Thursday, 30 June 2022


Antara Pestisida, PHT, Petani dan Penyuluh

13 Jun 2022, 10:25 WIBEditor : Gesha

Babinsa Kodim 1420 Sidrap Lakukan Penyemprotan Hama Padi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Tidak semua orang memahami betapa tekanan yang dialami petani begitu berat. Hama hanyalah salah satunya, tapi masifnya serangan hama yang bisa menghancurkan total seluruh pertanamannya terpaksa harus dihadapi petani dengan segala cara walaupun dengan resiko tinggi.

 Kehidupan petani memang berat, selain hama, iklim, tingginya harga input, gejolak hara harga produk, termasuk resiko mereka terkontaminasi bahan kimia dari insektisida yang digunakannya untuk memberantas hama. Menurut informasi dari berbagai sumber, porsi biaya pestisida untuk tanaman pangan bervariasi sekitar 2,3-31%, tergantung intensitas serangan dan jenis tanaman yang diusahakan.

Pestisida kimia merupakan sarana pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang paling banyak digunakan oleh petani di Indonesia (95 persen) karena efektif, mudah digunakan dan secara ekonomi menguntungkan. Walaupun penggunaannya sangat masif, data penggunaan pestisida di Asia Tenggara termasuk di Indonesia masih sangat terbatas, baik sumber maupun updatingnya (Wisnujati dan Sangadji, 2021).

Sehingga untuk pengawasan dan pemantauan, diperlukan data yang lebih lengkap dan akurat. FAO menyimpulkan bahwa pertumbuhan penggunaan pestisida pertanian di 7 negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Myanmar, Singapura) masih tinggi, khususnya di Thailand dan Malaysia.

Lebih memprihatinkan lagi, hasil kajian yang dilakukan oleh Prof. Dadang bahkan menyebutkan masih banyak penggunaan pestisida yang kurang efektif. Kegagalan dalam pemberantasan hama dengan pestisida masih terjadi. Dan ini terkait dengan pengetahuan masyarakat tentang pestisida. Berdasarkan kajiannya, 41 persen petani menggunakan pestisida yang tidak sesuai dengan hama yang diberantasnya, 12 persen tidak sesuai takaran, 6 persen menggunakan pestisida palsu, dan 23 persen karena hama sudah kebal.

Selain itu, tersedianya pestisida label hijau, yaitu pestisida yang aman bagi lingkungan, hanya melindungi musuh alami dan lingkungan sekelilingnya. Belum mampu melindungi manusia (aplikatornya) terbebas dari resiko terkontaminasi bahan kimia berbahaya. Jika tidak menggunakan pelindung, seperti APD dan taat prosedur penggunaannya, masih banyak petani yang terkena akibat buruk penggunaan pestisida.

Sebenarnya Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang dilakukan secara bersistem, terpadu, terkoordinasi, akan menjadi salah satu solusi bagi petani sehingga sasaran produksi dan ekonomi tercapai tanpa merusak atau membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Dalam sistem pengendalian hama tersebut penggunaan pestisida kimia merupakan alternatif terakhir. Penerapan PHT dapat mengurangi biaya pestisida hampir 40% dibandingkan tanpa PHT (Basuki et al., 2013).

Dengan mengurangi penggunaan pestisida akan dihasilkan produk yang berkualitas, dengan tanpa atau minimal kandungan residu bahan kimia. Semua ini mengingatkan kita bahwa petani tetap memerlukan pengetahuan teknis maupun non teknis, yang biasanya disampaikan penyuluh pertanian. Oleh karena itu Pengamat OPT dan Penyuluh Pertanian harus tetap diberdayakan, didukung dengan pelatihan, informasi dan dana demi kemajuan pertanian. 

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018