Friday, 01 July 2022


Bawang Merah tak Perlu Teknologi Roket

21 May 2022, 17:27 WIBEditor : Gesha

Juwari dengan Pasta Bawang Merah | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Ekspor selama ini dilakukan melalui eksportir mitra. Namun, keuntungan akan lebih besar lagi kalau ekspor dilakukan sendiri oleh petani sekaligus pelaku usaha. 

Ekspor bawang merah yang sudah diproses menjadi pasta, bawang goreng dan bawang krispi sangat menguntungkan. Itulah yang dialami oleh Haji Juwari, Ketua Asosiasi Bawang Merah (ABMI), sekaligus petani bawang merah di Brebes, Jawa Tengah. 

Selain prosesing masih menggunakan teknologi sangat sederhana, ternyata untuk menjadi eksportir itu tidak mudah. Banyak prosedur harus dilalui. Untuk menjadi eksportir banyak persyaratan harus dipenuhi dan perlu pengetahuan khusus.

Bawang merah adalah komoditas penting. Sebagai penyedap yang membuat makanan menjadi harum dan enak, bawang merah juga mempunyai manfaat sebagai obat herbal. Hilangnya bawang merah dari pasar cukup membuat tukang masak kelabakan. Bawang merah hanya diperlukan sedikit tapi penting, tanpa bawang merah masakan jadi hambar kurang selera.

Harganya berfluktuasi sesuai dengan musim, walaupun belum sampai terdengar ada yang demo karena harga bawang merah melonjak. Baru pada tataran keresahan yang muncul di media massa.

Bawang merah juga ternyata tanaman manja. Minta perhatian penuh petani setiap hari. Usahatani bawang merah memerlukan modal besar, terutama untuk bibit. Hamanya banyak, oleh karena itu pemeliharaan tanaman menjadi sangat penting. Kalau terbebas dari hama, untungnya melimpah tetapi kalau tanaman habis terserang hama, kerugian bisa membuat petani jatuh tersungkur.

Maka petani habis-habisan menjaga tanamannya. Penggunaan pestisida bisa melindungi kerusakan tanaman sampai 30-40 persen. Tetapi petani perlu mendapat bimbingan, jangan sampai menyemprot tanamannya setiap tiga hari seperti yang biasa dilakukannya, karena berakibat kurang baik terhadap produk maupun manusia. Trend sekarang konsumen meminta produk pertanian bebas kandungan bahan kimia.

Petani berinovasi sendiri, mencoba cara lain, mulai dari mecabuti tanaman yang diserang hama, memasang kelambu menutupi pertanaman, dan memasang lampu perangkap (light trap) yang dikabarkan cukup efektif melindungi tanaman dari serangan ulat. Upaya yang sangat intensif tenaga kerja ini tentu efektif apabila luas pertanaman terbatas. Untuk luasan lebih besar, diperlukan cara lain yang lebih efisien.

Bawang merah termasuk komoditas yang cepat rusak apabila tidak disimpan dengan baik. Cold storage memerlukan biaya mahal, tapi teknologi simpan yang dilakukan petani sampai tahap tertentu cukup efektif.

Nah, semua informasi cukup terang benderang, jadi solusinya juga tidak berada di area gelap. Diperlukan cara pemberantasan hama yang efektif tetapi tetap dapat menjaga kualitas produk dari residu kimia yang berlebihan, penyediaan teknologi prosesing untuk mengolah bawang merah menjadi produk olahan yang bernilai tinggi, dan pelatihan para petani atau kelompok petani untuk mampu memasarkan produk olahannya di dalam negeri maupun ekspor.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018