Thursday, 30 June 2022


Kurban di Tengah PMK

20 Jun 2022, 14:23 WIBEditor : Gesha

Vaksinasi PMK | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kita dalam situasi penting dan sekaligus kritikal dalam sejarah kurban di Indonesia. Sementara kita memerlukan hewan kurban yang sehat, kuat, sudah dewasa dan besar, dunia peternakan kita sedang berduka karena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) mewabah.

Semangat berkurban tetap tinggi, bahkan pada saat pandemi Covid, walaupun sedikit menurun dari tahun sebelumnya. Askar Muhammad memperkirakan potensi ekonomi kurban nasional tahun 2020 mencapai Rp 20,5 triliun, yang berasal dari 2,3 juta orang per kurban (Shahibul Qurban) di seluruh Indonesia. Angka ini merupakan potensi luar biasa yang menunjang ekonomi nasional. Di Indonesia ada sekitar 5,6 juta keluarga muslim kelas menengah-atas yang 71 persen diantaranya berada di Jawa dan sisanya di luar Jawa. Sekarang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sedang merebak.

Kondisi hewan ternak yang terpapar PMK sangat mengharukan. Ternak yang kuat yang dahulu sering menjadi ternak kerja itu tergeletak tak berdaya, menderita kesakitan. Terbentuk lepuh, bisul serta koreng pada mulut, lidah, hidung, kaki, dan puting susunya. Dan terdapat luka pada kaki dan sela jari kaki. Ternak yang terpapar tidak mau makan dan tanpa pertolongan yang intensif akhirnya mati. Bagi yang bertahan hidup pun PMK mengakibatkan penurunan produksi susu, berat badan, dan buruknya pertumbuhan yang berdampak pada kerugian bagi petani.

Menangani hewan mati tidak masalah. Konon mengonsumsi hewan yang sakit juga tidak akan menular ke manusia karena PMK bukan penyakit zoonosis (menular ke manusia). Tetapi dampak psikologis bagi konsumen pasti ada. Karena mengonsumsi produk hewan sakit adalah hal yang tidak diharapkan. Pedoman penanganan produk hewan terpapar PMK yang disyaratkan oleh World Organization for Animal Health (OIE) membuat “pedoman” tentang prosedur menginaktivasi virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dalam Terrestrial Animal Health Code (OIE 2022) walaupun tidak complicated tapi tidak praktis dan memerlukan waktu.

Intinya adalah pemanasan, sterilisasi, penggaraman produk-produk hewan tersebut untuk menonaktifkan virus. Harapan terbesar tentu saja adalah efektifnya langkah-langkah penanggulangan yang sekarang sangat masif dilaksanakan oleh semua aparat dan lembaga yang berwenang. Percepatan penyebaran wabah ini memang luar biasa, oleh karena itu upaya penanggulangannya juga extraordinary, demikian kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Penyebaran PMK paling tinggi adalah melalui lalu lintas hewan baik melalui darat maupun tol laut.

Pengawasannya tidak sederhana apalagi selalu ada saja peternak yang nekat menerobos jalur tikus. Pengawasan jalur pengangkutan diperketat dan pengadaan vaksin dilakukan. Vaksin sebanyak jutaan dosis ini akan langsung didistribusikan melalui pemerintah daerah dan posko darurat PMK yang diprioritaskan kepada daerah zona merah dan kuning. Semoga semua upaya tersebut segera membuahkan hasil dan mengurangi penderitaan petani maupun ternaknya. Aamiin.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018