Sunday, 26 June 2022


Seng Ada Lawan, Indonesia Kibarkan Kopi Citarasa Dunia

18 Mar 2022, 18:47 WIBEditor : Gesha

Kopi Indonesia | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Brazil dan Vietnam boleh saja menjadi penghasil kopi dua terbesar di dunia, tapi soal rasa dan penampilan tak akan mengalahkan kopi Indonesia. Begitu seharusnya kita bersikap dengan penuh percaya diri dalam menampilkan kopi Indonesia di mata dunia. 

Maka pantas kalau kita punya motto "Indonesia Surganya Pencinta Kopi Dunia". Dengan kualitas kopi single origin dan specialty coffee, racikan ala Indonesia dari yang paling sederhana sampai dengan yang bernuansa art menempati posisi teratas. Sebab bagi pencinta kopi sejati, kenikmatan minum kopi tidak hanya bicara Arabica dan Robusta, tetapi bicara soal tekstur, kekuatan atau body, aroma, rasa yang unik dan penampilan.

Sebut saja kopi Gayo Arabica sebagai salah satu kopi terbaik di dunia yang beraroma tajam, dengan rasa pahit kuat tapi tidak memberi bekas rasa pahit setelah meminumnya. Kita mempunyai kopi Lampung yang teksturnya halus, rasanya cukup kuat; kopi Toraja yang mempunyai tingkat keasaman rendah, rasa floral dan fruity, dan rasa kopinya yang kuat; kopi Jawa yang tidak terlalu kuat dan cenderung seimbang, kopi Arabika Flores Bajawa dengan tingkat keasaman medium serta tekstur rasa yang ringan, bahkan ada sensasi manis serta cita rasa kacang-kacangan dan herbal.

Kita juga punya kopi Kintamani Bali, dengan cita rasa kesegaran dari asam seperti jeruk, aromanya eksotis dilengkapi dengan tekstur yang light, dan kopi Papua Wamena, dengan ketajaman aroma dengan cita rasa yang ringan dan nuansa harum coklat dan herbal.

Keungglan kopi Indonesia adalah di body (rasa di mulut), yang penuh, pekat dan ketika dicampur susu yang juga creamy, rasanya jadi luar biasa.

Indonesia kaya akan jenis kopi yang mempunyai cita rasa istimewa, beda dan unik. Pamornya sedang meningkat, gaungnya menyentuh semua lapisan masyarakat, tidak hanya pebisnis dan peminum kopi tapi juga para petani berdasi dadakan yang tiba-tiba belajar menanam dan meracik kopi.

Saat ini kopi adalah komoditas perkebunan terpenting sesudah sawit dan karet. International Coffee Organization (ICO) bulan Oktober 2020 menyatakan ekspor kopi Indonesia meningkat selama 1 tahun terakhir sebesar 21,8 persen.

Walaupun demikian, gema kopi ini belum memberitakan lonjakan signifikan pendapatan dan kesejahteraan petani kopi tradisional yang merupakan bagian terbesar (99 persen) produsen kopi Indonesia. Keberuntungan mereka belum banyak terberitakan.

Seperti pada umumnya, margin terbesar pada dunia pertanian berada di sektor hulu dan hilir. Semoga gemuruh perkembangan industri kopi Indonesia meningkatkan taraf hidup petani tradisional kopi. Kalau petani tidak menikmati keuntungan, gemuruh itu hanya untuk jangka pendek saja.

Akhirnya, dalil kehidupan berlaku bahwa keadilan adalah perekat untuk kerjasama yang berkelanjutan. Tidak ada keberhasilan yang bertumpu pada pengorbanan pihak lain. Jadi terpulang kepada kita, bagaimana margin keuntungan kopi yang sedang berkembang itu ditransmisikan kepada semua pelaku secara berkeadilan. Tergantung kepada kemampuan membangun sistem agar semua yang berperan dalam bisnis kopi ini mendapatkan manfaat yang adil.

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018