Thursday, 23 September 2021


Sagu, Sego dan Sangu

27 Aug 2021, 19:28 WIBEditor : Yulianto

Kandung gizi sagu | Sumber Foto:Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Sagu yang dikenal merupakan makanan pokok bagi masyarakat di Maluku dan Papua ternyata tidak juga "lokal". Siapa mengira kalau sagu pernah juga jadi makanan pokok masyarakat Nusantara, termasuk Sumatera dan Jawa. Istilah sego (Jawa Tengah/Timur, dan sangu (Jawa Barat) diduga mengacu pada akar kata yang sama dengan sagu. Bedanya di Jawa sagu lebih banyak diperoleh dari pohon aren, bukan dari pohon sagu. Keduanya adalah keluarga palma.

Memed Gunawan

Pada era berikutnya, sagu sebagai bahan makanan pokok tidak lagi umum dikonsumsi di Sumatra dan Jawa sementara di kawasan timur pun konsumsi sagu semakin menurun karena sebagian ada yang beralih ke beras.

Tepung sagu kaya dengan karbohidrat (pati) dan mineral namun kurang akan kandungan protein.  Sumber data dari Wikipedia menyebutkan, 100 gram sagu kering  di dalamnya rata-rata terkandung 94 gram karbohidrat, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10 mg kalsium, 1,2 mg besi, dan lemak, karoten, tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah kecil. 

Dari satu pohon sagu dapat dihasilkan 200 sampai lebih dari 900 kg pati, tergantung jenisnya, sehingga dari satu pohon sagu bisa mencukupi untuk dikonsumsi keluarga beranggota 4 orang selama berbulan-bulan.  Satu upaya yang sangat efisien karena untuk memperolehnya cukup dilakukan oleh beberapa orang dalam waktu sangat singkat. Cukup oleh 4 orang selama 6 hari (Wikipedia). Jauh lebih cepat dibandingkan dengan menanam padi yang memerlukan puluhan orang selama 3-4 bulan. 

Memanen sagu itu ibarat menebang pohon di hutan karena pohon sagu tidak ada yang menanam, manusia hanya tinggal menebang. Sama seperti pohon aren yang ada di Jawa, hampir tidak ada yang menanam, kecuali musang. Dengan areal tanaman sagu yang terhampar di daerah gambut dan pesisir yang luasnya sekitar 5,5 juta ha, tak diragukan lagi tanaman sagu yang tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk kalau hanya digunakan hanya untuk konsumsi lokal.

Tetapi jika dikembangkan menjadi bahan baku industri, seperti bio etanol atau gula misalnya, tentu perlu dipikirkan untuk membudidayakannya. Tanaman sagu berperan sebagai pengaman lingkungan karena dapat mengabsorbsi emisi gas karbondioksida yang berasal dari lahan rawa dan gambut ke udara. 

Bagi masyarakat pemakan sagu, mengingat bahan pangan ini kaya nutrisi kecuali kurang kandungan protein, diperlukan sumber makanan lain yang menyertainya sehingga makanan tersebut memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Dan memang secara umum pola makanan kita masih sangat berat ke karbohidrat dan kekurangan nutrisi lain yang diperlukan oleh tubuh. Sayang banyak masyarakat yang lebih mementingkan pengeluaran untuk rokok dan pulsa katimbang untuk makanan sehat. Ini juga salah satu Pekerjaan Rumah penting kalau akan mengembangkan sagu sebagai makanan pokok.

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018