Monday, 06 December 2021


KIAT AGAR PANGAN LOKAL JADI MENU MILENIAL

12 Nov 2021, 20:11 WIBEditor : Gesha

Singkong days ala UNS | Sumber Foto:Istimewa

 

TABLOIDISINARTANI.COM, Jakarta--Jangankan selera terhadap makanan, perilaku manusia saja bisa berubah. Pengaruh budaya, pergaulan dan perubahan zaman yang terjadi dari generasi ke generasi telah mengubah perilaku manusia.

Promosi yang semakin canggih dan keterbukaan informasi merupakan faktor yang sangat efektif berpengaruh terhadap perilaku manusia. Soal makanan, memang kita telah terjebak mengonsumsi banyak makanan baru. Tidak mudah untuk kembali mengonsumsi pangan lokal yang sudah ditinggalkan.

Ketika kita mencoba kembali untuk mengonsumsi makanan masa lalu, itu seperti hanya mengungkap nostalgia. Itulah yang terjadi ketika pangan lokal yang telah banyak ditinggalkan dicoba diperkenalkan kembali. Bisa jadi mengungkap nostalgia atau bahkan mengenalkan sesuatu yang baru, karena generasi milenial belum mengenalnya sama sekali. Nah, jadi bagaimana kiatnya agar pangan lokal jadi menu milenial?

Makanan lokal yang kita kenal di masa lalu adalah makanan yang sederhana, baik dalam bentuk, olahan, rasa maupun penampilan, walaupun soal gizi sangat baik tak terbantahkan. Tapi anak muda telah beralih ke makanan yang namanya baru dan moderen, yang rasanya beraneka dan penampilannya memikat walaupun gizi sering terdegradasi. Seleranya berbeda.

Jadi kalau hanya dengan merebus, mengukus, memanggang atau memasak seadanya, pangan lokal sulit bersaing. Pangan lokal memerlukan polesan baru, yang moderen, yang memikat selain lezat. Ketersediaan di pasar dalam bentuk yang siap dimasak adalah syarat mutlak.

Tak ada yang bisa bersaing dengan beras dan terigu dalam hal ketersediaan dan kesiapan untuk diolah serta kemudahannya untuk disimpan. Oleh karena itu singkong, ubi jalar, jagung, kentang, sagu dan talas harus tersedia dalam kondisi siap masak, dan bisa disimpan secara aman dan murah tidak memerlukan peralatan mahal. Selama berbiaya tinggi karena mudah rusak dan harus disimpan di freezer, pangan lokal sulit menjadi pilihan konsumen.

Popularitas pangan lokal nostalgia yang sekarang sedang populer di cafe, rumah makan dalam bentuk olahan segar dan cemilan adalah titik awal yang menjanjikan. Penampilan dan rasanya sudah sangat beragam, sehingga jika dipadukan dengan suasana masa lalu yang sederhana menjadikannya penuh nostalgia. Ini separuh wisata. Dan tidak ada salahnya.

Konsumsi pangan lokal melalui pemasaran ala restoran dan wisata cukup berkembang. Permintaan terhadap bahan bakunya terus meningkat dan kadang karena produk lokal tidak mampu memenuhi permintaan, sebagian harus diimpor. Harga bahan pangan lokal cemilan ini sudah lebih tinggi dari harga beras, dan tentu saja ini memerlukan penanganan tersendiri.

Yang jelas, promosi bahan pangan lokal tidak cukup dengan hanya menyediakan komoditas tersebut di pasar dalam bentuk yang siap olah tetapi juga harus disertai introduksi cara pengolahan, konsumsi dan berbagai bahan penyertanya agar sesuai dengan harapan konsumen. Selera konsumen sudah berubah, dan tuntutan mereka harus dipenuhi.

Pangan lokal sudah naik kelas dan konsekuensinya tentu harganya juga naik. UMKM memang sangat berperan dalam meningkatkan pengolahan dan pemasaran pangan lokal. Jadi tepat sekali kalau UMKM jadi andalan untuk promosi komoditas ini, tapi tetap perlu pendampingan.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018