Monday, 06 December 2021


Pranatamangsa-KATAM-Climate Change

05 Nov 2021, 19:16 WIBEditor : Yulianto

Pranatamangsa | Sumber Foto:Dok.UIN Walisongo

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pertanian, bahkan yang paling tradisional sekalipun, sudah lama mengenal jadwal tanam. Ini sangat menakjubkan. Tanda-tanda alam memandu kapan manusia harus melakukan aktivitas pertanian. Ribuan tahun lalu pengetahuan tentang astronomi telah memandu manusia dalam menjalani kehidupan, melakukan perjalanan dan memberi petunjuk perubahan iklim.

Pertanian berkembang di Asia, Mesir, India, Cina, Afrika dan Amerika dengan cirinya masing-masing, dan mengenal petunjuk alam dengan cara yang berbeda. Kalender yang juga digunakan untuk jadwal tanam padi dan aktivitas pertanian lainnya, dikenal di Jawa (Pranatamangsa), Batak (Parhalaan), Dayak (Wehea), dan mungkin di daerah lain. Bahkan, walaupun tidak tertulis, tanda-tanda perubahan kondisi dan perilaku alam, seperti bintang, angin, air, binatang, pohon, dan hama dipercaya menjadi patokan dan jadi pemandu kapan harus melakukan kegiatan pertanian.

Selama berabad-abad tanda-tanda tersebut tergolong akurat dan diikuti oleh petani. Alam cenderung stabil dari tahun ke tahun sehingga kalender ajaib itu jadi panduan baku musim tanam padi bagi petani. Musim tanam yang dikenal ASEP (April-September) dan OKMAR (Oktober-Maret) juga sudah digunakan petani dan menjadi istilah baku para penyuluh.

Panduan yang lebih saintifik, berdasarkan pengamatan teliti dengan menggunakan peralatan canggih, tidak hanya berdasarkan gejala alam saja, telah menghasilkan KATAM atau Kalender Tanam. Variabel yang digunakannya lebih banyak dan menggunakan perhitungan dengan komputer oleh para ahli. Data serial kuantitatif perubahan iklim global, termasuk perubahan suhu, presipitasi, kekeringan dan kondisi tanah, diolah menggunakan model matematik rumit, dipakai untuk menetapkan jadwal tanam yang lebih akurat.

Jadwal tanam menjadi lebih rinci, berbeda-beda sesuai kondisi agroklimatnya. Bisa jauh sebelum Musim Hujan (MH) tiba, dekat dengan MH, sesudah terjadi MH, bahkan pada Musim Kemarau (MK) atau sesuai Kearifan Lokal karena kondisinya khusus. Digunakan pula jaringan informasi dan gugus tugas untuk menyebarkan informasinya ke petani.

Bersamaan dengan itu, iklim perlahan berubah. Ke arah yang makin kurang bersahabat dan berlangsung semakin lama semakin cepat. Climate Change. Seluruh dunia sibuk membangun program, model dan aksi untuk menanggulanginya. Pemanasan Global, dampak dari emisi gas rumah kaca yang terbentuk akibat tidak terkontrolnya aktivitas manusia. Peradaban moderen telah berdampak buruk pada tatanan keseimbangan alam. 

Perubahan iklim telah membuat panduan baku untuk pertanian itu buyar.  Kenyatanya semakin banyak dan semakin tidak terduga bencana terjadi akibat climate change. Banjir, puting beliung, longsor, gempa bumi dan tentu saja meningkatnya suhu udara. Semua itu berdampak pada kehidupan manusia.  Kerusakan alam akibat climate change tidak terbendung tanpa ada upaya menghentikan penyebabnya. Semakin tinggi tingkat kerusakan alam raya ini, semakin mustahil manusia membendung akibatnya terhadap kehidupan.

Kerusakan alam berlomba dengan upaya manusia untuk menanggulanginya. Dan kita sudah bisa menduga sejak jauh hari, siapa yang akan menjadi pemenangnya apabila manusia terlambat menyadarinya.  Manusia harus bersikap ramah terhadap alam, menghindari perlakuan sewenang-wenang dalam mengekstraksi berlebihan di luar kemampuan alam. Ah! Hampir saja kita kehilangan harta pusaka: Pranatamangsa.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018