Monday, 23 May 2022


Meremajakan Wajah Perkebunan

11 Dec 2021, 13:37 WIBEditor : Gesha

Peremajaan kebun | Sumber Foto:BPDP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --  Subsektor Perkebunan menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Di era milenials, wajah perkebunan pun akan diremajakan untuk bisa memberikan hasil produksi yang memadai. 

Perkebunan di negeri ini mempunyai pengalaman gemilang yang tercatat dalam sejarah perkebunan dunia. Perkebunan Indonesia sangat kaya dan beragam. Sebutlah tebu, teh, tembakau, karet, kopi, kelapa, kelapa sawit dan rempah-rempah yang komoditas perdagangan penting di dunia. Kekayaan ini pula yang menjadi penyebab terjadinya tragredi ketika negara-negara di kawasan Eropa berbondong-bondong datang dan berebut sehingga Nusantara mereka kuasai selama berabad-abad lamanya.

Hasil perkebunan yang nilainya luar biasa tersebut telah memperkaya negara mereka, sementara petani kita tetap miskin. Kita masih ditinggali aset perkebunan, pengetahuan teknis dan lembaga penelitian, tetapi bukan kemampuan manajemen di tingkat pimpinan. Pada saat itu, negara-negara lain yang sekarang menjadi pesaing kuat Indonesia belum mempunyai peran apa-apa di bidang perkebunan.

Selain tingginya tingkat keseriusan negara-negara pesaing dalam mengembangkan perkebunannya, kita juga lengah dalam beberapa hal. Kecuali kelapa sawit yang berkembang sangat cepat sejak era 70-an, perkebunan peninggalan pemerintah kolonial boleh dikatakan belum mengalami peremajaan yang berarti.

Tanaman sudah berumur tua, sejak lama tidak mengalami peremajaan. Khususnya tanaman perkebunan rakyat, tanamannya sudah semakin tua dan produktivitasnya menurun. Lihatlah tanaman kelapa, teh, karet dan rempah-rempah yang dimiliki rakyat sudah kurang terpelihara. Sementara varietas unggul hasil penelitian masa kini belum banyak diterapkan karena peremajaan lambat dilakukan.

Jadi bagaimana?

Pertama, peremajaan adalah keharusan, harus segera dan dengan menggunakan bibit yang berkualitas baik. Data menunjukkan, produktivitas hampir semua komoditas perkebunan lebih rendah dengan senjang cukup lebar dibandingkan dengan produktivitas perkebunan di negara-negara pesaing.

Yang kedua, kegiatan ekonomi perkebunan masih terfokus di on-farm. Kegiatan ekonomi di sektor hilir belum atau kurang menjadi prioritas, padahal margin terbesar berada di pemasaran, pengolahan dan pengembangan produk. Produk olahan yang berkualitas baik seperti coklat, teh, kopi, olahan rempah masih banyak diimpor.

Apalagi gula, Indonesia telah menjadi negara importir terbesar di dunia. Ekspor bahan baku atau setengah jadi telah membuai kita cukup lama, sementara pasar bergerak terus menciptakan margin besar pada pengolahan dan product development. Industri pengolahan nasional belum lama bergerak, dan masih terus berjuang dalam meningkatkan kualitas, tapi kelapa sawit cukup fenomenal karena telah diolah menjadi bahan bakar.

Dukungan infrastruktur, teknologi dan kebijakan pendukung adalah hal berikutnya yang harus dibangun. Pelabuhan khusus, tangki penyimpanan, transportasi, penerapan teknologi dan standar kualitas moderen diperlukan untuk memenangi persaingan yang ketat.

Menurut Soedjai Kartasasmita, mesin pemetik daun teh di Amerika sudah bisa membedakan daun muda dan tua sehingga teh hasil petikan tangan manusia yang berharga mahal itu tidak berbeda dengan hasil petikan dengan mesin.

Kebijakan di bidang pertanian, industri pengolahan dan perdagangan juga perlu dibangun sinkron untuk bisa saling mendukung dan membesarkan.

 

 

 

 

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018