Friday, 01 July 2022


Anomali Kualitas, Beras PK Lebih Baik

14 May 2022, 16:35 WIBEditor : Gesha

Beras Pecah Kulit (PK) | Sumber Foto:Evrina

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Perbedaan harga di pasar antara beras kualitas medium dengan premium cukup signifikan. Tapi bagaimana soal kandungan gizi? Ternyata kualitas beras tidak mencerminkan kandungan gizinya.

Klasifikasi beras yang ditetapkan dalam SNI Beras 6128:2015 terdiri dari 4 kelas beras, yakni beras premium, beras medium 1, medium 2 dan medium 3. Klasifikasi ini hanya didasarkan atas ciri-ciri fisik, yaitu derajat sosoh, kadar air, beras kepala, beras patah, butir beras lainnya yaitu butir menir, merah, kuning/rusak, kapur, butir gabah, dan benda lain.

Secara umum beras terbaik dan termahal bukanlah yang memberikan gizi terbaik. Beras yang sudah diproses sampai mengkilat dan enak itu gizi terbaiknya sudah hampir habis terkupas.

Kebijakan harga juga menentukan pasokan. Pasokan beras medium, menurut kalangan pedagang tidak banyak karena sentra-sentra penggilingan lebih suka menggiling gabah menjadi beras premium ketimbang beras medium. Hal itu bukan tanpa alasan. Selama harga eceran tertinggi (HET) tidak menguntungkan untuk memproses beras kualitas medium, pengusaha penggilingan akan lebih memilih memasok beras premium.

Selera konsumen mendikte pasar. Beras Pecah Kulit (beras PK) yang diproses dengan murah dan mengandung gizi tinggi bukan menjadi pilhan konsumen. Padahal setiap 100 gram beras PK mengandung energi 335 Kkal, protein 7,4 gr, karbohidrat 76,2 gr, lemak 1,9 gr, kalsium 12 mgr, fosfor 290 mgr dan zat besi 2 mgr. Selain itu didalam beras PK terkandung vitamin B1 0,32 mgr. Yang diminta konsumen adalah beras yang enak, nyaman, cepat dimasak dan praktis.

Di kalangan masyarakat masih ada salah persepsi bahwa beras PK yang berwarna kusam dan rasanya kurang enak itu adalah beras kelas rendah. Perlu upaya mengedukasi masyarakat tentang beras yang kaya gizi ini, walaupun tidak mudah. Karena bagi masyarakat, beras PK itu justru dianggap beras afkiran.

Kini terpulang kepada upaya dan terobosan penelitian dan sosialisasi, sejauh mana beras PK itu bisa mempunyai tampilan dan rasa yang sesuai dengan keinginan konsumen tanpa kehilangan gizi dan nutrisi yang diperlukan.

Upaya meningkatkan konsumsi beras PK dapat dilakukan seiring dengan upaya diversifikasi bahan pangan karbohidrat yang sedang digalakkan. Trend saat ini yang mengutamakan pola hidup sehat dan back to nature adalah saat yang tepat untuk mensosialisasikan beras PK.

Informasi kepada masyarakat melalui berbagai institusi yang terkait dengan pangan dan pedesaan harus gencar dan masif karena belum semua masyarakat tahu tentang keunggulan beras PK. Tidak hanya lebih bergizi tetapi juga harganya lebih murah dan diproses dengan cara lebih sederhana. Sosialisasi dapat dilakukan melalui media penyuluhan, iklan di media massa, maupun pameran yang melibatkan langsung masyarakat.

 

 

 

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018