Saturday, 29 January 2022


Menangguk Cuan dan Keindahan, Urban Farming Perlu Dukungan Teknologi dan Keseriusan

14 Jan 2022, 21:20 WIBEditor : Yulianto

Urban farming di DKI Jakarta | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Jangan menganggap enteng orang kota soal pertanian, ternyata mereka bisa bertani di lahan sempit dan berjaya. Konon, sepertiga kebutuhan sayuran di Tokyo, Jepang, dipasok oleh  pertanian perkotaan setempat. Singapura juga demikian, dia sedang berusaha menanam sayuran di tengah kota dan gedung tinggi, bahkan sudah mencoba bikin chicken nugget bukan dari daging ayam.

Dalam perkembangan perkotaan masa lalu, lahan pertanian diubah menjadi kota, perumahan dan fasilitas sosial, hingga lahan pertanian berkurang. Kini sisa-sisa lahan yang sempit di kota itu disisir, ditanami, dijadikan lahan pertanian. Jakarta seperti sedang mengembalikan kejayaan lagu "Papaya mangga pisang jambu/Dibawa dari Pasar Minggu" yang fenomenal pada masa lalu. Ironi memang.

Pertanian rumahan sekitar pekarangan sudah lama jadi kegiatan sapujagat para pensiunan. Ini obat mujarab buat orang tua supaya ada kegiatan dan olahraga ringan. Kemudian kegiatan ini menjadi serius menggunakan teknologi yang semakin canggih dan macam-macam perhitungan bisnis. Muncullah pertanian vertikal bertingkat-tingkat, hidroponik, aquaponik dan aeroponik yang kabarnya memerlukan modal besar tapi menghasilkan produktivitas lahan tinggi sampai sembilan kali lipat.

Di Indonesia, pertanian perkotaan atau urban farming booming ketika pekerja usia produktif banyak tinggal di rumah terkendala pandemi Covid-19. Bukan hanya karena pegel tinggal di rumah tetapi karena perlu menghasilkan sayuran, mengurangi pengeluaran akibat penghasilan tersendat. Urban farming bukan hal baru, karena sebenarnya sudah banyak masyarakat di perkotaan bertani, mengolah lahan tidur, terbengkalai, di pinggiran jalan, bahkan di pinggir danau dan bantaran sungai walaupun kadang tanpa izin alias liar.

Urban farming memberikan hasil positif, selain menyalurkan hobi, olahraga, juga menghasilkan produksi, ekonomi keluarga dan keindahan, dan berdampak positif terhadap lingkungan. Urban farming biasanya dilakukan dengan menanam tanaman yang sering dikonsumsi, seperti sayuran, jamur, buah, umbi-umbian, tanaman obat atau tanaman hias.

Jangan-jangan penjual tanaman hias sepanjang bahu jalan itu sengaja tidak diusir karena membuat jalan indah dan hijau walaupun mengganggu jalan. Ini mengingatkan pada keindahan jalan dan gang serta rumah antik yang ditaburi bunga beraneka di Eropa dan Amerika sana, yang menjadi tujuan wisata.  Beberapa kota di Indonesia sudah menirunya, dan berhasil.

Akhir-akhir ini urban farming sudah viral. Semoga ini bukan musiman hanya selama pandemi Covid-19. Kegiatan yang sangat bermanfaat ini memerlukan komitmen dan keberlanjutan semangat para pelakunya. Sayuran dan buah-buahan sehat menjadi kebutuhan, karena --ini sangat ironi-- negara yang kaya akan jenis sayuran dan buah-buahan ini konsumsi sayuran dan buah-buahannya sangat rendah.

Bagaimana mendukung perkembangan urban farming? Secara umum dukungan terhadap urban farming termasuk sudah mumpuni. Benih, pupuk dan peralatan tersedia tanpa ada kendala. Dukungan pemerintah juga sangat besar, baik teknologi maupun program pengembangan dan bimbingan. Yang dikeluhkan, seperti biasa, adalah pemasaran.

Walaupun sasaran urban farming antara lain adalah untuk mendekatkan lokasi produksi pada konsumen agar biaya pengangkutannya rendah, tetapi kenyataannya produk sayuran dari pusat-pusat produksi pertanian konvensional mampu bersaing. Masih banyak peluang untuk membantu petani mengembangkan usaha dan memasarkan produknya melalui berbagai program yang ditangani pemerintah daerah masing-masing. Yang perlu adalah kreativitas dan inovasi. Maaf, bicara memang gampang.

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018