banyak jenis vitamin dan mineral. Beberapa contoh buah kering yang cukup populer adalah kismis, kurma, plum, buah ara, dan aprikot. Untuk buah tropis telah dikenal mangga, nenas, nangka, durian, pisang dan apel. Varietas lain dari buah kering yang sudah dikenal adalah dalam bentuk manisan dalam kaleng, dan buah kering dalam bentuk keripik dengan prosesing pengeringan sederhana. 

Buah kering bermanfaat bagi kesehatan, untuk meningkatkan aliran darah, menjaga kesehatan pencernaan, menurunkan risiko kerusakan oksidatif dan sejumlah penyakit lainnya. Jadi, buah kering memang baik untuk kesehatan tubuh. Satu ironi bahwa konsumsi buah dan sayuran per kapita di negara penghasil buah tropis yang melimpah ini masih rendah. Upaya pengembangan industri hortikultura seharusnya tidak lepas dari pemenuhan asupan nutrisi masyarakat bersamaan dengan meningkatkan nilai tambah dari komoditas penting ini. 

Model usaha hortikultura yang memadukan dengan agrowisata sedang menjadi alternatif. Model ini juga mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah karena terkait issue lingkungan.  Pola ini sudah lama berkembang di negara maju seperti USA dan Australia. Yang namanya Orchard (biasa disebut New Solution of Farm Marketing) bisa menarik wisatawan, yang mampu membeli dengan harga lebih mahal, sekaligus mengurangi biaya tenaga kerja karena mereka memetik sendiri. Manajemen pengusahaannya tentu berbeda dengan pertanian biasa karena ditata dengan arsitektur dan harus memenuhi persyarataan kondisi agroklimat tertentu. Keuntungan dan manfaat ganda, bukan? Di negara maju sudah sangat biasa, di Indonesia sudah mulai berkembang di berbagai tempat, khususnya di Jawa dan Sumetera.  

(Foto koleksi pribadi, data dari Google)

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018