Thursday, 23 September 2021


MEMASAK GABAH?

10 Sep 2021, 10:19 WIBEditor : Gesha

Pangan pengganti beras | Sumber Foto:BKP

Oleh : Memed Gunawan

Pemimpin Umum Tabloid Sinar Tani

Bayangkan seandainya yang dijual di pasar, warung dan toko-toko bukan beras tetapi gabah, mustahil orang mau menanak nasi. Artinya orang malas untuk makan nasi karena effortnya terlalu besar. Perlu waktu khusus untuk membuat gabah jadi beras, selain repot mengurus sampahnya.

Jangankan dalam bentuk gabah, beras pecah kulit saja yang sehat, kaya akan protein dan mineral, tetapi tidak halus dan pulen sehingga kurang nyaman meluncur di tenggorokan, kurang disukai. Beras yang disosoh sampai mengkilatlah yang kemudian menjadi beras premium, walaupun nilai gizinya sudah jauh menurun.

Sekarang menanak nasi itu mudah. Beras tersedia di warung yang paling sederhana sampai di toko paling moderen, alat untuk memasaknya tersedia dari yang paling tradisional sampai dengan yang paling canggih, dan kualitas berasnya beragam dengan harga yang bisa terjangkau oleh konsumen. Makanya orang tidak lepas dari nasi, bahkan ada yang bisa makan berbakul-bakul.

Bayangkan, sekarang kalau orang mau masak singkong atau jagung. Semua kemudahan itu belum tersedia. Komoditas yang digadang-gadang untuk menjadi alternatif bahan karbohidrat berkualitas pengganti beras ini belum tersedia di pasar dalam kondisi siap untuk dimasak seperti halnya beras.

Lalu harganya? Ibu Murni penjual nasi tiwul dan nasi jagung, asli Gunung Kidul, yang jualannya sedang maju itu tidak kekurangan pembeli, tetapi dia mengeluh kekurangan bahan baku. Sampai harus pesan tiwul dari kampungnya yang jauh dari Jakarta.

Contoh ekstrim ini hanya ilustrasi bahwa upaya diversifikasi pangan lokal sumber karbohidrat pengganti beras itu tidak hanya terkait dengan masalah selera dan persepsi masyarakat konsumen tentang beras, singkong, jagung dan sebangsanya.

Harga dan ketersediaan serta kemudahan untuk mengolahnya merupakan faktor penting. Oleh karena itu inisiatif berbagai lembaga riset dan usaha untuk menghadirkan komoditas alternatif sumber karbohidat pengganti beras adalah sangat strategis.

Beras analog, beras mutiara, mie sagu, talas, cips singkong, atau tepung pisang menjadi sangat penting. Upaya diversifikasi adalah menghadirkan pilihan dan mempromosikan, kemudian menyerahkan pilihan kepada masyarakat konsumen.

Permasalahannya memang tidak sederhana karena prosesing untuk menghadirkan alternatif sumber karbohidrat yang siap untuk dimasak itu tidak murah, apalagi masih dengan ujicoba dan skala kecil. Akibatnya harganya menjadi cukup tinggi melebihi harga beras kualitas premium.

Di sinilah kreativitas kita diuji. Soal rasa, seperti sudah dipromosikan oleh berbagai pihak, tidak kalah dengan beras. Jadi agar komoditas alternatif itu ada di pasar, mudah dibeli dan bisa disimpan, produksi dan distribusi dalam jumlah yang cukup harus jadi bagian yang melekat dengan promosi dan sosialisasi. Mungkin perusahaan BUMN pangan bisa menjadi pilot projek usaha yang menjanjikan ini.

Bagi kaum milenial persoalan memasak gabah ini memang solusinya mudah dan sederhana, "GoFood aja," katanya.

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018