Monday, 06 December 2021


RISIKO SEHARGA SEBUNGKUS ROKOK

19 Nov 2021, 15:11 WIBEditor : Gesha

Petani yang merokok | Sumber Foto:Ondo

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Nilai sebungkus rokok yang dengan mudah dibakar setiap hari ini sulit dialihkan untuk mengamankan usaha dari risiko kegagalan yang mengancam setiap saat.

Premi Asuransi Pertanian hanya Rp 36 ribu per hektare tanaman padi untuk tanggungan kerusakan sebesar Rp 6 juta.  Premi yang hanya senilai sebungkus rokok ini tak juga gampang keluar dari kantong petani agar usahataninya terlindungi oleh Asuransi Usahatani Padi (AUTP). Premi yang begitu rendah itu bisa terjadi karena bagian terbesarnya, yaitu Rp 144 ribu ditanggung oleh pemerintah.  Apa pasal?

Asuransi pertanian yang baru dimulai pada tahun 2015 itu dalam perjalanannya selama 6 tahun mengalami perkembangan sedang-sedang saja dibanding manfaatnya yang begitu besar. Tercatat sekitar 1 juta hektare pada tahun 2019 yang telah ikut dalam AUTP. Sebagian besar di Jawa.

Rencana untuk meningkatkan menjadi 3 juta hektare susahnya bukan main. Ditengarai masih ada keengganan sebagian petani untuk ikut dalam program yang bermanfaat ini. Nilai sebungkus rokok yang dengan mudah dibakar setiap hari ini sulit dialihkan untuk mengamankan usaha dari risiko kegagalan yang mengancam setiap saat.

Sebagian karena mereka belum mengerti. Terlihat misalnya, petani baru mau mendaftar ikut asuransi sesudah pertanamannya kebanjiran atau rusak diserang hama. Selain itu mekanisme penanganan AUTP tidak selalu mulus walaupun akhir-akhir ini telah dibangun aplikasi yang mempermudah pendaftaran, pengawasan, pemantauan  dan penyelesaian klaim. Bukankah teknologi digital dan internet sudah merambah sampai ke pedesaan?

Jadi kenyataannya, kendala AUTP ini tidak hanya terkait dengan masalah ketidaktahuan petani tentang program yang di negara barat sudah berlangsung sejak berabad lalu, dan di India, Cina dan Vietnam sudah sejak tahun 1970-an itu.  Kendalanya bukan hanya ketidakpahaman.  Komplain juga masih terjadi karena adanya kasus-kasus keterlambatan dalam penanganan klaim karena berbagai hal, walaupun dalam iklannya terlihat sangat mudah dan bersahabat.

Intinya, kurangnya sosialisasi adalah penyebab utama. Selain itu sosialisasi perlu menyeluruh mencakup berbagai aspek. Sosialisasi tentang bencana, tentang program asuransi, baik manfaat maupun mekanisme pemanfaatkannya. Sosialisasi tentang bagaimana menggunakan aplikasi yang tentunya tidak hanya memerlukan keterampilan menggunakannya, tetapi juga sangat tergantung kepada peralatan dan infrastruktur yang tersedia di pedesaan.

Di atas semua itu, mitigasi bencana sangat penting. Informasi tentang terjadinya bencana, jenis bencana, antisipasi, cara mengatasinya, dan didukung dengan ketersediaan semua sarana yang diperlukan dalam menghadapi bencana seperti jenis tanaman, varietas benih yang sesuai dan alsintan yang diperlukan.

Untuk itu semua saluran informasi yang diperlukan digerakkan, seperti tenaga penyuluh, BPP, aparat Pemda, dan tidak terkecuali media terkait seperti Tabloid Sinar Tani. Memang sangat memilukan ketika nilai sebungkus rokok harus mengorbankan pertanggungan yang nilainya ribuan kali lipat. Mengurus masyarakat kecil memang sangat berat dan banyak kendala tetapi kita tidak akan berhenti karena di sanalah inti permasalahan kesejahteraan.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018