Tuesday, 03 August 2021


Diversifikasi Pangan dan Promosi Pangan Lokal

21 Jul 2021, 20:08 WIBEditor : Gesha

Menu talas dalam piring | Sumber Foto:Istimewa

Oleh : Memed Gunawan

Pemimpin Umum Tabloid Sinar Tani

Soal diversifikasi pangan Indonesia memang kaya. Bayangkan saja, menurut Kementan paling tidak terdapat sekitar 100 jenis pangan sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250 jenis sayuran, dan 450 jenis buah-buahan.

Pola makan masyarakat sangat beragam. Beras memang dominan, tapi yang namanya jagung, tiwul, ubi jalar, sagu singkong sejak dahulu merupakan makanan pokok. Itu dulu.

Tiba-tiba saja, dalam jangka waktu yang singkat kita terperangkap mengonsumsi beras dan terigu dalam jumlah besar. Kini, mengonsumsi makanan non beras tiba-tiba kita merasa jadi orang miskin.

Itu pula yang dipersepsikan media. Sejumlah besar devisa mengalir ke luar, impor beras dan terigu merajai impor pangan untuk memenuhi permintaan di dalam negeri yang terus meningkat.

Generasi milenial tidak mengenal berbagai macam cemilan yang namanya begitu beraneka seperti talas, ganyong, sukun, suweg, bengkuang, hui kamayung, kedele, kacang bogor, gadung, gembili, garut, iles-iles dan sederet nama lain yang sudah tidak ada lagi di buku pelajaran.

Apalagi dengan semakin terbukanya ekonomi dunia, jenis makanan baru yang memberikan citra moderen, instant, disajikan di lokasi yang strategis dan menyenangkan, membanjiri pasar dengan promosi yang masif.

Pangan nasional yang khas, sehat, asli dan dulu tersedia, banyak yang sudah terlupakan dan menjadi sejarah masa lalu. Mengonsumsi makanan non beras itu adalah semacam nostalgia belaka.

Menghidupkan kembali pangan lokal adalah pekerjaan besar yang memerlukan kerja keroyokan. Banyak pihak terlibat dan perlu komitmen kuat bersama. Perlu koordinasi. Tidak mudah tapi harus. Dan prioritas, supaya kita tidak menjadi pengimpor karbohidrat yang gudangnya ada di negeri sendiri.

Dengan kondisi masih terkendala produktivitas, produksi, pemasaran dan prosesing, tidak pelak lagi upaya inovasi pangan lokal memerlukan energi tinggi dan serius. Seluruh komponen yang terlibat perlu bersinergi dengan baik. Lembaga penelitian yang menangani pangan lokal selain beras harus fokus untuk menemukan tanaman yang berproduktivitas tinggi yang betul-betul unggul untuk dipromosikan kepada masyarakat.

Sejalan dengan penelitian dan penyuluhan, pengembangan kebun bibit yang baik adalah satu langkah berikutnya. Varietas tanaman pangan banyak yang sudah dikenal baik dan diunggulkan masyarakat, tetapi bibitnya masih sulit diperoleh. Kebun bibit juga perlu mendapat pengawasan yang ketat untuk menjaga kualitas, menghindari terjadinya pemalsuan bibit.

Di bidang pemasaran dan penyajian, pangan lokal masih jauh tertinggal dibandingkan dengan serbuan makanan moderen yang meroket dengan cepat. Akses konsumen terhadap komoditas pangan lokal merupakan aspek berikutnya yang sangat penting.

Perubahan besar telah terjadi, di mana konsumen tidak lagi memulai dari awal dalam mempersiapkan makanannya dengan mengupas, menguliti, mencuci dan membersihkan serta membuang sampahnya. Kepraktisan seperti yang pernah tercipta dulu dengan membuat beras jagung, singkong parut yang siap dimasak, tepung sagu atau keripik harus dihadirkan kepada masyarakat di pasar.

Yang akan sangat berat adalah mengubah persepsi masyarakat yang terlanjur melihat pangan lokal sebagai komoditas inferior. Mengangkat citra komoditas yang terlanjur mendapat predikat yang buruk memerlukan waktu dan pendekatan yang hati-hati. Mari mulai.

 

 

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018