Thursday, 30 June 2022


Bisnis Raksasa Bernama Pertanian

13 Jun 2022, 10:06 WIBEditor : Gesha

Agribisnis dan milenial | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kita kebanyakan salah mengira kalau bicara tentang pertanian. Pertanian itu adalah bisnis paling kuno karena dimulai sejak manusia turun ke bumi, tapi sekarang disebut sebagai yang paling depan dalam memanfaatkan Teknologi Industri 4.0.

Walaupun porsi tenaga kerja di sektor pertanian turun, akan tetapi pertanian tetap eksis selama manusia ada di muka bumi. Jangan lagi berpikir bahwa pertanian adalah usaha yang sederhana dan sangat tergantung kepada kebaikan alam, karena sekarang sudah melibatkan teknologi tinggi sehingga proses produksi sudah diprogram seakan proses fabrikasi. Di negeri ini pertanian dianggap usaha skala kecil tetapi ternyata melibatkan pekerjaan dan bisnis luar biasa besar.

Pertanian banyak berurusan dengan petani kecil yang masingmasing kemampuan ekonominya rendah. Tapi jumlah mereka sangat banyak mencapai puluhan juta, sehingga kegiatan apa pun yang berurusan dengan pertanian selalu melibatkan pekerjaan besar. Apakah itu program, proyek, anggaran, kredit, sarana, lapangan kerja, bisnis dan perdagangan.

Kebutuhan pupuk, benih, obat-obatan, alsintan, dan modal kerja, secara total sangat besar. Dan diperlukan terus-menerus tanpa jeda, paling tidak berulang setiap musim. Demikian juga perdagangan produk pertanian melibatkan aktivitas yang luar biasa besar. Keuntungan kecil dari tiap kilogram pupuk, benih dan input lain, atau dari beras, bawang merah, kedelai, cabai dan sebut lagi apa pun, secara total nilainya luar biasa.

Dampaknya kalau pertanian tidak berperan? Juga hebat luar biasa. Bisa menghancurkan sebuah negara dan bahkan resesi global. Kita juga menghadapi berbagai kasus kejahatan seperti pemalsuan yang tentu merupakan bisnis haram skala besar. Kita prihatin dan bahkan marah, kasus ini seakan-akan tak bisa diberantas. Padahal sangat merugikan petani. Tak pelak lagi, diperlukan pengawasan yang ketat selain aturan yang tegas agar kasus yang menyengsarakan petani itu tidak terus berulang. Kasus benih palsu yang muncul saat ini sangat menyedihkan padahal petani sedang dilanda bencana serangan penyakit PMK yang menghancurkan ternaknya.

Semoga mereka mendapat perhatian dan perlindungan. Petani, dengan kondisinya yang lemah memang paling mudah diperdaya. Selain karena mereka selalu ingin membeli yang murah karena kemampuan permodalannya lemah, mereka juga kurang mempunyai akses untuk mencari informasi dan mengadu. Mereka berada jauh dari pusat pelayanan informasi. Ini sebenarnya salah satu alasan mengapa peran penyuluh pertanian harus tetap besar untuk memberikan semua informasi yang diperlukan petani.

Dari semua itu bisa disimpulkan bahwa pertanian memerlukan dukungan banyak pihak. Pertanian itu bisnis raksasa. Di sana ada permasalahan sarana, permodalan, pengolahan, industri, dan perdagangan yang semuanya berada di luar kewenangan Kementerian Pertanian. Koordinasi dan sinkronisasi program antar institusi yang mengurusnya itu yang diperlukan, walaupun kata-kata itu paling mudah diucapkan, sangat sulit dilaksanakan.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018